Resolusi Blog 2015 : Let’s Having Fun with Blog

Assalamualaikum…
Holaa haloo πŸ˜€ Psstt sebelum postingan ini dibuat, sebenernya saya udah bikin postingan ala ala resolusi gitu. Taaapii… demi menjawab ‘tantangan’ dari Indonesian Hijab Blogger yang mana hadiahnya aduhai akhirnya saya ngepost lagi deh. hehehehe. Jangan bilang-bilang ya :p

Tema untuk bulan ini adalah ” Resolusi Blog 2015″.Β  Kalau kalian tengah bertanya-tanya, apa sih isi ‘rumah’ saya ini? Aaauu… campur-campur. Kebanyakan berisi review buku yang saya baca, sama random thoughts. Alias curhat terselubung. Iyess…. saya tau kalo lebih baik blognya dipisah sesuai tujuan kegunaan.
But, I just can’t. Tolong jangan pisahkan kami πŸ˜₯
*apeeuu cobaa :p *

Okeeee….. ” Resolusi Blog 2015″ adalaaaahhh….. *drumroll*
*taburbunga*
*narijaipong*

  1. Review buku minimal sebulan sekali.
    Saya punya tagline untuk tahun 2015 ini.
    “Tahun 2015 adalah tahun membaca dan menulis.”
    Apa artinya?Β  Yaaa… saya bikin list most-wanted-to-read-books. Baca, baca, baca. Baik itu penulis favorit saya atau bukan, terjemahan atau non terjemahan, hardcopy atau ebook, buku tabungan atau buku hutang *megapmegap* apapun itu. Mari jadikan membaca sebagai suatu hobi. Lalu lalu lalu apa hubungannya dengan blog? Setelah membaca, mari menulis resensi di blog πŸ™‚ Sepertinya lebih cocok bikin blog baru khusus resensi buku ya? Eerrr… I don’t think so :p
  1. Masih berkaitan dengan poin nomer 1, saya punya target jangka panjang mengenai tulis-menulis ini. Kepingin sekali menyematkan kalimat ‘yess, i’m a writer’. Nah, setiap Kamis insyaAllah saya akan posting tulisan ala ala saya. Siapa tahu ada editor yang terpesona #eeehh :p Sekalian mengasah skill menulis.
  1. Having fun with this blog! Ingin tahu daily activities or random thoughts ala ala artis papan setrikaan seperti saya?Β  hehehe… nah hari Sabtu insyaAllah saya akan posting random things. Note : random lho yaaa… raaan–doom :pΒ Β  Bisa aja saya posting tentang kucing-kucing preman di sekitaran komplek, posting tentang OOTD, nyobain resep masakan, review drama korea favorit (?) acara kencan sama Mr. Muhandoko, etc. Mari kita posting hal-hal ringan di sekitar kita, hal – hal sederhana yang bisa membuat tersenyum maupun merenung πŸ™‚

Okeeee…ready… camera roll on…Β  berasa lagi syuting reality show Keeping Up With Muhandokos :p

Bismillah… semoga sama-sama istiqomah ya Hijab Bloggers.. yeeyy.

Tulisan ini diikutsertakan dalam IHB Blog Post Challenge.
@IHBlogger
@mrs_muhandoko

