Secangkir Kopi dan Panekuk Bersiram Madu

blue-valley

Tidak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini selain menikmati pagi dengan secangkir kopi hangat buatan Heerlijk. Setidaknya, Pat berpikir demikian.

Bertahun-tahun, dia rela menyetir pagi-pagi ketika sinar matahari masih belum terlalu menyengat. Menggelindingkan roda mobilnya melewati peternakan sapi milik tetangganya yang sudah diwariskan kepada generasi ke dua; rumah kayu yang dikelilingi kebun bunga milik sepasang kakek nenek dengan rambut kelabu memutih yang selalu tersenyum dan melambaikan tangan ketika Pat menyapa; sungai kecil dengan jembatan dari batu kali berwarna kusam; hingga berujung ke jalan raya dengan deretan bistro dan toko kecil.

Lalu, dia menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan tua bercat hijau tosca. Sebuah papan kayu bertuliskan frasa Heerlijk yang dipasang tepat di atas pintu masuk, berayun-ayun tak berirama ketika angin berhembus. Harum aroma kopi dan kue-kue manis bergula menyambutnya begitu dia membuka pintu dan masuk ke dalam.

Pat memilih duduk di sudut. Di sebuah sofa berwarna coklat pekat, di depan jendela kaca besar yang menghadap jalan. Dia akan menunggu dengan tenang hingga Liz —perempuan pemilik Heerlijk, berambut brunette dengan tatapan secerah matahari pagi— meracik pesanannya. Kopi dalam cangkir porselen putih serta sepiring kecil panekuk bersiram madu. Kemudian, dia akan mencuri-curi pandang dengan malu-malu saat Liz tersenyum kepadanya. Seperti itulah caranya melewatkan pagi selama bertahun-tahun lamanya.

Lalu, badai pun tiba.

Di suatu pagi, Pat tak lagi menemukan bangunan tua berdinding hijau tosca. Heerlijk hanya tinggal sebuah nama. Wajahnya berganti toko kecil yang menjual aneka perhiasan menawan dari emas yang berkilat-kilat menyilaukan pandangan mata. Tak ada lagi aroma kopi dan gula-gula manis. Tak ada lagi panekuk bersiram madu. Tak ada lagi si matahari pagi.

Sejak saat itu, hatinya menjadi hampa. Harinya berubah murung, seolah-olah ada mendung pekat berona kelabu yang bergelayut tepat di wajahnya.

Pagi sesudahnya, Pat berkeliling. Mencobai satu demi satu kedai kopi yang tersebar di tiap-tiap sudut kota. Namun, tak ada yang senikmat secangkir kopi milik Heerlijk.

Dia merasa luar biasa letih, luar biasa rindu akan aroma manis kopi racikan Liz. Namun, dia tidak akan pernah berhenti mencari-cari. Dia tidak akan pernah menyerah dan berdamai dengan kehilangan.

Pada hari ke seratus, Pat menemukan kedai kopi ke seratus. Itu, adalah kedai kopi terakhir yang belum dikunjunginya di kota ini. Dia tak lagi menaruh harapan yang melambung tinggi tentang kedai kopi ini, seperti sebelum-sebelumnya.

Ketika membuka pintu, terdengar bunyi berdencing dari atas lonceng yang dipasang di atas kusen. Kemudian, Pat melihatnya di sana.

Perempuan dengan tatapan secerah matahari pagi.

Liz tampak terkejut ketika Pat berjalan mendekat lalu bertanya,”Kamu punya secangkir kopi—?”

“—Dengan panekuk bersiram madu,” Liz menyela sebelum Pat menggenapi kalimatnya. Perempuan itu mengangguk dengan senyuman yang tak dapat disembunyikannya dengan baik. Kemudian, dia bertanya,”Apakah kau sangat menyukai kopi?”

Pat mengiakan.

“Kenapa kau bisa sangat menyukai kopi?”

“Saya rasa—,” Pat tersenyum, menahan-nahan debar jantungnya yang berdentum-dentum memburu,”— itu karena kamu.”

Keheningan mengambil alih suasana. Tatapan mereka bertemu, bertaut di udara. Kemudian, Liz mengulurkan tangan.”Liz.”

Pat tertegun sejenak. Dia menerima uluran tangan perempuan itu.”Pat.”

Dia, telah menemukan lagi matahari pagi-nya.

 

“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”

Allegiant – Veronica Roth

I have finished my Allegiant. And…. i’m nearly burst into tears 😥

Ah, rasanya susah buat hindarin spoiler di sini.
This is it. Buku terakhir dari trilogi Divergent : Allegiant. Buku pamungkas yang sukses bikin saya pingin misuh misuh ketika menutup lembar terakhir.
Oke… i’m sooo last decade. Hare gene baru mau review Allegiant?  Kemana aja, ngana?

Saya menyelesaikan baca Allegiant sekitar satu minggu. Waktu yang lama ya? Ho oh. Bacanya pas di sela sela pulang kerja nunggu dijemput Mr. Muhandoko.

Jadi ceritanya, di akhir Insurgent, Tris berhasil membuka kotak yang berisi pesan dari Edith Prior, ‘sesepuh’ dari kota faksi. Yang bilang kalo di luar Chicago, para divergent sangat dibutuhkan. Kemudian, kota dikuasai oleh factionless yang dipimpin oleh Evelyn, menggantikan tirani Jeanine Matthews. Sistim faksi dihapus. Kota mencekam. Evelyn ternyata tidak lebih baik dari Jeanine. Pun dari Marcus.
Dan lahirlah Allegiant yang dipimpin Johanna, eks pimpinan Amity. Allegiant terpilih bertugas menyusup ke dunia luar. Menanggapi pesan dari Edith Prior.

