#HouseTalk : Papan Nomor Rumah DIY

Haloooo….balik lagi saya mau nulis tentang rumah abal-abal beserta printhilannya ya. Heuheuheu πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Nah, di post saya yang sebelumnya saya pernah cerita kan kalau saya gandrung sama yang namanya talenan kayu.

Baca Juga : #HouseTalk : Talenan Kayu

Ada yang notice ga, kalau salah satu talenan saya fungsikan sebagai papan nomor rumah? Sebenernya, sebelum publish ini saya agak ragu, karena dalam post kali ini bakal terpampang nyata nomor rumahnya #themuhandokosnest. *hahahaha sok ngartis* etapi semoga gapapa deh, ga ada alamat lengkapnya kok. Ya kan ya kan ya kan? *meyakinkan diri sendiri*
Soalnya saya menghindari memposting sesuatu yang mengandung informasi pribadi. *laahh muke lau kan udah kesebar dimana-mana, Naa? Privacy apanyaaa? πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Dulu, sebelum pindah ke rumah ini, saya dan Mr. M suka main-main ke ace hardware ato AJBS. Salah satu hal yang jadi concern kami adalah nomor rumah. Mulanya, pingin beli nomor rumah berupa angka dan huruf dari kuningan lalu di bor ke dinding. Atau ditempelin ke kayu baru pasang ke dinding.Β  Lalu, istrinya yang sok DIY bin ngirit ini rada keberatan. Karena per piece kuningannya kan agak mahal bookk, dan kami butuh sekitar 5 piece. Lagian, ntar ga keliatan personal. Apeeuu πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Akhirnya, dapetlah pencerahan *tsaahh bahasamuu* maka dibuatlah papan nomor rumah dari talenan kayu dengan biaya super murah.

Kira-kira seperti ini penampakannya. Jangan gagal fokus ngeliatin si motor jadul kesayangan yaaa πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

image

Bikinnya sederhana banget. Hanya perlu :

1. Talenan kayu. Saya belinya di toko kelontong deket rumah @Rp. 8,000.- /buah

2. Cat acrylic. Beli di toko ATK sekitar 10ribuan. Ini sebenernya ga terlalu penting, karena cat ini juga sebenernya saya beli buat keperluan lain, bukan khusus buat DIY ini. Boleh diganti dengan cat lain yang kebetulan dipunya di rumah, asal bisa nempel di media kayu.

3. Kuas.

4. Spidol permanent marker. Naahh…kalo ga punya cat, bisa kok pake ini. Tips : kalo setelah pake spidol dan belum kering bener, jangan sekali-sekali dipegang. Ntar jadinya jembret kayak punyaku. Huhuhu 😭😭😭

5. Pelapis. Optional, biar hasilnya lebih awet aja sih ntar. Ini juga sisa sekaleng top coat dari Mr. M ngecat meja kayu sih sebenernya.

6. Bor buat nempelin talenannya.

7. Kain jaring, atau apapun lah. Cuma buat pemanis doank. Saya pake kain jaring dari bekas wadahnya sendal jepit bali. Heuheuehu πŸ˜†πŸ˜†

8. Kreatifitas

image

How to :
Ini sebenernya enak jelasin pake video kali ya? *songong* hahaha. *soksokanpinginnyobainjadivloggercumagapede* *kibasjilbab*

1. Plot atau gambar tipis pake pensil pola tulisan yang akan dipakai di talenan.

2. Tebelin pake spidol atau timpa pakai cat akrilik.

3. Tunggu kering. PENTING! Ini kemarin karena saya ga sabaran, sebelum kering bener keburu kupegang-pegang eh jadinya beleber sodara- sodaraaaa *kraaaiii* 😭😭😭

4. Setelah beneran kering, timpa lagi pake cat pelapis biar awet dan ga berjamur.

5. Pasang di dinding, atau di pintu rumah. Wherever you laik lah. Karena rumah saya kan ga berpagar, jadinya ya terpaksa pasang di daun pintu.

image

6. Karena ada lubang bekas dibor, bolehlah ditutup pake kain jaring biar bautnya tersamarkan.

image

Dan tadaaaaa…….. papan nomor rumah dari talenan kayu DIY rasa personal dengan harga muraahh 😍😍

image

tuh kan beleber, karena belum kering udah kepegang-pegang

 

Pssttt….saya bolak balik diteriakin ama tetangga,” Neeenggg.. talenannya bude balikiiinn…jangan dipasang di pintuuu.”