Bramastha – teaser 2

Bramastha membolak – balik lembaran kertas putih berisi sketsa hasil karyanya. Coretan tangan hotel Majapahit. Sebagai seorang arsitek, Bram begitu memuja bangunan kuno dengan desain klasik. Terlebih yang mempunyai benang merah dengan kisah sejarah. Bram tahu betul, hotel Majapahit yang dulunya bernama hotel Oranye adalah saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah. Meski mengalami restorasi secara menyeluruh pada tahun 1996, tapi gaya art deco klasik tetap dipertahankan hingga kini.
Sore ini, setelah puas memandangi detail eksterior dari Hotel Majapahit, Bram sengaja melewatkan senja yang kelabu di sebuah coffe shop bergaya vintage di tengah kota. Sembari menganalisa coretan sketsa tangan dan hasil foto kamera digital miliknya, Bram menikmati secangkir latte hangat. Perpaduan ‘kencan’ yang sempurna.
Bramastha senang menyendiri. Ia mencintai pekerjaannya. Ketika menikmati hidangan makan siang ataupun malam, maka ia akan sibuk menganalisa restoran tempatnya berada. Mulai dari gaya dekorasi, pemilihan furniture, hingga pemilihan warna. Bram suka menjelajah gedung-gedung tua di kota tempat ia kebetulan singgah. Ia akan mengambil gambar sepuasnya, membuat sketsa dari tangan dinginnya yang seringkali disebut ‘tangan Midas’ oleh para kliennya. Ia akan berangkat tidur membawa pikiran tentang pekerjaannya. Lalu bangun keesokan paginya dengan ide-ide baru yang segar entah darimana asalnya. Benar-benar segar. Sesegar ikan laut yang ditangkap para nelayan langsung dari habitatnya.
Selain tersita oleh pekerjaan, nampaknya pikirannya sore ini mulai bercabang. Ia rikuh saat melihat seorang gadis yang duduk di depannya berkali-kali menatap hujan melalui jendela kaca. Bram merasa gadis itu rapuh. Pandangan matanya yang mulanya kosong, berubah berbinar ketika seorang lelaki muda datang menghampiri. Bram mencuri pandang. Gadis itu menyeka wajah si lelaki muda dengan penuh cinta.
Cinta?
Bram merutuk diri sendiri. Beraninya ia menyebut kata cinta. Padahal sesungguhnya ia begitu membenci cinta. Ia hanya berani mencintai pekerjaannya. Bukan yang lain. Titik.
Bram menghela napas. Ia mulai berkonsentrasi pada lembar – lembar sketsa di hadapannya.
” Yu, sori lama.”
Ah, si lelaki memanggil si gadis dengan sebutan Yu. Mata Bram melebar. Ia tidak menyangka telinganya bisa selancang ini mencuri dengar keintiman orang lain. Bram merasa wajahnya memanas. Malu.
Ia semakin berkonsentrasi pada kertas-kertasnya. Menajamkan penglihatan. Menulikan pendengaran. Ini adalah salah satu jurus andalannya ketika bekerja.Β  Dan sejauh ini selalu berhasil.
Bram meraih pensil karbon yang ujungnya baru saja diserut. Ia menorehkan garis-garis baru. Menindas garis lama. Membentuk sketsa baru yang tak kalah memukau dari sketsa lama.
Ia merasa desiran angin mencolek lembut tengkuknya tepat ketika si gadis bernama Yu melewatinya. Bram mengangkat kepala. Lehernya berputar mengikuti arah langkah si gadis. Yang berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya mencengkeram erat pegangan pintu yang berdesain ukiran berwarna emas. Dalam sekali lihat, Bram berhasil mengenali pegangan pintu tersebut adalah buatan luar negeri.
Bram tak tahu,apa yang tengah dipikirkan si gadis. Yang jelas, pandangan mata Bram nyata-nyata menangkap air mata yang jatuh dari sudut matanya. Bram tersentak. Gadis itu mendorong pintu dengan susah payah. Lalu segera berlari menembus hujan.
Bram menarik napas. Ia meletakkan pensil karbon yang sedari tadi digenggamnya. Lalu menempelkan lengannya yang tertekuk di atas meja. Ekor matanya melirik payung warna hitam yang terlipat rapi tepat di sampingnya. Dan ia tertegun. Merasa kilatan tentang memori masa lalu mendadak menampar sudut hatinya.

