Interlude Windry Ramadhina

interlude

Judul buku : Interlude
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Halaman : 372

Hanna, listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect and she hates it.
Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak.
Kemarilah, aku akan menjagamu, asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

“Waktu tidak akan berputar ulang. Apa yang sudah hilang, tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang.”
Aku ingat kata-katamu itu, masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek. Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?

Kilat rasa tak percaya dalam matamu, membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri.
Tapi, sungguh, aku mencintaimu, merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya?
Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu?
Hatiku baru saja patah…

Huaa..setelah selesai menutup lembar terakhir dari Interlude, perasaan sesak yang menghimpit mendadak menguap. Lega. Haru.
Kai – pemuda yang meminjam nama laut – tidak memiliki tujuan hidup. Keluarganya berantakan. Kuliahnya terancam drop out. Meski ia suka musik, tapi tidak punya tujuan khusus berkarir di musik. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang gadis bernama Hanna.
Hanna punya ‘luka’ masa lalu. Membuat ia takut menatap masa depan. Juga sangat takut ketika berdekatan dengan lelaki.
Kai yang suka ‘menyentuh’ wanita, dipertemukan dengan Hanna yang tidak bisa ‘disentuh’ laki-laki.
Hanna, si Gadis dari Ipanema. Ketika Kai mempersembahkan lagu untuk gadis sempurna di meja nomor sembilan, hahahah kenapa jadi saya yang tersipu malu ya 😛
Saya suka. Suukaa sekali sama Interlude. Ini adalah novel kedua dari mbak Windry Ramadhina yang saya baca setelah Walking After You. Dan, jujur, saya lebih suka sama Interlude. Padahal, Interlude masuk ke dalam daftar buku yang males saya beli pada awalnya. Yaa begitulah, batas antara benci dan cinta itu tipis sekali :p

Untuk tokohnya sendiri, saya lebih suka sama Jun. Jun dan Gitta adalah rekan band jazz dari Kai.

Halaman 45 :
Jun, pemuda itu, berdiri di samping mereka berdua, mengenakan setelan rapi dan menenteng tas kerja. Tubuh pemuda itu tinggi. Rambutnya cepak, tetapi tidak sependek rambut tentara. Matanya agak sipit, mengintip dari balik lensa minus yang tidak berbingkai. Dagunya kecil. Bibirnya tipis.
” Ah, akhirnya akuntan dengan karir menjanjikan ini datang.”

Hal 154 :
Jun tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan pemuda Second Day Charm yang satu lagi. Hanya saja, Jun tidak memanfaatkan daya tariknya untuk mengecoh perempuan. Padahal, dia punya semua yang bisa diharapkan dari seorang lelaki ideal. Pekerjaan dengan gaji tinggi, mobil, apartemen di pusat kota, sikap, bakat, tampang. Dia punya mata yang teduh serta senyum yang hangat. Dan, dia punya bibir paling sedap yang pernah dicicipi oleh Gitta.

Yaaa… Gitta, Kai, dan Jun punya semacam kisah cinta segitiga. Gitta dan Kai pernah bersama. Tapi, itu hanya kisah-cinta-sepintas-lalu. Kai, tidak pernah serius dengan wanita, sebelum akhirnya bertemu Hanna. Hal ini membuat Gitta merasa harus melindungi Hanna. Ya, mereka adalah tetangga satu apartemen. Gitta mengetahui masa lalu Hanna yang kelam.
Jun mencintai Gitta, tapi demi alasan klasik – keutuhan band – Gitta memilih berkencan
dengan pria lain. Ian. Pria yang yaahh… menurut saya tidak layak disebut sebagai pria. Karena dia suka memukul wanita.
Pesen nih ya, jangan pernah mau menjalin hubungan dengan laki-laki yang suka mengkasari wanita baik secara fisik maupun psikis. Orang kayak gitu suruh pake rok aja.

Untuk jalan ceritanya sendiri, mbak Windry pinter deh meracuni pembaca dengan membawa ‘atmosfer’ konfliknya. Saya bisa merasakan rapuhnya Hanna, seperti memegang porselen yang jika salah nyenggol dikit aja bisa langsung pecah berkeping-keping. Pipi bisa ikut memerah ketika Kai menggoda Hanna :’)

Saya bisa tersenyum saat Kai lagi kumat bengalnya. Pun bisa ikutan nyesek ketika dia memperjuangkan keutuhan pernikahan kedua orang tuanya.