Bisa ditebak kan siapa saja para Allegiant terpilih? Yep yep yep. Most of them are Dauntless.
Tris, Four (pastinya), Tori, Peter, Christina, Caleb, Cara, and Uriah.
Sadly, ada yang terbunuh. Every fight needs sacrifice. *aaahh…kenapa sih dia yang mati? kan sedih T.T *
Di dunia luar, mereka menemukan fakta mengejutkan. Juga tentang masa lalu orangtua Tris dan Caleb. Ternyata Chicago adalah…. ah baca sendiri aja deh…

Oke… mungkin di luar sana bertebaran review tentang “gemes” nya pembaca Veronica Roth pada buku ini. Sama, saya juga. Allegiant menggunakan dua sudut pandang. Tris dan Tobias. Yang mana ‘suaranya’ nyaris sama. Kadang kalo ngelanjutin bacaan nanggung, saya liatnya dari penggunaan he dan she dalam narasi. Kalau berkali-kali he disebut,berarti saya lagi menyelam dalam narasi Tris. Begitupun sebaliknya. Meski di awal udah dikasi clue siapa yang lagi bicara. Kadang saya lupa. Hahaha… awas ya nyet, kalo ada yang bilang saya mulai pikun 😀

Saya jadi tau, Four tenyata cemen, men! Jadi cowok labil banget. Lupakan betapa garangnya dia di Insurgent dan Divergent. Kali ini, duuuhh… duh akang Four… yaa mungkin karena dia merasa dibuang oleh ibunya sendiri. Dianiya oleh bapaknya sendiri. Dan dia menemukan kenyataan bahwa dia ternyata berbeda dari Tris. *puk puk Four… sini pelukan sama saya aja…eehhh 😛
Tapi, saya jadi bisa ikut ngerasain betapa besarnya rasa cinta Four pada Tris. Begitupun sebaliknya.

Soal sibling, well… Caleb dan Tris memang saling menyayangi. Pada akhirnya, slogan faction before blood terpatahkan.

When I look at him, I see the boy who held my hand in the hospital when our mother broke her wrist and told me it would be all right. I see the brother who told me to make my own choices, the night before Choosing Ceremony.

“Caleb,” I say,” I love you.”
His eyes gleam with tears as he says. ” I love you, too, Beatrice.”

“If I don’t survive,” I say,” Tell Tobias I didn’t want to leave him.”

Meweekk… 😦 Sebenarnya, saya pengen Tris dan Caleb lebih bisa mengungkapkan kalau mereka saling sayang sebagai sodara. Tapi yaa…

Dan Peter…. hei Peter! Saya jadi suka sama Peter sejak di Insurgent. Ah, sayang… porsi dia di bagian ending gak begitu banyak. Peter sih emang yaaa…susah ditebak. Perpaduan antara pengen ngejitak sama pengen pukpuk karena rasa rasanya dia gak punya temen. Etapi, sepertinya dia lebih sering sama Caleb sih daripada sama temen lain.

And…Eric! Eric was my worst nightmare. Dan jelas donk, di buku ini Eric gak bakalan muncul. Tapi, saya suka sama aktingnya Eric lho…. kejem kejem ngegemesin gimanaa gituu… *apaan cobaaa 😛

Did I say too many spoiler here? Well, I’m really sorry.
Jika kalian penggemar Divergent sejati, meski udah ngintip spoiler dimana mana, sensasi mencicipi bukunya sendiri jauh lebih menggoda.

Abnegation, Amity, Candor, Erudite, or Dauntless?  If I’m in into the city on the day they held the Choosing Ceremony, which one do I choose?
Amity, perhaps? Karena saya cinta damai. Hohoho 😀
So, what’s yours?

signature 2

Antologi Kedua

gambar diambil dari sini

Hoolaaa… I’m back!
Pfiiuhh… *lap keringet* setelah mini escape sama Mr. Muhandoko, dari hari Jumat-Minggu, akhirnya balik lagi ke Surabaya. Detailnya saya.ceritain entar aja 🙂

Karenaaaa….sekarang saya mau cerita tentang antologi baru saya. Jadi, ceritanya, waktu itu nulisbuku ngadain nulis antologi gitu lah. Karena genrenya romance, saya cobain iseng ikut *ngook*

Pengumuman kontributor terjadwal tanggal 27 Februari. Karena pada tanggal itu saya lagi ‘jalan’, dan tentunya sengaja mematikan ponsel, maka baru besoknya lah saya kepoin hasil penjurian. *diihh…bahasaku*
Nah, kebetulan pas di hotel dapet wifi gratis, jadi lumayan bisa numpang kepo :p

Kalo gak salah, dari 1.025 cerpen yang masuk… kira-kira saya masuk gaak yaa…
*sibak poni*
*sisiran*
*guntinginkuku*

Eh eh eh… setelah ngintip di sini, aah..ada nama saya. Baru masuk ke buku delapan sih. Buncit banget ya 🙂

Beidewei eniwei buswei, ini buku antologi kedua saya. Antologi pertama edar di toko buku. Antologi kedua edar secara online di nulisbuku *diihh…baru dua aja udah pamer* gapapalah yaa 😀
Anggap aja sebagai kado ulangtahun 😀

Mengenai antologi sendiri, ada sedikit pro kontra di kalangan temen-temen saya. Gak tau kalo temen kalian gimana :p

Yang kontra : diihh…ngapain ngikut antologi? Itu cuma trik penerbit aja.biar ada bahan terbitan.
Toh, situ juga gak dapet royalti pribadi. Seluruh royalti yang masuk akan disumbangkan.

Opini saya : well…namanya juga cinta tulis menulis. Anggap aja berkompetisi di antologi adalah pembelajaran agar tulisan kita semakin matang *tsaaahh* .

