Review : Secret Clean Body Lotion

Karena bodylotion saya udah abis dan lagi bosen sama baunya bodybutter, kemarin nyoba beli lotion dengan wangi beda.

Tadaaaaa…..

image

*flatlay gagal* *bayangannya terfamfang nyatah* bhahahaha :)))

Jadiiiiii……saya beli Secret Clean ini karena pas diskon di salah satu supermarket besar *aku mah anaknya suka ga kuat iman kalo liat diskon*
Di struk tertulis harga aslinya sekitar up to 20 ribuan *saya agak lupa tepatnya berapa*, lalu diskon jadi sekitar 7 ribu skian.

Sumpeee looo…mureeehh amat, bang mamat aja ga murahan.
*lalu tiba tiba takut karena barangnya murah banget*

Jreeeng jreeengg…. mari kita lihat

image

Sebenernya karena membaca berbagai review tentang kosmetik yang mengandung paraben, saya jadi agak aware. Tapi kok ya tiap kosmetik yang kebetulan saya lihat dalam komposisinya mengandung paraben.
Nanti ya kapan-kapan kita obrolin tentang paraben ini. Atau di sini ada yang mau suggest/sudah pakai produk kosmetik yang bebas paraben?

Lanjut ke Secret Clean. Kemasannya dipencet seperti kemasan botol sabun cair. Bagus sih, keliatan oke. Tapi saya kurang suka karena gak praktis. Kalo masuk tas, gak sengaja kepencet-pencet  gimana? Beleber donk.

Teksturnya lebih cair daripada lotion yang biasa saya pake. Lebih cepat meresap ke kulit. Jadi ga pake acara menggumpal kelamaan di permukaan. Tapi jangan salah, kalo saya olesin pagi ntar pas wudhu siang masih kerasa lembut di tangan kok.

Baunya? Kebetulan yang saya beli ini setrong banget. Wangi sih, agak tajem kalo saya bilang.

Pros :
– murah *hahahaha kan pas dapet diskon*
– Mr. Muhandoko suka sama wanginya *bhahahaha ini komen subjektif syekali sodara sodara*

Cons :
– kemasannya kurang praktis. Meski menurut saya kemasannya bagus.

Repurchase ?
I’m sorry, sadly no. Tapi kalo Secret Clean diskon lagi *hidup DISKON!!!* mungkin saya akan beli lotion dengan varian wangi lainnya 😊

Kalo kalian gimana, punya lotion dengan wangi favorit?

Mrs. Muhandoko

Walking After You – Windry Ramadhina

Walking After You

2014-12-29 09.14.44
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Pertama, 2014
Jumlah halaman : 318

‘ Kau tak perlu melupakan masa lalu.
Kau hanya perlu menerimanya.’

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali padanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkah kau merasa seperti itu?
Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia.Pernahkah kau seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka?

Mungkin, kisah An seperti kisahmu. Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

Huaaa…. setelah selesai menutup lembar terakhir dari Walking After You, saya menyatakan diri resmi menjadi fansnya mbak Windry Ramadhina. Membaca buku ini, serasa ada sensasi nonton kompetisi masak ala ala master Chef. *abaikanopiningawurini*
An dan Arlet adalah saudara kembar. An penyuka masakan Italia, sedangkan Arlet penikmat kue Prancis.Hebatnya mbak Windry, dia menghubungkan kesukaan An dan Arlet menjadi ciri khas mereka masing-masing.
Arlet penyuka kue manis. Jadi, pembawaannya juga manis, lembut, dan cute. Dia punya motto :
satu sendok krim bisa menyelamatkan harimu. Dia suka segala sesuatu seperti shabby chic, vintage. *eh bener gak ya? karena saya sempet ngintip inspirasi tentang Arlet di pinterest-blog nya mbak Windry, jadi saya menyimpulkan seperti itu* Arlet, you’re so sweet :’)
An, seperti masakan Italia. Menyala bak rempah-rempah. Bayangkan kalian lagi makan pasta, maka seperti itulah ‘taste of An’.
Mereka hidup bahagia sebagai sepasang saudara kembar. Sama-sama punya passion menjadi koki. Dan suatu saat, ingin mendirikan trattoria mereka sendiri. Such a lovely life, isn’t?
Sampai suatu ketika, mereka jatuh hati pada pria yang sama. Jinendra.
*sini-sini, Jinendra sama saya aja biar kalian gak rebutan gitu. #eehh *
ketika itulah urusan jatuh cinta yang harusnya manis dan berbunga-bunga berubah menjadi mimpi buruk.