Dan, heei Gitta… selama ini ada pria lembut yang mencintaimu diam-diam. Ooohh… kenapa justru saya yang terpesona sama Jun. Mengingatkan saya akan tokoh yang dimainkan Yong Hwa pada film Heartstring :’)

Saya irii sekali ketika mengetahui bagaimana keempat orang ini saling menjaga sahabatnya satu sama lain.

Dear mbak Windry,saya suka suka sukaaa sekalii sama Interlude. Ada harapan, cinta, keluarga, dan persahabatan di dalamnya. Pokoknya kece deh. Saya menemukan hal baru dalam setiap lembar halamannya. Tidak dijejali dengan percakapan klise dan pengulangan narasi yang membosankan. Daaann… tidak afdol rasanya ketika membaca novel tapi tidak mengubek – ubek blog si penulis. Hehehe… di sini mbak Windry bikin sketsa tentang Kai, Hanna, Gitta, dan Jun. Hahahaha saya ini galau yaaa…orang ini fokus ceritanya ke Kai.. saya malah naksir Jun 😛

gambarnya diambil dari blognya mbak Windry

Four stars and happy reading :-*

Psstt .. seandainya saja yaa lagu ‘Hanna’ bisa jadi lagu beneran. Hihihihi

Walking After You – Windry Ramadhina

Walking After You

2014-12-29 09.14.44
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Pertama, 2014
Jumlah halaman : 318

‘ Kau tak perlu melupakan masa lalu.
Kau hanya perlu menerimanya.’

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali padanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkah kau merasa seperti itu?
Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia.Pernahkah kau seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka?

Mungkin, kisah An seperti kisahmu. Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

Huaaa…. setelah selesai menutup lembar terakhir dari Walking After You, saya menyatakan diri resmi menjadi fansnya mbak Windry Ramadhina. Membaca buku ini, serasa ada sensasi nonton kompetisi masak ala ala master Chef. *abaikanopiningawurini*
An dan Arlet adalah saudara kembar. An penyuka masakan Italia, sedangkan Arlet penikmat kue Prancis.Hebatnya mbak Windry, dia menghubungkan kesukaan An dan Arlet menjadi ciri khas mereka masing-masing.
Arlet penyuka kue manis. Jadi, pembawaannya juga manis, lembut, dan cute. Dia punya motto :
satu sendok krim bisa menyelamatkan harimu. Dia suka segala sesuatu seperti shabby chic, vintage. *eh bener gak ya? karena saya sempet ngintip inspirasi tentang Arlet di pinterest-blog nya mbak Windry, jadi saya menyimpulkan seperti itu* Arlet, you’re so sweet :’)
An, seperti masakan Italia. Menyala bak rempah-rempah. Bayangkan kalian lagi makan pasta, maka seperti itulah ‘taste of An’.
Mereka hidup bahagia sebagai sepasang saudara kembar. Sama-sama punya passion menjadi koki. Dan suatu saat, ingin mendirikan trattoria mereka sendiri. Such a lovely life, isn’t?
Sampai suatu ketika, mereka jatuh hati pada pria yang sama. Jinendra.
*sini-sini, Jinendra sama saya aja biar kalian gak rebutan gitu. #eehh *
ketika itulah urusan jatuh cinta yang harusnya manis dan berbunga-bunga berubah menjadi mimpi buruk.

Susah buat gak spoiler di sini 😥

An, harus melepas masa lalu. Ia melanjutkan hidup dengan bekerja di Afternoon Tea. Tempat dimana kau bisa menikmat souffle terenak buatan Julian. Koki kue ganteng di Afternoon Tea yang terlalu-kelewat-amat-serius. Apa yang selanjutnya terjadi? Dapatkah An berdamai dengan masa lalunya?
Hayook… segera miliki novelnya di toko buku terdekat. Dan segera baca ditemani segelas coffee dan rinai hujan *ala ala promo album* .

Novel ini terlalu ‘manis’ untuk bisa saya ceritakan. Kalian harus ‘mencicipinya’ sendiri.

Di sini, mbak Windry memasukkan salah satu unsur novel London di Afternoon Tea. Dialah Ayu! Si Pembawa Hujan.
Psst… saya belum membaca London, dan setelah mengetahui betapa ‘kelabu’ nya si Ayu, saya jadi pingin baca London. *ada yg mau endorse? ahak ahak*
Overall, diksi yang disajikan mbak Windry mampu membuat saya ‘meleleh’.
Serasa bisa bayangin nikmatnya pasta buatan An dan souffle ala Julian. Saya gemes banget sama tingkahnya Julian. Aw.. dia manis sekali 🙂
Namun, ketika membaca part Jinendra, mendadak atmosfernya berubah ‘dewasa’. Hehehehe.

Good job, mbak Windry. Four stars.
Happy reading.