Anggap juga belajar pede, belajar berkompetisi, belajar memenuhi deadline. Belajar menulis rapi dan matang.
Sekarang sih, baru menyadari baca tulisan penuh typo dan kalimat yang gak konsisten itu duuhh….obat sakit gigi mana … *mpreetss.. gayamu Naa :p

Belajar gak sombong juga. Dari 1.025 tulisan yang masuk, hanya diterima 200an kontributor, eh nama saya baru ada di buku ke delapan. Buncit banget ya? Haha 😀
Artinya? Masih banyak karya lain yang lebih bagus dari kita. Jadi, yaa…harus lebih serius lagi berkarya.

Apapun pendapat kalian, Gaess…no offense ya…kita tetep temenan kok *pelukan teletubbies*

Namanya juga…writer in making… ihik ihik ihik.

Ayok semangat nulis lagi ya 🙂 Betewe, enaknya saya pakai nama pena apa ya ? Any ideas ?

signature

Interlude Windry Ramadhina

interlude

Judul buku : Interlude
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Halaman : 372

Hanna, listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect and she hates it.
Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak.
Kemarilah, aku akan menjagamu, asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

“Waktu tidak akan berputar ulang. Apa yang sudah hilang, tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang.”
Aku ingat kata-katamu itu, masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek. Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?

Kilat rasa tak percaya dalam matamu, membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri.
Tapi, sungguh, aku mencintaimu, merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya?
Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu?
Hatiku baru saja patah…

Huaa..setelah selesai menutup lembar terakhir dari Interlude, perasaan sesak yang menghimpit mendadak menguap. Lega. Haru.
Kai – pemuda yang meminjam nama laut – tidak memiliki tujuan hidup. Keluarganya berantakan. Kuliahnya terancam drop out. Meski ia suka musik, tapi tidak punya tujuan khusus berkarir di musik. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang gadis bernama Hanna.
Hanna punya ‘luka’ masa lalu. Membuat ia takut menatap masa depan. Juga sangat takut ketika berdekatan dengan lelaki.
Kai yang suka ‘menyentuh’ wanita, dipertemukan dengan Hanna yang tidak bisa ‘disentuh’ laki-laki.
Hanna, si Gadis dari Ipanema. Ketika Kai mempersembahkan lagu untuk gadis sempurna di meja nomor sembilan, hahahah kenapa jadi saya yang tersipu malu ya 😛
Saya suka. Suukaa sekali sama Interlude. Ini adalah novel kedua dari mbak Windry Ramadhina yang saya baca setelah Walking After You. Dan, jujur, saya lebih suka sama Interlude. Padahal, Interlude masuk ke dalam daftar buku yang males saya beli pada awalnya. Yaa begitulah, batas antara benci dan cinta itu tipis sekali :p

Untuk tokohnya sendiri, saya lebih suka sama Jun. Jun dan Gitta adalah rekan band jazz dari Kai.

Halaman 45 :
Jun, pemuda itu, berdiri di samping mereka berdua, mengenakan setelan rapi dan menenteng tas kerja. Tubuh pemuda itu tinggi. Rambutnya cepak, tetapi tidak sependek rambut tentara. Matanya agak sipit, mengintip dari balik lensa minus yang tidak berbingkai. Dagunya kecil. Bibirnya tipis.
” Ah, akhirnya akuntan dengan karir menjanjikan ini datang.”

Hal 154 :
Jun tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan pemuda Second Day Charm yang satu lagi. Hanya saja, Jun tidak memanfaatkan daya tariknya untuk mengecoh perempuan. Padahal, dia punya semua yang bisa diharapkan dari seorang lelaki ideal. Pekerjaan dengan gaji tinggi, mobil, apartemen di pusat kota, sikap, bakat, tampang. Dia punya mata yang teduh serta senyum yang hangat. Dan, dia punya bibir paling sedap yang pernah dicicipi oleh Gitta.

Yaaa… Gitta, Kai, dan Jun punya semacam kisah cinta segitiga. Gitta dan Kai pernah bersama. Tapi, itu hanya kisah-cinta-sepintas-lalu. Kai, tidak pernah serius dengan wanita, sebelum akhirnya bertemu Hanna. Hal ini membuat Gitta merasa harus melindungi Hanna. Ya, mereka adalah tetangga satu apartemen. Gitta mengetahui masa lalu Hanna yang kelam.
Jun mencintai Gitta, tapi demi alasan klasik – keutuhan band – Gitta memilih berkencan
dengan pria lain. Ian. Pria yang yaahh… menurut saya tidak layak disebut sebagai pria. Karena dia suka memukul wanita.
Pesen nih ya, jangan pernah mau menjalin hubungan dengan laki-laki yang suka mengkasari wanita baik secara fisik maupun psikis. Orang kayak gitu suruh pake rok aja.

Untuk jalan ceritanya sendiri, mbak Windry pinter deh meracuni pembaca dengan membawa ‘atmosfer’ konfliknya. Saya bisa merasakan rapuhnya Hanna, seperti memegang porselen yang jika salah nyenggol dikit aja bisa langsung pecah berkeping-keping. Pipi bisa ikut memerah ketika Kai menggoda Hanna :’)

Saya bisa tersenyum saat Kai lagi kumat bengalnya. Pun bisa ikutan nyesek ketika dia memperjuangkan keutuhan pernikahan kedua orang tuanya.

Dan, heei Gitta… selama ini ada pria lembut yang mencintaimu diam-diam. Ooohh… kenapa justru saya yang terpesona sama Jun. Mengingatkan saya akan tokoh yang dimainkan Yong Hwa pada film Heartstring :’)

Saya irii sekali ketika mengetahui bagaimana keempat orang ini saling menjaga sahabatnya satu sama lain.