Susah buat gak spoiler di sini 😥

An, harus melepas masa lalu. Ia melanjutkan hidup dengan bekerja di Afternoon Tea. Tempat dimana kau bisa menikmat souffle terenak buatan Julian. Koki kue ganteng di Afternoon Tea yang terlalu-kelewat-amat-serius. Apa yang selanjutnya terjadi? Dapatkah An berdamai dengan masa lalunya?
Hayook… segera miliki novelnya di toko buku terdekat. Dan segera baca ditemani segelas coffee dan rinai hujan *ala ala promo album* .

Novel ini terlalu ‘manis’ untuk bisa saya ceritakan. Kalian harus ‘mencicipinya’ sendiri.

Di sini, mbak Windry memasukkan salah satu unsur novel London di Afternoon Tea. Dialah Ayu! Si Pembawa Hujan.
Psst… saya belum membaca London, dan setelah mengetahui betapa ‘kelabu’ nya si Ayu, saya jadi pingin baca London. *ada yg mau endorse? ahak ahak*
Overall, diksi yang disajikan mbak Windry mampu membuat saya ‘meleleh’.
Serasa bisa bayangin nikmatnya pasta buatan An dan souffle ala Julian. Saya gemes banget sama tingkahnya Julian. Aw.. dia manis sekali 🙂
Namun, ketika membaca part Jinendra, mendadak atmosfernya berubah ‘dewasa’. Hehehehe.

Good job, mbak Windry. Four stars.
Happy reading.

Les Lettres a Juliet

Lagi hot pengen ngeblog. Sudah lamaaaa sekali sejak saya sama salah satu temen saya panggil saja Menuk iseng iseng ikut kursus bahasa Prancis di IFI – dulunya CCCL. Seneng sih, Madamme nya yang ngajar cantik, centil, ceria. Tapi galak boookk. *ditimpuk duit euro*

Namanya Madamme Wea *Mam, lumayan kaann kesebut di blog ku* hihihihihi

Saya kursusnya cuman sampe debutant B dan itupun gak pinter pinter ngahngoh mulu karena sering bolos les buat masuk kuliah malem, karena waktu itu mau fokus kelarin skripsi. Sedang si Menuk lanjut capcuss ke level selanjutnya dan sampe ikut delf juga kayake. Daann.. ketika nemu tulisan ini di notes FB, saya terkenang akan masa lalu, quand j’etais jeune *halah* itung itung nostalgila 🙂

Jadi pengen les lagi. Kangen masa masa itu 🙂

Dan bisanya cuman nulis ini doank, kurang kosakata 😛 ini pun entah grammar nya bener entah ngaco. Tapi kayaknya sih ngaco sekali. Wkwkwkwk. Saya repost di sini yaa…ini review kilat film Letters To Juliet. Yg mainin si cantik Amanda Seyferd.

Hier,j’ai regarde le film: les lettres a juliet.

Sophie,elle est jeune,belle,et sympathique fille.
Elle va aller a italy avec son fiancé.il s’appele Victor.
La bas,sophie a alle a la maison de Juliet (katanya se famous at there). Puis,elle a rencontre les secrétaire des Juliet. Elles repondrent les lettres.

Puis,Sophie a rencontre Claire et Charlie.
Charlie est son petit-fils.il est jeune,beau,et arrogant.
Au italy, Claire cherchera son petit ami quand elle etait jeune.
Il s’appelle Lorenzo Bartollini.

Donc,ils sont ensemble (sophie,claire,et charlie) chercher Lorenzo.

Finalement,ils trouvent Lorenzo.
Alors, Lorenzo et Claire se marient. (tulisane bener gini?)

Et, Charlie aimer Sophie. Elle l’aime aussi. Mais, Sophie a fiancé.
Qu’est-ce que ils iront?
Vous devez regarder le film 🙂

*hehehe,still bermasalah with grammar.pardon.
Mais,ce n’est pas grave.im still learning :p