Parasayu – teaser 1

Sudah setengah jam Parasayu termenung di sini. Di sebuah coffe shop bergaya vintage di tengah kota. Dengan wangi kopi , coklat, dan aneka penganan manis bergula yang bercampur menjadi satu. Parasayu duduk di sudut. Di sebuah sofa empuk warna coklat tua, yang sandarannya menempel pada dinding pembatas antara area pengunjung dengan pantry. Melalui jendela kaca dari tempatnya kini, Ayu bisa melihat lalu lalang pejalan kaki. Awalnya mereka berjalan dengan tenang. Dengan langkah teratur tapi tak berirama. Lalu langkah – langkah kecil tersebut semakin melebar. Berubah menjadi sepasang kaki yang berlarian sembari menutup kepala mereka dengan salah satu tangan.
Ayu mendongakkan wajah. Ia baru menyadari bahwa awan kelabu telah berubah menjadi rintik hujan. Jemarinya terangkat. Ujungnya menyusuri jendela kaca. Dengan sekali hembusan napas, noda bak embun tak beraturan pun muncul.
” Yu, sori lama.”
Parasayu memutar kepala. Didan telah duduk tepat di depannya. Lelaki muda itu melepaskan jaketnya yang tampak sedikit basah. Ia mengibaskan rambut. Percikan airnya mengenai Parasayu. Membuat gadis itu tertawa riang.

Tangan Parasayu terulur. Menyeka wajah Didan dengan beberapa lembar tissue yang dilipat jadi satu, ” Nikah yuk, Dan.”
” Ayuk, ” Didan tersenyum simpul. Tangannya terangkat. Meraih lengan Parasayu yang masih sibuk menyeka wajahnya. Lalu Didan menggenggamnya erat, ” Tapi tidak sekarang.”
” Kenapa?” Parasayu merasa kerongkongannya mengering,” Umurku hampir kepala tiga. Orangtuaku pun sudah mendesakku agar segera menikah.”
Parasayu mendengar lelaki di hadapannya kini menghela napas, ” Aku masih belum siap secara finansial.”
” Tapi, kita kan sudah sama – sama bekerja,” Parasayu mencoba menawar. Dan ia sadar,konsekuensinya adalah ia bisa saja dicap sebagai wanita kelewat tak laku yang memaksa seorang laki – laki untuk segera menikahinya. Meskipun Didan adalah kekasih yang sudah menemaninya selama dua tahun ini,” … kita bisa sama – sama berusaha. Aku akan membantumu.”

” Tidak mau! Aku laki – laki. Dimana harus kuletakkan harga diriku jika aku dibiayai seorang wanita? Apa aku harus menyembunyikannya?Β  Menguncinya rapat – rapat dan berpura – pura lupa pada kenyataan bahwa kodrat lelaki adalah sebagai pemimpin wanita?”

” Aku tidak sedang mencoba untuk memimpinmu, ” suara Parasayu tersendat, ” kita bisa memulai semuanya dari awal. Bersama – sama.”

Parasayu merasakan genggaman tangan Didan mengendur. Semakin tak bertenaga. Lalu terlepas sama sekali. Menyisakan segurat kekecewaan di mata Didan yang nyata – nyata ditunjukkannya kepada Parasayu.

” Kalau kau ingin menikah. Silakan saja. …, ” suara Didan bergetar di antara nada ketegasan seorang lelaki muda, ” … tapi tidak denganku.”

Parasayu merasakan kesunyian yang mendadak mencengkeram. Ia seolah tak bisa mendengar apapun. Pandangannya mengabur. Menyisakan Didan sebagai fokus utamanya. Aroma kopi yang mulanya mendominasi, segera saja tergantikan oleh aroma Didan. Aroma yang. .. tidak dapat dijabarkan Parasayu dalam wujud kata – kata. Menggelitik hidung. Lalu menghunjam tepat di jantung. Bercokol kuat di sana. Seperti rindu yang tak berujung.