Dear mbak Windry,saya suka suka sukaaa sekalii sama Interlude. Ada harapan, cinta, keluarga, dan persahabatan di dalamnya. Pokoknya kece deh. Saya menemukan hal baru dalam setiap lembar halamannya. Tidak dijejali dengan percakapan klise dan pengulangan narasi yang membosankan. Daaann… tidak afdol rasanya ketika membaca novel tapi tidak mengubek – ubek blog si penulis. Hehehe… di sini mbak Windry bikin sketsa tentang Kai, Hanna, Gitta, dan Jun. Hahahaha saya ini galau yaaa…orang ini fokus ceritanya ke Kai.. saya malah naksir Jun 😛

gambarnya diambil dari blognya mbak Windry

Four stars and happy reading :-*

Psstt .. seandainya saja yaa lagu ‘Hanna’ bisa jadi lagu beneran. Hihihihi

Walking After You – Windry Ramadhina

Walking After You

2014-12-29 09.14.44
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Pertama, 2014
Jumlah halaman : 318

‘ Kau tak perlu melupakan masa lalu.
Kau hanya perlu menerimanya.’

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali padanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkah kau merasa seperti itu?
Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia.Pernahkah kau seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka?

Mungkin, kisah An seperti kisahmu. Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

Huaaa…. setelah selesai menutup lembar terakhir dari Walking After You, saya menyatakan diri resmi menjadi fansnya mbak Windry Ramadhina. Membaca buku ini, serasa ada sensasi nonton kompetisi masak ala ala master Chef. *abaikanopiningawurini*
An dan Arlet adalah saudara kembar. An penyuka masakan Italia, sedangkan Arlet penikmat kue Prancis.Hebatnya mbak Windry, dia menghubungkan kesukaan An dan Arlet menjadi ciri khas mereka masing-masing.
Arlet penyuka kue manis. Jadi, pembawaannya juga manis, lembut, dan cute. Dia punya motto :
satu sendok krim bisa menyelamatkan harimu. Dia suka segala sesuatu seperti shabby chic, vintage. *eh bener gak ya? karena saya sempet ngintip inspirasi tentang Arlet di pinterest-blog nya mbak Windry, jadi saya menyimpulkan seperti itu* Arlet, you’re so sweet :’)
An, seperti masakan Italia. Menyala bak rempah-rempah. Bayangkan kalian lagi makan pasta, maka seperti itulah ‘taste of An’.
Mereka hidup bahagia sebagai sepasang saudara kembar. Sama-sama punya passion menjadi koki. Dan suatu saat, ingin mendirikan trattoria mereka sendiri. Such a lovely life, isn’t?
Sampai suatu ketika, mereka jatuh hati pada pria yang sama. Jinendra.
*sini-sini, Jinendra sama saya aja biar kalian gak rebutan gitu. #eehh *
ketika itulah urusan jatuh cinta yang harusnya manis dan berbunga-bunga berubah menjadi mimpi buruk.

Susah buat gak spoiler di sini 😥

An, harus melepas masa lalu. Ia melanjutkan hidup dengan bekerja di Afternoon Tea. Tempat dimana kau bisa menikmat souffle terenak buatan Julian. Koki kue ganteng di Afternoon Tea yang terlalu-kelewat-amat-serius. Apa yang selanjutnya terjadi? Dapatkah An berdamai dengan masa lalunya?
Hayook… segera miliki novelnya di toko buku terdekat. Dan segera baca ditemani segelas coffee dan rinai hujan *ala ala promo album* .

Novel ini terlalu ‘manis’ untuk bisa saya ceritakan. Kalian harus ‘mencicipinya’ sendiri.

Di sini, mbak Windry memasukkan salah satu unsur novel London di Afternoon Tea. Dialah Ayu! Si Pembawa Hujan.
Psst… saya belum membaca London, dan setelah mengetahui betapa ‘kelabu’ nya si Ayu, saya jadi pingin baca London. *ada yg mau endorse? ahak ahak*
Overall, diksi yang disajikan mbak Windry mampu membuat saya ‘meleleh’.
Serasa bisa bayangin nikmatnya pasta buatan An dan souffle ala Julian. Saya gemes banget sama tingkahnya Julian. Aw.. dia manis sekali 🙂
Namun, ketika membaca part Jinendra, mendadak atmosfernya berubah ‘dewasa’. Hehehehe.

Good job, mbak Windry. Four stars.
Happy reading.

