The Particular Sadness of Lemon Cake

image

Lagi suka baca novel berbahasa inggris. Entah karena saya lagi mengalami pergeseran selera baca, ataukah ebook yang kebetulan bisa didapat dari e-library salah satu teman di klub buku surabaya semuanya berbahasa inggris 😀

Buku yang berhasil saya baca kali ini berjudul The Particular Sadness of Lemon Cake karya penulis Aimee Bender. Berkisah tentang gadis kecil bernama Rose. Rose punya kemampuan bisa merasakan “rasa sesungguhnya” dari sebuah makanan. Ia bisa merasakan kehampaan, kesepian, bahkan keputusasaan dari sepotong kue yang ia makan. “Rasa ajaib” yang timbul adalah perasaan sesungguhnya dari diri si pembuat makanan. Di sinilah Rosie bisa tahu apa yang sesungguhnya dirasakan oleh Ibunya, Lane.

Lane terlihat selalu ceria, tapi ternyata ada perasaan terdalam yang selalu ditutupi. Ayah Rose, tipe pria yang selalu berpikir dan bersikap : everything is okay. Dan Joseph, kakaknya yang terlihat asyik dengan dunianya sendiri. Sekilas, keluaga Rose terlihat normal tetapi aneh. Nah, lho.

Rose merasa bahwa ia mengalami semacam delusi. Merasakan “hati” dari si pembuat kue terkadang tidak selalu menyenangkan. Ketika ia merasakan ada kehampaan dalam sepotong kue yang digigitnya, maka ia seolah bisa merasakan kehampaan tersebut merasuk ke dalam jiwanya. *halah* :-p

Bagi kalian penyuka novel dengan penggambaran detail, maka siap – siap dimanjakan oleh narasi dalam novel ini. Saya jadi ikut membayangkan bagaimana the real taste of cake saat si Rose mengecap sepotong kue ke dalam mulutnya, menyentuh langit – langit di rongga mulutnya, lalu menyapunya dengan ujung lidah. Uhuuuy.

Ketika membaca novel ini di awal – awal, terasa agak membingungkan karena tidak adanya tanda baca petik alias “…”
Jadi, kadang merasa bingung. Mana yang narasi mana yang percakapan. Tapi lama kelamaan mulai terbiasa kok.
Empat bintang untuk novel ini, good job 🙂

Happy reading 🙂

I’ve Got Your Number – Sophie Kinsela

Judul : I’ve Got Your Number
Penulis : Sophie Kinsela

Finally ! Ini adalah novel pertama berbahasa inggris yang berhasil saya baca dari awal sampai tuntas. Membutuhkan waktu sekitar satu minggu lebih. Wkwkwkw. Duuhheeii, rasanya emejing bow’ !
Lidah ini sampai keriting saat proses membacanya. Bahkan sampai kebawa dalam percakapan sehari hari. Sok keminggris gitu. Hahahaha. Sebelumnya, saya tidak pernah berhasil menyelesaikan satu pun novel yang berbahasa inggris. Misal : saat membaca Fifty Shades of Grey, Mockingjay, atau pun The Casual Vacancy, saya menyerah pada beberapa halaman pertama. Lalu lompat ke tengah. Dan akhirnya benar – benar menyerah.