Oh ya, sebenarnya sih, kalau kalian ingin hasil yang lebih rapi atau lebih keliatan bagus lebih profesional, ada banyak onlineshop di Instagram yang jual beginian. Hasilnya bagus-bagus lho. Catnya keliatan cerah ceria.

Tapi, balik lagi soal selera. Saya pinginnya sentuhan personal ala The Muhandoko’s Nest kan *baca: ngirit* πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Ada opsi lain, temen saya si Yeni,

Baca juga : #HouseTalk : Rumah Keluarga Y

untuk papan nomor rumahnya dia juga DIY, dari hasil print lalu dipasang pada bingkai kaca seperti ini.

image

Kalau papan nomor rumah kalian gimana?

Mrs. Muhandoko

#HouseTalk : Rumah Mungil Keluarga Y

Halo, duuh ini udah Jumat keberapa ya eijk bolosh ngomongin #HouseTalk . Bhahaha….maapkeun, lagi sok sibuk di dunia nyata :p

Nah, #HouseTalk kali ini main main ke rumah Yunan dan Yeni. Yeni adalah salah satu teman kuliah saya waktu di Malang dulu. Ketemu lagi di grup whatsapp alumni, dan akhirnya japri-japrian. Kami sesama pemerhati rumah tinggal *halah*… gaaakk…maksudnya suka ngobrolin tentang rumah gituuu…kami suka bertukar info tentang interior ato wall decor ato semacam itu lah πŸ˜†

Nah, bagi yang punya rumah mungil, gak usah bersedih karena merasa rumahnya sumpek dan ga bisa diapa-apain trus trus trus rasanya berantakaan muluu karena rumah sempit tapi barangnya banyak lalu lalu lalu berakhir dengan kelelahan jiwa dan raga *tunjuk tunjuk diri sendiri* πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Yeni, berhasil menyulap rumah mungilnya menjadi hunian yang nyaman. Simple yet comfy. Gak usah terlalu keracunan ama pinterest dan instagram *lagi lagi nunjuk diri sendiri*, kita bisa kok bikin rumah terasa nyaman dengan cara sederhana.

image

1. Halo Yen, kan katanya rumah kamu mungil nih, boleh donk dibisikin untuk ukurannya?

LT 84 m2. LB 36 m2. Rumah contoh (pas beli udah +/- 60% jd), sehingga ga bs merubah denah. Merubah yg bs dirubah aja. Contoh kusen kayu dan jendela dari aluminium dirubah jadi kayu smua.

image

2. Kalau boleh tau, tema/ konsep yg diinginkan dalam menata rumah? Apa sudah tercapai?

Tema yang diinginkan sih vintage. Tapi belum tercapai smua, krn menyesuaikan dompet 😸😸😸

*laaah…samaan kayak eikeh donk*

3. Sudut/ruangan favorit di dalam rumah?

– Kamar tidur depan dan ruang tamu (ruang keluarga jg sih, krn belajar jg di situ)

image

Btw, itu yang lemari putih bagus deh. Fungsinya apa? Lemari biasa?

Itu lemari sepatu, kami pesan khusus menyesuaikan ukuran ruangan.

– Wall of frame

image

– Dapur

image

Btw, dapurmu kecil tapi bersih dan rapih lho. *akuu iriiiii* Itu meja makan ya?

Iyaa…karena rumah kami mungil, jadi kami harus memaksimalkan fungsi ruang. Itu papan kayu ekstensi,Β  digunakan untuk meja makan. Jika sedang tidak dipakai, dapat dilipat agar ruangan terasa lega. Oh ya, dari meja makan mini ini, sembari makan kami bisa melihat view sawah yang kebetulan ada di belakang rumah.

image

*aku fingsan*
*berasa makan romantis tiap hari*

4. Furniture favorite?

Semua yang ada di ruangan. Hahaha.

*kalo saya, naksir lemari sepatu + hiasan telepon di atasnya*

Oh, ya. Sekali lagi, untuk mensiasati rumah mungil, furniture kami harus multifungsi. Contohnya ini, di bawah dipan diberi lemari yang mirip laci untuk tempat menyimpan barang.

image

5. Hiasan favorite ?

image

image

Semuanyaaa….