Bramastha – teaser 2

Bramastha membolak – balik lembaran kertas putih berisi sketsa hasil karyanya. Coretan tangan hotel Majapahit. Sebagai seorang arsitek, Bram begitu memuja bangunan kuno dengan desain klasik. Terlebih yang mempunyai benang merah dengan kisah sejarah. Bram tahu betul, hotel Majapahit yang dulunya bernama hotel Oranye adalah saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah. Meski mengalami restorasi secara menyeluruh pada tahun 1996, tapi gaya art deco klasik tetap dipertahankan hingga kini.
Sore ini, setelah puas memandangi detail eksterior dari Hotel Majapahit, Bram sengaja melewatkan senja yang kelabu di sebuah coffe shop bergaya vintage di tengah kota. Sembari menganalisa coretan sketsa tangan dan hasil foto kamera digital miliknya, Bram menikmati secangkir latte hangat. Perpaduan ‘kencan’ yang sempurna.
Bramastha senang menyendiri. Ia mencintai pekerjaannya. Ketika menikmati hidangan makan siang ataupun malam, maka ia akan sibuk menganalisa restoran tempatnya berada. Mulai dari gaya dekorasi, pemilihan furniture, hingga pemilihan warna. Bram suka menjelajah gedung-gedung tua di kota tempat ia kebetulan singgah. Ia akan mengambil gambar sepuasnya, membuat sketsa dari tangan dinginnya yang seringkali disebut ‘tangan Midas’ oleh para kliennya. Ia akan berangkat tidur membawa pikiran tentang pekerjaannya. Lalu bangun keesokan paginya dengan ide-ide baru yang segar entah darimana asalnya. Benar-benar segar. Sesegar ikan laut yang ditangkap para nelayan langsung dari habitatnya.
Selain tersita oleh pekerjaan, nampaknya pikirannya sore ini mulai bercabang. Ia rikuh saat melihat seorang gadis yang duduk di depannya berkali-kali menatap hujan melalui jendela kaca. Bram merasa gadis itu rapuh. Pandangan matanya yang mulanya kosong, berubah berbinar ketika seorang lelaki muda datang menghampiri. Bram mencuri pandang. Gadis itu menyeka wajah si lelaki muda dengan penuh cinta.
Cinta?
Bram merutuk diri sendiri. Beraninya ia menyebut kata cinta. Padahal sesungguhnya ia begitu membenci cinta. Ia hanya berani mencintai pekerjaannya. Bukan yang lain. Titik.
Bram menghela napas. Ia mulai berkonsentrasi pada lembar – lembar sketsa di hadapannya.
” Yu, sori lama.”
Ah, si lelaki memanggil si gadis dengan sebutan Yu. Mata Bram melebar. Ia tidak menyangka telinganya bisa selancang ini mencuri dengar keintiman orang lain. Bram merasa wajahnya memanas. Malu.
Ia semakin berkonsentrasi pada kertas-kertasnya. Menajamkan penglihatan. Menulikan pendengaran. Ini adalah salah satu jurus andalannya ketika bekerja.  Dan sejauh ini selalu berhasil.
Bram meraih pensil karbon yang ujungnya baru saja diserut. Ia menorehkan garis-garis baru. Menindas garis lama. Membentuk sketsa baru yang tak kalah memukau dari sketsa lama.
Ia merasa desiran angin mencolek lembut tengkuknya tepat ketika si gadis bernama Yu melewatinya. Bram mengangkat kepala. Lehernya berputar mengikuti arah langkah si gadis. Yang berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya mencengkeram erat pegangan pintu yang berdesain ukiran berwarna emas. Dalam sekali lihat, Bram berhasil mengenali pegangan pintu tersebut adalah buatan luar negeri.
Bram tak tahu,apa yang tengah dipikirkan si gadis. Yang jelas, pandangan mata Bram nyata-nyata menangkap air mata yang jatuh dari sudut matanya. Bram tersentak. Gadis itu mendorong pintu dengan susah payah. Lalu segera berlari menembus hujan.
Bram menarik napas. Ia meletakkan pensil karbon yang sedari tadi digenggamnya. Lalu menempelkan lengannya yang tertekuk di atas meja. Ekor matanya melirik payung warna hitam yang terlipat rapi tepat di sampingnya. Dan ia tertegun. Merasa kilatan tentang memori masa lalu mendadak menampar sudut hatinya.

Parasayu – teaser 1

Sudah setengah jam Parasayu termenung di sini. Di sebuah coffe shop bergaya vintage di tengah kota. Dengan wangi kopi , coklat, dan aneka penganan manis bergula yang bercampur menjadi satu. Parasayu duduk di sudut. Di sebuah sofa empuk warna coklat tua, yang sandarannya menempel pada dinding pembatas antara area pengunjung dengan pantry. Melalui jendela kaca dari tempatnya kini, Ayu bisa melihat lalu lalang pejalan kaki. Awalnya mereka berjalan dengan tenang. Dengan langkah teratur tapi tak berirama. Lalu langkah – langkah kecil tersebut semakin melebar. Berubah menjadi sepasang kaki yang berlarian sembari menutup kepala mereka dengan salah satu tangan.
Ayu mendongakkan wajah. Ia baru menyadari bahwa awan kelabu telah berubah menjadi rintik hujan. Jemarinya terangkat. Ujungnya menyusuri jendela kaca. Dengan sekali hembusan napas, noda bak embun tak beraturan pun muncul.
” Yu, sori lama.”
Parasayu memutar kepala. Didan telah duduk tepat di depannya. Lelaki muda itu melepaskan jaketnya yang tampak sedikit basah. Ia mengibaskan rambut. Percikan airnya mengenai Parasayu. Membuat gadis itu tertawa riang.

Tangan Parasayu terulur. Menyeka wajah Didan dengan beberapa lembar tissue yang dilipat jadi satu, ” Nikah yuk, Dan.”
” Ayuk, ” Didan tersenyum simpul. Tangannya terangkat. Meraih lengan Parasayu yang masih sibuk menyeka wajahnya. Lalu Didan menggenggamnya erat, ” Tapi tidak sekarang.”
” Kenapa?” Parasayu merasa kerongkongannya mengering,” Umurku hampir kepala tiga. Orangtuaku pun sudah mendesakku agar segera menikah.”
Parasayu mendengar lelaki di hadapannya kini menghela napas, ” Aku masih belum siap secara finansial.”
” Tapi, kita kan sudah sama – sama bekerja,” Parasayu mencoba menawar. Dan ia sadar,konsekuensinya adalah ia bisa saja dicap sebagai wanita kelewat tak laku yang memaksa seorang laki – laki untuk segera menikahinya. Meskipun Didan adalah kekasih yang sudah menemaninya selama dua tahun ini,” … kita bisa sama – sama berusaha. Aku akan membantumu.”

” Tidak mau! Aku laki – laki. Dimana harus kuletakkan harga diriku jika aku dibiayai seorang wanita? Apa aku harus menyembunyikannya?  Menguncinya rapat – rapat dan berpura – pura lupa pada kenyataan bahwa kodrat lelaki adalah sebagai pemimpin wanita?”