” Kau. .. ” Parasayu berusaha meraih kesadarannya kembali. Ia tak percaya harus mengucapkan kalimat tabu,” … mencampakkanku?”

Didan membuang muka. Menerawang jauh ke jalanan dimana air hujan masih terus mengepung manusia – manusia di luar sana, ” Jangan cengeng. Aku tidak suka kalau kau merajuk.”

” Aku tidak merajuk, ” bela Parasayu, ” Apakah menyampaikan gagasan tentang pernikahan adalah sebuah rajukan?”

” Ya.Β  Setidaknya bagiku.”

” Kita sudah bersama selama dua tahun. Usiaku sudah lebih dari cukup, ” Parasayu mencoba menguasai diri,” Orangtuaku ingin agar aku segera menikah.”

” Mungkin aku yang salah. Telah memilih seorang wanita yang usianya jauh di atasku.”

Parasayu mengangkat wajahnya. Ototnya menegang. Ia mencengkeram ujung bajunya yang terjuntai di atas celana. Cengkeraman tangannya semakin mengetat. Membentuk lekukan tulang jari – jemari dengan sempurna. Ia menatap Didan dengan seksama. Dan ketika tatapan mereka bertemu, Parasayu berusaha mencari – cari kebenaran di balik ucapan Didan. Sampai akhirnya ia merasa lelah.
Parasayu bangkit dari duduknya. Menatap hot chocolatte miliknya di dalam sebuah cangkir warna coklat polos tanpa ornamen. Hot chocolatte itu telah menemaninya menunggu Didan sore ini. Uapnya telah menghilang. Aromanya tak lagi menguar.
Tanpa mengucapkan selamat tinggal, Parasayu berlalu dari hadapan Didan. Sepatunya beradu dengan lantai parkit kayu saat melangkah. Ia sejenak menghentikan kaki saat menyentuh pegangan pintu kaca. Ia ingin agar Didan mengejarnya. Namun, lelaki itu tetap mematung.
Parasayu mendesah. Sudah saatnya mengakhiri semua. Ia mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Dengan sisa – sisa harga diri seorang wanita yang masih melekat. Hawa dingin segera mencucuk persendiannya. Bau tanah basah menggelitik penciumannya. Parasayu tidak peduli. Ia meletakkan satu telapak tangan yang tertangkup tepat di atas kepala. Lalu berlari menembus perisai air hujan.

Setidaknya di bawah hujan, ia lega bisa menyembunyikan air matanya yang mendesak turun.

” postingan dalam rangka mencoba keluar dari zona nyaman menulis ala ala slengek’an πŸ˜› “

Gramedia Writing Project : Lost In You

Ah, hasrat mengeblog dan menulis saya lagi hot hot nya nih. Heheheh. Apaa yaa…ada banyak hal yang ingin saya tulis di blog. Etapi setelah dipikir – pikir nanti jatuhnya jadi terlalu narsis. Dan gak semua orang pengen tau kenarsissan saya kan ?

Emang siapa elu, Na ?

Wkwkwk… naah…akhirnya menyalurkan hobi yang satunya lagi. Saya baru saja bergabung dengan Gramedia Writing Project. Sebuah komunitas menulis online dari Gramedia. Masih newbie sih. Dan baru mensubmit satu judul : Lost In You.

Sebenarnya saya ada rencana lain tentang tulisan ini, dan aslinya bukan itu judulnya. Melainkan Lost In…. ( rahasia πŸ˜› )

Tapi tapi tapi tapiii….. yaa sudahlah cobain aja seru seruan di gramedia writing project ini. Saya justru menantikan ada yang mau mengkritik, membantai, menguliti hidup hidup apa yang sudah saya tulis. Ngasi garem, gula, cabai, merica, dll. Karena saya masih pemula. Harus banyak banyak menelan kritikan, agar nanti bisa semakin dewasa dalam berkarya. Aaishh… apaan toh ya πŸ˜›

Yuuk…main main ke β€˜lapak’ saya yuuk…. saya pakai nickname C’est Annette. Terdengar aneh ? C’est dalam bahasa Prancis (mungkin) artinya It’s. Waktu madamme Wea ( ma professeur ) nerangin bab ini, kayaknya saya enggak masuk deh. Wkwkwk *ngeles*

Annette ? terdengar cantik aja sih nama itu di telinga πŸ˜› Jadi jatuhnya : Ini Annette.