Balik lagi ke fokus cerita awal.
Poppy Wyatt lost her emerald ring! Cincin warisan keluarga Tavishes yang digunakan oleh Magnus Tavishes untuk melamarnya. Di tengah kebingungan yang melanda, Poppy juga kehilangan ponselnya karena dicopet. Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah ponsel di dalam keranjang sampah.
Bagi Poppy, sesuatu yang telah berada di keranjang sampah, adalah barang yang telah dibuang oleh pemiliknya. Dan siapapun yang menemukannya berhak memilikinya. Masalahnya itu adalah ponsel Sam Roxton. Dan itu ponsel perusahaan tempat Sam bekerja. Poppy menolak mengembalikannya. Karena ia terlanjur memberikan nomor ponsel itu kepada pihak hotel dan teman temannya. Ia membutuhkan ponsel itu agar siapapun yang menemukan cincinnya bisa menghubunginya kembali.
Hidup Poppy yang sudah ruwet, semakin ditambah ruwet lagi karena ia harus mengurusi setiap email dan pesan yang masuk ke ponsel Sam.
Sam membutuhkan ponsel itu untuk urusan pekerjaan. Semakin lama Poppy semakin terseret masuk ke dalam kehidupan Sam. Tidak hanya itu saja, menjelang hari pernikahannya yang semakin dekat, Poppy juga dipusingkan dengan keluarga tunangannya yang sepertinya tidak menyukainya. Keluarga intelek yang merasa superior karena keintelekan mereka.

So, apakah Poppy menemukan cincinnya kembali ?
Saya tidak akan spoiler di sini. Hihihihi. Pun, tidak akan membocorkan tentang karakter dua pria dalam hidup Poppy, yaitu Sam dan Magnus. Kalau saya bocorin, pasti penilaian kalian tentang mereka akan menjadi bias.
Twist nya keren sekali. Dan endingnya, seperti yang saya harapkan. Cuman sih, namanya juga fiksi ya? Ending seperti apapun bisa dibikin. Coba kalau di kehidupan nyata , apalagi di Indonesia , Poppy mengambil keputusan seperti itu. Wooo…dia bakal habis dicaci maki.

Pergi kau! Durhaka! Bikin malu keluarga!
Jreng jren ..adegan mata melotot. Hidung kembang kempis. Tangan menunjuk nunjuk. Zoom in. Zoom out.
Jreeng jreeengg
*abaikan, adegan ini cuma ada dalam sinetron Indonesia*

 

” All I can say is… she’s the one I think about. All the time , she’s the voice I want to hear.  She’s the face I hope to see.”

 

Jadiii…….karena saya penggemar romance, dan mulai menyukai  novel novelnya Sophie Kinsela, maka saya beri empat bintang dari lima.
Happy reading 🙂

Sherlock Begins : A Study In Scarlet

Judul Buku : Sherlock Begins : A Study In Scarlet
Penulis         : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit     : Bukune
Cetakan     : Pertama, September 2012
ISBN             : 602 – 220 – 078 – 4
Dimensi Buku : 212 halaman ; 14 x 20 cm

“ Menelusuri benang merah. Bagaimana kalau kita pakai istilah seni ? Ada benang merah pembunuhan yang menyelip di kekusutan kehidupan yang tak berwarna, dan tugas kita adalah mengurai, memisahkan, dan mengungkap setiap jengkal benang merah itu.”  – Halaman 67 –

A Study in Scarlet mengisahkan tentang pertemuan pertama antara Sherlock Holmes dan Dokter Watson. Yang sekaligus merupakan kasus perdana yang mereka hadapi, sebagai seorang partner tak resmi.
Dokter Watson kembali ke London setelah terluka di sebuah medan perang. Ia dikenalkan oleh seorang rekan kepada Sherlock Holmes. Dan mereka sepakat untuk berbagi apartemen demi menghemat uang sewa. Mulanya, Dokter Watson bertanya – tanya apa pekerjaan yang sedang ditekuni oleh Holmes. Rekannya ini begitu misterius sehingga memancing rasa penasaran Dokter Watson. Hingga suatu ketika, Holmes mendapat permintaan penyelidikan suatu kasus kematian misterius. Telah ditemukan sosok mayat yang meninggal tak wajar, tanpa ada barang bukti pembunuhan. Dari Baker Street, petualangan pertama mereka pun dimulai.
Pembaca akan dibawa berpetualang menyusuri jejak pembunuhan tersebut. Detail demi detail disajikan oleh Holmes melalui analisa deduksinya. Hingga akhirnya kita akan menemui ujung benang merah dari kasus pembunuhan ini.