” Aku tidak sedang mencoba untuk memimpinmu, ” suara Parasayu tersendat, ” kita bisa memulai semuanya dari awal. Bersama – sama.”

Parasayu merasakan genggaman tangan Didan mengendur. Semakin tak bertenaga. Lalu terlepas sama sekali. Menyisakan segurat kekecewaan di mata Didan yang nyata – nyata ditunjukkannya kepada Parasayu.

” Kalau kau ingin menikah. Silakan saja. …, ” suara Didan bergetar di antara nada ketegasan seorang lelaki muda, ” … tapi tidak denganku.”

Parasayu merasakan kesunyian yang mendadak mencengkeram. Ia seolah tak bisa mendengar apapun. Pandangannya mengabur. Menyisakan Didan sebagai fokus utamanya. Aroma kopi yang mulanya mendominasi, segera saja tergantikan oleh aroma Didan. Aroma yang. .. tidak dapat dijabarkan Parasayu dalam wujud kata – kata. Menggelitik hidung. Lalu menghunjam tepat di jantung. Bercokol kuat di sana. Seperti rindu yang tak berujung.

” Kau. .. ” Parasayu berusaha meraih kesadarannya kembali. Ia tak percaya harus mengucapkan kalimat tabu,” … mencampakkanku?”

Didan membuang muka. Menerawang jauh ke jalanan dimana air hujan masih terus mengepung manusia – manusia di luar sana, ” Jangan cengeng. Aku tidak suka kalau kau merajuk.”

” Aku tidak merajuk, ” bela Parasayu, ” Apakah menyampaikan gagasan tentang pernikahan adalah sebuah rajukan?”

” Ya.  Setidaknya bagiku.”

” Kita sudah bersama selama dua tahun. Usiaku sudah lebih dari cukup, ” Parasayu mencoba menguasai diri,” Orangtuaku ingin agar aku segera menikah.”

” Mungkin aku yang salah. Telah memilih seorang wanita yang usianya jauh di atasku.”

Parasayu mengangkat wajahnya. Ototnya menegang. Ia mencengkeram ujung bajunya yang terjuntai di atas celana. Cengkeraman tangannya semakin mengetat. Membentuk lekukan tulang jari – jemari dengan sempurna. Ia menatap Didan dengan seksama. Dan ketika tatapan mereka bertemu, Parasayu berusaha mencari – cari kebenaran di balik ucapan Didan. Sampai akhirnya ia merasa lelah.
Parasayu bangkit dari duduknya. Menatap hot chocolatte miliknya di dalam sebuah cangkir warna coklat polos tanpa ornamen. Hot chocolatte itu telah menemaninya menunggu Didan sore ini. Uapnya telah menghilang. Aromanya tak lagi menguar.
Tanpa mengucapkan selamat tinggal, Parasayu berlalu dari hadapan Didan. Sepatunya beradu dengan lantai parkit kayu saat melangkah. Ia sejenak menghentikan kaki saat menyentuh pegangan pintu kaca. Ia ingin agar Didan mengejarnya. Namun, lelaki itu tetap mematung.
Parasayu mendesah. Sudah saatnya mengakhiri semua. Ia mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Dengan sisa – sisa harga diri seorang wanita yang masih melekat. Hawa dingin segera mencucuk persendiannya. Bau tanah basah menggelitik penciumannya. Parasayu tidak peduli. Ia meletakkan satu telapak tangan yang tertangkup tepat di atas kepala. Lalu berlari menembus perisai air hujan.

Setidaknya di bawah hujan, ia lega bisa menyembunyikan air matanya yang mendesak turun.

” postingan dalam rangka mencoba keluar dari zona nyaman menulis ala ala slengek’an 😛 “

Can You Keep a Secret ? Sophie Kinsella

c2o_resizedcover

Data Buku
Judul                    : Can You Keep A Secret?
Penulis                 : Sophie Kinsella

Emma Corrigan – tipikal wanita muda yang udah jadi trademarknya novel neng Kinsella : bodor, too stupid too live, seru, spontaneous, baik hati – punya segudang rahasia. Bukankah semua orang juga punya rahasia? Rahasia si Emma ini, yaaa tipe tipe rahasia standart lah.

Rahasia di tempat  kerja : mecahin mug kesayangan si Paul, suka dan selalu bikin mesin fotokopi macet, selalu menyiram tanaman kesayangan Artemis – hanya jika dia kesal sama Artemis, dimana frekuensinya sering banget -, memalsukan nilai matematika di ijazah saat apply lamaran kerja. ( yang ini lucu nih, ada adegan dimana Jack iseng nanyain perkalian matematika ke Emma 😛 )

Rahasia dari orangtuanya : bahwa Sammy bukan ikan yang sama dengan yang dimiliki ibunya, she lost her virginity with David Nussbaum disaat ortunya lagi di ruangan sebelah lagi nonton Ben Hur. Ouuch..

Rahasia dari sahabatnya : dia pernah punya mimpi ‘aneh’ tentang Lissy, dia selalu meminjam barang bermerk milik Jemima tanpa bilang bilang.
Rahasia dari pacarnya : eerr…. haruskah saya review di sini juga ? 😀

Dan Emma tanpa sengaja ‘menyemburkan’ semua rahasianya kepada pria asing di sebuah pesawat. Calm down, he’s just a stranger, rite?
Ekata siapaa… ketika Emma datang ke kantor esok harinya, guess what? Si pria ‘tak dikenal di pesawat’ itu juga muncul di kantornya. He’s Jack Harper. Pemilik perusahaan tempat Emma bekerja! Emma langsung panik. Dia takut Jack membocorkan semua rahasianya. Lucunya sih, di depan orang lain Jack sama Emma pura – pura tidak saling mengenal. Tapi, Jack selalu berhasil memanfaatkan rahasia Emma untuk ‘ngerjain’ Emma. Mungkin bisa ditebak, kalau akan terjadi aura romance antar kedua tokoh ini.