Atau perlu diganti lagi ya ? C’est Moi. C’est = it’s ; Moi = me. C’est Moi = It’s Me. Bahasa jawanya : iki lhoo akuuu πŸ˜› *aahh…mungkin terdengar terlalu narsis*

Saya lagi galau nih. Enake pake nama apa. Pssttt… atau ada yang mau nyumbang ide buat nickname saya ? nama pena ? ayoo donk… kasi lemparan ide πŸ˜›

Naah naah… mampir yuuk… atau kalau ada yang mau gabung di sana, boleh kok. Tinggal submit cerita doank. Psstt… sapa tau tulisan kita dilirik sama kakak kakak editor Gramedia yang kece kece dan ciamik *ngerayu* dan berkesempatan buat nembus penerbit Gramedia.

http://gwp.co.id/lost-in-you/

Rumah Pertama Mr. and Mrs. Muhandoko

Finally, akhirnya setelah penantian panjang sepanjang cintamu padaku , akhirnya rumah pertama Mr.and Mrs. Muhandoko bisa digenggam juga. Hehehe. Rasanya seneeeeng tiada terkira. Kali ini saya mau cerita mengenai proses gimana kami bisa menemukan jodoh . dibaca : rumah impian. Kaaaan kata orang, nyari rumah sama kayak nyari jodoh. Harus yang pas, tepat, klik di hati dan di kantong. Hihihihihi. *kenapa dikasi judul rumah pertama ? karena siapa tahu suatu saat nanti kami bisa membeli rumah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnyaaa… aamiin …heheheh πŸ™‚ *

Berawal dari sms mertua yang berisi : β€œ Mbak, ada pameran rumah di sini. Besok terakhir.”

Akhirnya saya sama Mr. Muhandoko besok malemnya dateng ke pameran yang dimaksud. Di Jatim Expo Surabaya. Ada banyak stand yang menawarkan berbagai tipe dan lokasi rumah. Mulai dari Surabaya, Malang, Mojokerto, Banyuwangi, hingga Lumajang pun ada. Dengan beragam harga dan cicilan πŸ˜€

Seperti biasa, kami berdua muter muter stand satu per satu. Mintain brosur, dan sedikit tanya – tanya mengenai lokasi rumah yang sedang ditawarkan. Hal seperti ini selalu kami lakukan kalau pas ada pameran rumah. Jadinya kami punya banyak brosur numpuk.

Naahh… tiba pada suatu stand. Ternyata stand ini menawarkan rumah yang lokasinya deket banget sama rumah mertua. Dan terjangkau juga jika saya mau mudik ke tanah leluhur *tsaahh bahasamuu*

Akhirnya saya pun nanya – nanya sama marketing yang lagi jaga.

Kami nanya soal uang muka, soal cicilan, soal lama waktu cicilan, soal kondisi lingkungan dan keamanan, tentang fasilitas umum yang ada, dapet gratis ini itu apa enggak, daaaan yang paling pentiingg…dapet diskon gak ? *maklum, the sense of emak emak*

Lhahh judulnya aja Pameran Perumahan Rakyat. Ya saya harus nyari rumah seharga kocek rakyat jelatah sepertih sayah inih donkh πŸ˜›

Dikeluarin lah site plan yang dia punya. Saya ditawarin enam buah rumah yang katanya lagi diskon. Ternyata sih, sebagian besar rumah di situ udah laku dan udah ditempatin. Sisa rumah dengan harga diskon adalah di belakang sono noohh.. ada 2 opsi. Pilih yang hadep sawah atau yang hadep tetangga. Tentunya dengan beda harga juga.