6. Deskripsikan rumahmu dalam satu kalimat

“Where my happiness is”

image

7. Ada tips agar rumah mungil bisa terasa lega dan ga sumpek?

Oh ya….ada..kalo versiku sih :
– less furniture
– kurangi perabot yang tidak perlu. Dalam hal ini juga bisa memaksimalkan satu perabot menjadi beberapa fungsi. Misal seperti dipan yang dibawah ada storagenya. Lalu meja makan yang bisa dilipat saat tidak digunakan.
– barang-barang pecahan kecil (kita pasti punya donk barang seperti ini di rumah), masukkan jadi satu ke dalam storage atau kardus. Jadi kesannya rumah tidak selalu berantakan karena barang barang kecil tersebut berserakan.
-bisa juga ditempelkan cermina gantung di salah satu sudut dinding. Karena seperti kita tahu, cermin memberi kesan luas pada ruang sempit jika penempatannya tepat.
-pastikan juga sirkulasi udaranya baik, biar kondisi ruangan sehat dan tidak lembab.

image

Hihihihiiii….oke Yeniiii….. senang sekali bisa main-main ke rumahmu. Thanks a bunch karena rumahnya udah boleh diekspos dimari πŸ˜†πŸ˜†

Psstttt…..mungkin bisa dicontek ya..rumah mungil sederhana tak harus menjadi mewah untuk bisa nyamanΒ  dihuni πŸ˜‰

The Muhandoko’s Nest : Tentang Rumah Impian

Bicara tentang rumah impian, saya selalu menyukai rumah yang terang. Dimana ketika pagi hingga sore cahaya matahari bisa masuk ke dalam rumah dan menerangi aktivitas para penghuninya. Itu sebabnya, saya menyukai rumah dengan jendela lebar dan langit-langit yang tinggi. Bagi saya, itu memberi kesan ‘lega’. Untuk ukurannya, saya tidak terlalu menuntut mempunyai rumah yang luas dan lapang.

Impian saya justru tinggal di rumah mungil. Area ruang keluarga, ruang makan, dan pantry menyatu tanpa ada dinding solid yang menjadi pembatas antar ruangan. Alasannya sederhana, saya ingin setiap anggota keluarga dapat saling terhubung meski tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Misalkan saja, saya yang tengah asyik memasak, masih bisa berinteraksi dengan suami yang tengah serius menggambar. Kami bisa mengobrol santai dan berdiskusi tentang apapun juga, sembari tetap beraktivitas . Dan nantinya ketika anggota keluarga sudah bertambah, kami berdua masih bisa mengawasi si kakak dan si adik yang bermain bersama di ruang tengah. See…setiap anggota keluarga masih bisa saling terhubung. Sounds perfect, kan πŸ™‚

Awal dari impian kami terjawab setahun kemarin. Kami membeli rumah di daerah pinggiran ibu kota, dengan luasan 40/90. Tidak bisa berharap terlalu banyak ketika melaksanakan renovasi nantinya, bukan ? πŸ™‚ Ah, tapi itu bukan jadi masalah. Tinggal bagaimana nanti kami bermain dengan kreasi.

Yuk, mari. Silakan mampir ke rumah kami ……sstt… kami menamainya : The Muhandoko’s Nest.

Kami beruntung mendapat rumah dengan konsep plafond yang tinggi. Perkiraan sekitar 4,5 meter. Di bagian depan atas ada jendela kaca yang bertugas ‘memasukkan’ cahaya matahari ke dalam rumah. Poin pertama tentang rumah bermandi cahaya pun sudah terpenuhi πŸ™‚
image

Ruang tengah berukuran sekitar 3 x 4,5 meter. Dan ruangan ini nantinya harus dibagi menjadi ruang keluarga dan ruang makan. Kebayang kan betapa sempitnya rumah kami πŸ™‚

Awal mula pindah kemari, ruang tamu kami terasa lapang. Karena furniture yang ada berupa selembar karpet berwarna merah hadiah dari mertua. Lalu kakek saya memberi ‘kado’ berupa sofa set dan ranjang kayu kuno berukir.

Ruang tamu kami merangkap sekaligus sebagai ruang keluarga. Areanya ditandai dengan satu set sofa dan rak buku sederhana.