Dan oh, saya sebenarnya agak bete sama Emma. Karena dia mutusin Connor, pacarnya,  tanpa alasan yang jelas. Dan saya bersyukur, si Connor dapet pengganti Emma. Apaaa yaa… Connor baik bla bla bla. Kenapa Emma mutusin gitu aja. Dan besoknya si Emma udah nerima ajakan kencan dari Jack. Saya paling benci sama orang kayak gini 😛

Ups… apakah saya spoiler di sini?  Yang jelas, cerita ini agak susah ditebak. Karena karakter Jack yang terlalu misterius hingga menjelang lembar – lembar terakhir. Twistnya oke. Dan ada satu adegan favorit saya dimana pas Emma dan Jack bertengkar di tempat umum ( karena kesalahan Jack ), ada line conversation yang uughh… soo romantic deh bagi saya. hehehe.

“ Everyone was laughing at me. Everyone was teasing me, in the whole office. Artemis was teasing me -“

“ I’ll fire her.” Jack cuts me off firmly.

“ And Nick was teasing me – “

“ I’ll fire him too ,” Jack thinks for a moment ,” How about this : anyone who teased you, I’ll fire.”

“ You won’t have a company left.”

“ So be it. That’ll teach me. That’ll teach me to be so thoughless.”

Tuuh kaan… selera romantis saya emang aneh ya :p

So far, ini adalah buku Sophie Kinsella ke empat  yang saya baca.  Kebanyakan, saya baca yang versi ebook berbahasa english. Tenang aja, bahasanya ringan kok, gak bikin  sering sering buka kamus. Dan emang lebih dapet ‘feel’ nya dibanding yang terjemahan. I love the way Emma said : Fu*k bolak balik. Hehehehe 😀

Satuu lagi… menurut saya, karakter setiap tokoh utama cowok di novel Kinsella are almost perfect. Coba tengok Luke Brandon, Sam Roxton, dan sekarang Jack Harper. Dan tokoh utama wanitanya rata – rata seperti yang sudah saya sebutkan di atas ya. Coba intip si Becky Bloomwood, Poppy Wyatt, dan sekarang Emma Corrigan. Tapi, entah kenapa, saya tetep aja cinta sama semua novelnya Kinsella 😀
Well, great job neng Sophie Kinsella.
Four stars and Happy reading.

REVIEW TENNIS PARTY MADELEINE WICKHAM

Penulis                         : Madeleine Wickham / Sophie Kinsella Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama Tebal                           : 352halaman ISBN                            : 978-979-229-216-9 Sabtu musim panas yang menyenangkan. Empat pasangan berkumpul untuk bertanding tenis. Perkenalkan tuan rumahnya: Patrick si OKB dan istrinya, Caroline, yang norak dan blak-blakan. Mereka mengundang sahabat-sahabat lama, sekaligus ingin memamerkan rumah baru mereka di pedesaan. Perkenalkan para tamunya: Stephen dan Annie, mantan tetangga mereka yang hidup pas-pasan; Charles si pendaki jenjang sosial dan Cressida, istrinya yang berdarah bangsawan; Don dan Valerie, ayah-anak yang sangat kompetitif. Ketika bola pertama dipukul melewati net, dimulailah akhir pekan yang penuh minuman, godaan, penipuan, serta pengungkapan yang mengguncang. Jelaslah bahwa pesta ini bukan sekadar soal pertandingan tenis. Review : Patrick dan Caroline Chance adalah OKB. Mereka menjadi ‘kaya’ karena pekerjaan Patrick sebagai penjual investasi. Keluarga Chance pindah dari Seymour Road ke pedesaan di Bindon. Mereka tinggal bersama anak tunggal mereka, Georgina. Saat musim panas tiba, mereka mengundang para sahabat untuk sekadar bermain tenis sekaligus memamerkan rumah baru keluarga Chance. Kalo membaca deskripsi penulis sih, saya bayanginnya rumah keluarga Chance ini luas dan megah. Ala ala rumah keluarga bangsawan Inggris deh. Dengan padang rumput tempat Georgina bisa menunggang kuda poni, kamar kamar yang luas dan mewah dengan sprei satin mengkilat. Serta taman bunga luas tempat terjadinya salah satu ‘tragedi’ di pertengahan cerita novel ini. *awas spoiler*. Sebenarnya sih, Caroline ini cinta banget sama Patrick. Saling mencintai. Taaapii….Caroline adalah tipe ‘ibu ibu sosialita masa kini’. Dia gengsi banget buat nunjukin kalau dia itu sebenarnya cinta sama Patrick. Dan si Caroline ini pintar menyembunyikan perasaan. Dia juga setia kawan. Kalau Patrick sih, wooohh mungkin bisa dibilang dia ini ‘biang keladi’. Gara – gara Patrick yang kekeuh ngejar bonus dari penjualan asuransi, dia nekat dan merasa sah – sah aja mengelabui sahabatnya agar mau membeli produk investasinya. Bahkan, bisa dibilang pesta tenis ini diadakan Patrick demi modus tersebut. Pasangan Stephen dan Annie Fairweather adalah keluarga yang biasa – biasa saja. Bahkan, Stephen tidak punya pekerjaan karena ia sedang mengejar gelar Doktornya. Mereka juga mempunyai anak perempuan yang berkebutuhan khusus, sehingga memerlukan perhatian dan dana lebih. Keluarga ini menurut saya keluarga yang awalnya oke. Stephen dan Annie sayang dan kompak dalam mengasuh kedua anaknya. Annie bahkan oke oke saja dan nriman meski suaminya tidak bekerja. Awalnya Stephen juga oke, tapi ketika bertemu dengan teman temannya yang pada sukses semua, mulai deh timbul rasa tidak percaya diri, rasa iri. Dan ini memicu Stephen untuk melakukan tindakan yang di luar logika. Don dan Valerie Roper adalah ayah – anak tetangga dari keluarga Chance. Mereka ayah – anak yang sangat kompetitif. Terlebih lagi si Don. Dia tipe orang yang gak mau kalah sama orang lain. Lalu yang terakhir adalah Charles dan Cressida Mobyn . Mereka adalah pasangan yang terlihat paling kaya di antara semuanya. Charles rela meninggalkan mantan pacarnya, Ella, demi bisa  menikah dengan Cressida yang kaya dan keturunan bangsawan. Cressida ini tipikal wanita anggun. Wajah dan ekspresinya datar datar aja. Dan, dia berusaha sebisa mungkin tidak terlalu dekat dengan orang lain. Tapi dia ini begonya ampun deh 😛 Charles yang awalanya okay saja menurut saya, dia digambarkan tipe pria penyayang keluarga. Suka gendong anak kembarnya ke sana ke mari. Easy going dan ramah. Tapi, akhirnya ketauan juga ntar belangnya. Awalnya pesta tenis berjalan oke oke dan smooth. Lalu, si Patrick mulai melancarkan misinya. Ada yang lolos dari jeratan, tapi ada pula yang bego terjerat. Laluu…hawa – hawa persaingan antar wanita pun menyeruak. Mulai dari saingan gaun, perhiasan, serta riasan. Daann…di tengah acara muncullah seseorang yang –menurut saya – dia akan menjadi trigger terkuaknya semua permasalahan dalam masing – masing keluarga yang sedang memakai topeng kesempurnaan ini. Entah kenapa, akhir – akhir ini saya lagi demen baca karyanya Sophie Kinsella. Khusus untuk buku ini dan beberapa karya lainnya, ia menggunakan nama aslinya. Awalnya saya gak ngeh juga, kenapa dia pakai nama beda ? setelah dibandingkan, auranya emang beda. Dalam karya Sophie Kinsella – ex: Shopaholic Series, I’ve Got Your Number – ceritanya ringan dan pop sekali. Tokoh utama wanitanya ceria, rada oon tapi cerdas. Nah lho bingung kan ? Sedangkan saat dia pakai Madeleine Wickham, karyanya lebih dewasa dan gelap. Tapi ya gak gelap gelap amat sih. Mungkin itu sebabnya dia ingin agar pembaca tidak tercampur aduk intrepetasinya ketika membaca karyanya yang lebih dewasa. Karena imejnya Sophie Kinsella kan ringan dan chicklit banget. Kali ini, saya kasi rating bintang tiga dari lima boleh, kan ? karena apa , ya ….. saya kurang puas sama endingnya L ada keluarga yang menurut saya eksekusi dari problemnya dia belum dituntasin. Tapi…. saya tetep mau hunting dan mau baca another Kinsella’s book 😀