Sama marketingnya, saya disaranin milih rumah yang ini. Karena saya masih belum puas atas penjelasan si marketing, kami pun janjian lagi dateng ke standnya lusa.

Lusa, kami dijelasin lagi lebih detil. Gambaran tentang cicilan dan lain lain. Mr. Muhandoko sampai heran, karena tidak biasanya saya seantusias ini nanya nanya soal rumah yang sedang ditawarkan. Berhubung saat itu adalah Sabtu malem, kami memutuskan untuk mudik ke rumah mertua. Dan besoknya niat sekalian survey lokasi. Dengan semangat 45 dan ngajak Mamih mertua, kami pun survey.

Kesan pertama saat masuk di gate depan cluster, saya udah mulai naksir sama situasi keseluruhan komplek perumahan ini. Berbekal petunjuk arah dari satpam yang lagi jaga di pos depan, kami pun menemukan calon jodoh kami. Berhenti tepat di depan rumah, hihihi saya berhenti pas banget di depannya. Kesan pertama ? I love this house !

Dengan pedenya, saya buka pintu depan. Eh gak terkunci. Lalu Mamih ngikutin saya masuk juga. Mamih bilang : β€œ Assalamualaikum ….boleh masuk, Mbak ? ”

Saya jawabnya asik aja : β€œ Walaikumsalam….boleeh doonk ..”

Hihihihi firasat kali yaaa πŸ˜›

Rumahnya mungil. Tapi saya suka πŸ™‚

Dalam pikiran saya, saya udah rencanain bakal saya dekor seperti apa rumah ini πŸ™‚

Btw, karena saya suka warna pink, saya pingin dinding eksterior depan rumah di cat warna pink. Tapi Mr. Muhandoko dengan sigap langsung menolak. Wkwwkwk dasar priaaahh πŸ˜€

Oke, saya naksir rumah ini. Dan siangnya kami pun mudik lagi ke rumah leluhur saya. Ketemu sama tante. FYI : karena Ibu saya sudah almarhumah, maka tante saya jadi our 2nd Mum.

Kami konsultasi sama tante tentang rumah dan sebagainya. Oke, tante pun acc πŸ™‚

Lah kok si marketing sms lagi. Nanyain gimana udah survey belum ? Bla bla bla. Dengan sedikit saran : kalau udah suka booking aja mbak. Mumpung lagi diskon dan harga belum naik. ( dan memang, dalam waktu sekitar 1 bulan setelahnya, harga rumah di situ udah naik sekitar 20 jutaan).

Oke, akhirnya saya sama Mr. Muhandoko pun nekat memutuskan untuk membeli rumah ini πŸ˜€

Lalu lalu lalu lalu ? Nanti yaa… saya akan ceritain proses dari awal kami mengajukan KPR, persetujuan KPR dari bank, hingga realisasinya.

Psssttt dibikin bersambung ya… biar kayak sinetron gitu.. hihihi…

My Passions

Salaam,
Happy Saturday πŸ™‚

Saya mah meski Saturday juga tetep fullday working searching sekeping berlian bling bling. Kalo ada yang nanya, ngapain sabtu sabtu masuk? Doohh, saya bisa gak gajian donk kalo tiap sabtu bolos πŸ˜€

Talking talking about passion, apa sih passion kalian ? Apakah passion masa kecil kalian sudah tergenggam saat ini? Apakah sekarang sudah menjalani hidup sesuai passion ? Apakah sedang berjalan atau berlari menuju passion tersebut ?
Ataukah justru mundur menjauh dari passion ?