Komentar saya :
Cover berwarna putih dengan siluet wajah tampak samping bertinta merah yang (mungkin) menggambarkan sosok Sherlock Holmes secara visual. Sejujurnya, saya mengenal karakter Sherlock Holmes dan Sir Arthur Conan Doyle justru dari komik serial detektif Conan yang tokoh utamanya begitu mengidolakan Mr. Holmes. Ditambah lagi, saya menonton versi filmnya terlebih dulu baru membaca bukunya. Hal ini menyebabkan ketika saya membaca novel ini, saya selalu membayangkan sosok Mr. Holmes terwakili dengan baik oleh Robert Downey, Jr.  Pun, ketika Mr. Holmes sedang mengamati sesuatu dengan serius, yang terbayang pertama kali adalah Robert Downey lengkap dengan variasi ekspresinya.
Ketika kali pertama menyusuri lembar demi lembar pembuka A Study In Scarlet,  saya perlu berkonsentrasi lebih. Penggunaan kata ganti ‘saya’, yang menceritakan tentang Mr. Holmes melalui kacamata Dokter Watson, terasa agak mengganggu dan kaku. Namun, ketika semakin terjun ke dalam cerita, saya mulai menikmati jalannya petualangan dua sekawan ini, dan justru tertarik menyimak deduksi – deduksi yang dikemukakan oleh Holmes. Betapa sebuah hal kecil sederhana ternyata bisa mewakili bahkan mengungkap hal besar jika kita berpikir secara terstruktur dan analitis.
Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, seperti yang sudah saya kemukakan di awal, berisi tentang petualangan Holmes dan Dokter Watson melalui ‘kacamata’ Dokter Watson. Bagian kedua, sorry tidak akan saya bongkar di sini. Susunlah kepingan puzzle – mu sendiri 🙂
Overall, bintang tiga dari lima untuk A Study in Scarlet. Tak ada yang mustahil untuk diungkap oleh seorang Sherlock Holmes.
Selamat membaca 🙂

Oleh – oleh dari Kompas Gramedia Fair Surabaya

23 – 27 April 2014 kemarin ada Kompas Gramedia Fair di Supermall Surabaya.
Jarang – jarang ada event seperti ini. Jujur, sebenarnya yang saya incar adalah talkshownya A Fuadi – penulis bestseller trilogi Lima Menara -, dan juga klinik naskah dimana kita bisa konsultasi langsung sama para editornya penerbit Gramedia.
Huhuhu tapi Supermall ini jaaauuhh di ujung sonoh. Jadinya pupus sudah harapan bisa sambang ke klinik naskah. Karena jamnya juga bentrok sama jam kerja saya 😦
Bocoran dari temen, katanya dia ketemu sama Anastasia Aemilia, penulis novel Katarsis *novel thriller ala indonesia*, ada juga Agustinus Wibowo – penulis Titik Nol.

Jadilah, saya sama suami ke KGF pas hari minggu tanggal 27 April 2014.
Jreng jreng, ternyata Fuadi udah dimulai talkshownya dari tadi.
Akhirnya, saya nyimak beliau dari boothnya Gramedia store.

Sedikit kutipan dari Fuadi, jika kamu ingin jadi penulis ada beberapa tips dasar ( saya tulis secara garis besar ala ala saya ya ) :
1. Why ? Kenapa ?
Kenapa kalian ingin jadi penulis ? Kenapa kalian ingin menulis ?
Fuadi bilang, dulunya beliau pernah dinasehati : manusia yang paling baik adalah manusia yang bermanfaat bagi yang lain.
Nah, apa keahlianmu ? Apa kebisaanmu ?
Fuadi merasa beliau bisa menulis. Maka, tulislah hal yang bermanfaat. Berbagilah hal yang bermanfaat buat orang lain.

Kalau jawaban versi saya :
Why : karena saya suka membaca dan menulis. Titik.
Membaca dan menulis adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.
Bahkan (mungkin) membaca adalah kebiasaan baik yang sangat dianjurkan.
Iqra’ : bacalah.
Karena hanya dengan membaca, kita bisa menyibak ilmu pengetahuan.