Shopaholic and Baby

” Becky’s life is blooming! She’s working at London’s newest fashion store The Look, house hunting with husband Luke ( her secret wish is a Shoe Room ) … and she’s pregnant ! She couldn’t be more overjoyed – especially since discovering that shopping cures morning sickness. Everything has got to be perfect for her baby : from the designer nursery.. to the latest, coolest pram… to the celebrity, must – have obstetrician. But when the celebrity obstetrician turns out to be her husband Luke’s glamorous, intellectual ex-girlfriend, Becky’s perfect world starts to crumble. She’s shopping for two… but are there three in her marriage ? “

Buku kelima dari serial Shopaholic Series ini membawa kita masuk ke dalam petualangan terbaru dari Rebecca Brandon nee Bloomwood. Hahaha asli kocak banget si Becky ini, dengan segala imajinasi “seru” nya. Saya sampai kudu ngakak waktu ikut bayangin imajinasinya si Becky.

Hal apa yang paling ‘menakutkan, menyebalkan, sekaligus memacu adrenalin para wanita?’ Well, yep ! Bertemu dengan ex si pasangan kita! Apalagi kalo si mantan ini adalah cewek dengan ‘kualitas tinggi’. Pasti deh pikiran kita akan dipenuhi dengan seribu satu macam imajinasi aneh.

Mulanya, semua orang menganggap Becky hanya terlalu berkhayal, bahwa si Venetia Carter akan merebut Luke. Orang – orang menganggap Becky hanya terbawa emosi karena kehamilannya. Tapi, insting Becky seringkali tepat sasaran. Dan memang, Venetia Carter berusaha merebut Luke dari Becky. Tentunya dengan cara yang super duper ‘halus’. Sampai sahabatnya si Becky yang berprofesi sebagai desainer terinspirasi membuat kaos dengan tulisan :

SHE’S a RED – HAiRED BiTCH and I HATE HER

hahaha 😀 Saya sampai gemes pingin ikutan jambak si Venetia Carter ini, apalagi Luke terkesan lebih belain Venetia. Hal ini membuat Becky drop banget.Belum lagi ada masalah di kantor Luke yang membuat semuanya semakin runyam.

Tapi….tentu saja ending ala Sophie Kinsella selalu bisa membuat kita tersenyum 😉 Saya sebenarnya pingin banget spoiler endingnya di sini. Tapi ntar bisa digebukin berjamaah. Hahaha. Yang jelas, saya salut sama Luke dan Becky. Cinta mereka kuat, bok 😉 Intinya, jangan sampai terjadi salah paham sama pasangan. Hehehe.

Overall, bintang tiga setengah dari lima.

Happy reading