Kalau saya sih….uuhhm…. well.. yeah…hiks….aukh ah gelap apakah jalan hidup yang sedang saya titi saat ini sudah sesuai passion.
Passion pas masa kecil dulu sih ada 3. Iyess ada 3.
1. Jadi penulis
2. Jadi pianis
3. Jadi …. (oh pliss, jangan mentang mentang nomer 1 dan 2 berakhiran -is, untuk yang nomor 3 kalian nebaknya saya pingin jadi penge*is ). Yang ketiga saya pingin jadi arsitekis *hahaha maksa*

1. Jadi penulis.
Entah kenapa profesi penulis itu “seksi”, ketjeh. Bagi saya, penulis itu seolah menggenggam kehidupan. Dia bisa menciptakan karakter yang dia inginkan. Dia bisa menentukan nasib dari tokoh yang dia ciptakan. Dia bisa membuat badai, tsunami, kota masa depan, kerajaan megah dll dalam setiap detail setting yang dia susun. Dia bisa memutar waktu, melempar pembaca ke masa lalu, melesatkan pembaca ke ribuan tahun yang akan datang. Atau justru membekukan waktu.
Writer almighty, rite πŸ™‚
Saya belum jadi penulis. Tapi someday, mungkin (?)
Poin ini beneran kudu dimasukin ke dalam Dream List πŸ™‚
Penulis favorit ?
Uuhhm…saya tidak terlalu spesifik mengidolakan tulisan seseorang. Selama ini saya menikmati novelnya Ilana Tan. Penulis favorit saya, mungkin. Saya terpukau dengan caranya melukis kalimat. Nanti ya, selanjutnya saya akan posting satu satu tentang buku buku yang saya sukai.
*udah sok berasa jadi pro reviwer. Ihihihihihi*

2. Jadi pianis.
I have no idea kenapa dulu sekali pernah pengen jadi pianis.
Pianis itu anggun, berkelas.

3. Jadi arsitekis *hah*
Dulu, saya suka sekali melihat desain rumah. Eh yang ini bagus. Yang itu cantik. Suka main balok – balok kecil yang bisa disusun jadi berbagai macam bentuk. Bermain sama imajinasi.
Percaya atau tidak, ketika punya cita – cita masa kecil, dan kita selalu mendengungkannya dalam hati, kemungkinan suatu saat jalan hidup kita mengarah ke sana. Tinggal lihat aja, berapa persen simpang errornya. Pas ataukah ada sedikit meleset.
Jadi…….pas jaman masih pakai seragam putih abu abu dulu, sempat terpikir saya masuk farmasi aja deh. Etapi ada pendaftaran poltek. Jadilah saya iseng iseng daftar ke teknik sipil. Dan voila, diterima.
Faktanya, saya sekarang kerja bukan murni di bidang sipil πŸ˜€
Masih berhubungan, tapi tidak terlalu erat. *halah* πŸ˜€

Eiya, nambahin satu lagi yaa….suka berkhayal jadi princess…hahaha…. waktu kecil, suka dibacain buku dongeng Cinderella, Sleeping Beauty, sama Beauty and The Beast.
Dan itu mungkin tertanam ke alam bawah sadar kali ya?
Kalau punya anak ntar, maunya kudongengin terus tiap malam ah. Atau diajakin menghafal ayat suci.
Ingin menanamkan memory yang positif πŸ™‚
Katanya sihh…anak kecil yang suka dibacain buku akan lebih kaya kosa katanya jika dibandingkan dengan anak yang tidak diakrabkan dengan buku sedari kecil. Katanyaaa…..

Udah 3 ya sharing passion nya?
Yang mungkin masih dan akan selalu jadi passion saya adalah passion nomor 1. Semoga πŸ™‚

Masih ada passion lain dalam benak saya. Mungkin masuk ke dalam kategori dream list ya? Kapan hari di sebuah grup dibahas tentang daftar mimpi. Saya jadi kepengin mencoba bikin dream list juga.

Apa passion mu?
Tulis mimpimu dan wujudkan ! πŸ˜€