2. What ? Apa ?
Apa yang akan kalian tulis ? Tulislah apa yang kalian suka, maka kalian akan jadi suka menulis 😀
Apapun profesi kalian, latar belakang kalian, tulislah apa yang kalian suka. Jika profesimu dokter tapi suka menulis tentang tanaman, ya silakan sah sah aja menulis tentang tanaman.
Jangan memaksakan menulis apa yang tidak kalian sukai.

3. When ? Kapan ?
Kapan mulai menulis ? Terserah kalian. Asal, menulislah dengan tekun dan konsisten. Misal sehari nulis satu lembar aja, selama setahun udah dapet berapa lembar ? 365 kan? Nah, udah bisa jadi satu buku tuh.

4. Where ? Dimana ?
Sebenarnya kemarin ada ulasan tentang “where” tidak ya ?
Saya lupa, maaf 😀
Ya mungkin intinya : menulislah dimanapun kalian suka.
Kalau saya suka nulis di tab *bukan niat pamer,toh tab saya juga yang harganya murah kok*
Awalnya beli tab sih niat ngasih kado buat ultah suami. Dia kan suka main game, nah tab nya ini mau diisiin game.
Eh ternyata malah akhirnya saya yang “menguasai” kepemakaian tab. Bersih gak ada fitur game nya. Saya isi sama aplikasi ms office, wordpress, simple mind, dan aplikasi lain buat aktivitas tulis menulis. *ceileh begaya banget*
Jadi, tiap di kepala ada sesuatu yang ingin dituangkan, bisa langsung ditulis aja. Gak perlu nunggu lama. Ntar keburu ilang idenya.

Tambahan :
Jaman sekarang, mungkinkah penulis bisa dijadikan sebuah profesi ?
Fuadi said :
“jika ada seseorang yang bertanya pada saya, apa profesi saya ?
Maka saya akan jawab : i’m a writer. Saya penulis.
Pada kenyataannya, menjadi penulis bisa membuka banyak jalan. Misalnya : menjadi narasumber di sebuah talkshow seperti ini. Sekaligus mempromosikan hasil karya. Membentuk komunitas Lima Menara.”

– dst dst dst –

Sayangnya, gak bisa lebih khusuk dan lebih lama menyimak Fuadi. Karena Mr. Muhandoko yang gorjess syalala udah berisik aja ngajakin pulang. Dia gak betah. Bosen. Jenuh. Capek. Bla bla bla. He’s a game freak, not a bookworm 😦

Okeeh…jadilah dengan berat hati ninggalin talkshownya Fuadi. Kita jalan ngelewatin boothnya Penerbit DivaPress.
Dan, Mr. Muhandoko teriak kayak anak kecil kegirangan :
” Ini ada DivaPress! Bukumu yang mana ? Ada gak ya?”

Zzzzz…… entar aja deh pamernya kalau beneran udah debut nulis novel. Ini kan baru antologi…. bbbzzzz….

Ehem ehem, suatu hari nanti, In Sha Allah jika ada orang bertanya apa profesi saya, maka saya dengan bangga akan menjawab :
“I’m a writer.”
Ijazah teknik sipilku udah kugadaikan :p
Nambah lagi dink, jadi mommy ketjeh badaeh, jadi super gorjess wifey, jadi entrepeneur sekalian 😀
Berdoa boleh donk minta borongan. Ntar terserah Gusti Allah mau ngasi yang mana. Dikasi semua ya Alhamdulillah banget, dikasi sebagian juga gapapa. Tapi sisanya dikasi nyusul ya Allah ya :p

Saya sempet motret Fuadi, tapi dari kejauhan. Jadi, gambarnya blur dan gak jelas. Gak jadi dipamerin di sini deh 😀

Sekian dulu ocehan dari saya .
Happy Writing 🙂