Koleksi buku-buku saya sementara dijadikan satu pada rak tersebut, yang menyatu dengan layar televisi dan komputer. Area ini menjadi tempat kerja suami ketika di rumah. Sekaligus ‘etalase’ untuk hasil percobaan hobi baru saya : doodling. Sstt….saya sedang tergila-gila pada sesuatu yang beraksen kayu. Khususnya talenan.

image

image

image

image

Sedangkan saya lebih memilih meja makan sebagai ‘area kerja’ saya πŸ™‚

image

Untuk area ruang tidur utama, ranjang dari kayu jati berukir menjadi main spot.
image

.
Untuk dapur, kami menggunakan dapur sederhana. Sebagai pemanis, sekali lagi kami pasang papan kayu untuk tempat menata bumbu dan sedikit aksen hijau dari percobaan menanam hidroponik.
image

Karena ini adalah rumah yang diproduksi massal, alias perumahan yang tipe dan spesifikasinya sudah ditentukan, maka ada beberapa hal yang terasa kurang ‘pas’ bagi kami. Salah satunya adalah warna dan motif lantai. Lantainya berwarna putih dengan naad warna hitam. Menurut kami, okelah jika memang keramiknya warna putih, tetapi seharusnya naad nya juga berwarna senada. Sehingga kesannya menyatu, dan itu akan sedikit memberi efek luas pada ruangan.

Untuk ke depannya, saya dan suami berencana akan mendesain rumah kami menjadi rumah tumbuh. Inginnya sih, menggunakan konsep moderen minimalis. Dan saya ingin memberinya sedikit aksen vintage.

Sekarang, mari kita berbicara seperti apa rumah impian kami…

Kemarin saya mengintip koleksi dari Niro Granite. Warna dan motifnya bermacam-macam. Saya suka dengan keramik polos warna putih. Sedang suami, dia ingin salah satu dindingnya dicat warna hitam atau gelap hanya untuk sebagai aksen ruang saja, dipadu dengan keramik yang berwarna gelap pula.

Menjawab permintaan Mr. Muhandoko, dia ingin suasana living room yang seperti ini. Didominasi warna ‘gelap’, tetapi tetap berkesan ringan. Sentuhan maskulin kentara jelas pada ruangan ini.

Sumber foto : Niro Granite

Untuk area kerja, saya menginginkan desain yang simple tetapi mampu membangkitkan mood. Sesuatu yang neat and chic.

image

Mungkin, sedikit sentuhan warna pastel ?

image

Hmm, saya jamin area kerja ini akan bisa membangkitkan ide dan kreativitas. Bisa dilihat, untuk pemilihan furniturenya, saya tidak ingin yang terlalu ‘berat’. Meja dan papan dari kayu diberi finishing duco warna putih, atau broken white. Dindingnya dan lantainya diberi warna senada. Begitu pula jika pemilihannya adalah warna coklat.

Untuk ruang makan, bagaimana kalau kita coba desain simple?
Saya selalu memimpikan pantry dan ruang makan yang menyatu, dengan desain semi terbuka. Sekali lagi, saya suka ruang yang kaya akan cahaya. Salah satu bagian dinding dibiarkan unfinished. Mengekspose keindahan batu bata. Untuk hal ini, pastikan memilih batu bata dengan kualitas terbaik. Dinding lainnya dicat warna putih -sekali lagi- sama dengan warna lantai. Untuk pemilihan meja, saya menginginkan meja dari bahan kayu yang masih terlihat ‘mentah’. Difinish melamine dengan teknik rustic atau garuk. Jadi, bahan kayu dilukai sehingga alur seratnya akan timbul, terkesan 3 dimensi. Pemilihan kayunya, diusahakan yang memiliki serat ‘cantik’ seperti kayu jati.

image

Jangan lupa, harus ada sentuhan ‘handmade’ πŸ™‚

image

Untuk kamar mandi, kami ingin kamar mandi berwarna cerah agar area berukuran 2 x 2 meter ini -sekali lagi- terasa sedikit lega. Psstt…sepertinya Niro Granite punya koleksi yang lovable πŸ™‚

Untuk sementara, ketika segala rencana tentang rumah idaman masih berupa gumpalan ide di kepala, mungkin sebaiknya kita tetap menikmati rumΓ h yang kita tinggali saat ini. Caranya ? Rumah harus tetap bersih ya. Disapu sehari dua kali. Dipel dengan cairan pembersih mengandung desinfektan. Untuk hal ini, pemilihan bahan lantai penting sekali.

Memang ya, kalau punya rumah sempit harus pintar-pintar bermain warna dan dekor agar rumah teras lapang dan kita nyaman tinggal di dalamnya.
Kalau kalian, memimpikan rumah seperti apa sih?

Tulisan ini diikusertakan dalam kompetisi Rumah impian by niro granite.
Kalian juga bisa ikut berpartisipasi dengan cara menulis komen. Komentar yang menarik akan mendapat hΓ diah dari Niro Granite πŸ™‚

Foto-foto di atas adalah dokumentasi pribadi penulis.
Foto untuk gambaran rumah impian seluruhnya diambil dari instagram Niro Granite