I love writing,but i hate speaking:p

REVIEW TENNIS PARTY MADELEINE WICKHAM

Penulis                         : Madeleine Wickham / Sophie Kinsella Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama Tebal                           : 352halaman ISBN                            : 978-979-229-216-9 Sabtu musim panas yang menyenangkan. Empat pasangan berkumpul untuk bertanding tenis. Perkenalkan tuan rumahnya: Patrick si OKB dan istrinya, Caroline, yang norak dan blak-blakan. Mereka mengundang sahabat-sahabat lama, sekaligus ingin memamerkan rumah baru mereka di pedesaan. Perkenalkan para tamunya: Stephen dan Annie, mantan tetangga mereka yang hidup pas-pasan; Charles si pendaki jenjang sosial dan Cressida, istrinya yang berdarah bangsawan; Don dan Valerie, ayah-anak yang sangat kompetitif. Ketika bola pertama dipukul melewati net, dimulailah akhir pekan yang penuh minuman, godaan, penipuan, serta pengungkapan yang mengguncang. Jelaslah bahwa pesta ini bukan sekadar soal pertandingan tenis. Review : Patrick dan Caroline Chance adalah OKB. Mereka menjadi ‘kaya’ karena pekerjaan Patrick sebagai penjual investasi. Keluarga Chance pindah dari Seymour Road ke pedesaan di Bindon. Mereka tinggal bersama anak tunggal mereka, Georgina. Saat musim panas tiba, mereka mengundang para sahabat untuk sekadar bermain tenis sekaligus memamerkan rumah baru keluarga Chance. Kalo membaca deskripsi penulis sih, saya bayanginnya rumah keluarga Chance ini luas dan megah. Ala ala rumah keluarga bangsawan Inggris deh. Dengan padang rumput tempat Georgina bisa menunggang kuda poni, kamar kamar yang luas dan mewah dengan sprei satin mengkilat. Serta taman bunga luas tempat terjadinya salah satu ‘tragedi’ di pertengahan cerita novel ini. *awas spoiler*. Sebenarnya sih, Caroline ini cinta banget sama Patrick. Saling mencintai. Taaapii….Caroline adalah tipe ‘ibu ibu sosialita masa kini’. Dia gengsi banget buat nunjukin kalau dia itu sebenarnya cinta sama Patrick. Dan si Caroline ini pintar menyembunyikan perasaan. Dia juga setia kawan. Kalau Patrick sih, wooohh mungkin bisa dibilang dia ini ‘biang keladi’. Gara – gara Patrick yang kekeuh ngejar bonus dari penjualan asuransi, dia nekat dan merasa sah – sah aja mengelabui sahabatnya agar mau membeli produk investasinya. Bahkan, bisa dibilang pesta tenis ini diadakan Patrick demi modus tersebut. Pasangan Stephen dan Annie Fairweather adalah keluarga yang biasa – biasa saja. Bahkan, Stephen tidak punya pekerjaan karena ia sedang mengejar gelar Doktornya. Mereka juga mempunyai anak perempuan yang berkebutuhan khusus, sehingga memerlukan perhatian dan dana lebih. Keluarga ini menurut saya keluarga yang awalnya oke. Stephen dan Annie sayang dan kompak dalam mengasuh kedua anaknya. Annie bahkan oke oke saja dan nriman meski suaminya tidak bekerja. Awalnya Stephen juga oke, tapi ketika bertemu dengan teman temannya yang pada sukses semua, mulai deh timbul rasa tidak percaya diri, rasa iri. Dan ini memicu Stephen untuk melakukan tindakan yang di luar logika. Don dan Valerie Roper adalah ayah – anak tetangga dari keluarga Chance. Mereka ayah – anak yang sangat kompetitif. Terlebih lagi si Don. Dia tipe orang yang gak mau kalah sama orang lain. Lalu yang terakhir adalah Charles dan Cressida Mobyn . Mereka adalah pasangan yang terlihat paling kaya di antara semuanya. Charles rela meninggalkan mantan pacarnya, Ella, demi bisa  menikah dengan Cressida yang kaya dan keturunan bangsawan. Cressida ini tipikal wanita anggun. Wajah dan ekspresinya datar datar aja. Dan, dia berusaha sebisa mungkin tidak terlalu dekat dengan orang lain. Tapi dia ini begonya ampun deh 😛 Charles yang awalanya okay saja menurut saya, dia digambarkan tipe pria penyayang keluarga. Suka gendong anak kembarnya ke sana ke mari. Easy going dan ramah. Tapi, akhirnya ketauan juga ntar belangnya. Awalnya pesta tenis berjalan oke oke dan smooth. Lalu, si Patrick mulai melancarkan misinya. Ada yang lolos dari jeratan, tapi ada pula yang bego terjerat. Laluu…hawa – hawa persaingan antar wanita pun menyeruak. Mulai dari saingan gaun, perhiasan, serta riasan. Daann…di tengah acara muncullah seseorang yang –menurut saya – dia akan menjadi trigger terkuaknya semua permasalahan dalam masing – masing keluarga yang sedang memakai topeng kesempurnaan ini. Entah kenapa, akhir – akhir ini saya lagi demen baca karyanya Sophie Kinsella. Khusus untuk buku ini dan beberapa karya lainnya, ia menggunakan nama aslinya. Awalnya saya gak ngeh juga, kenapa dia pakai nama beda ? setelah dibandingkan, auranya emang beda. Dalam karya Sophie Kinsella – ex: Shopaholic Series, I’ve Got Your Number – ceritanya ringan dan pop sekali. Tokoh utama wanitanya ceria, rada oon tapi cerdas. Nah lho bingung kan ? Sedangkan saat dia pakai Madeleine Wickham, karyanya lebih dewasa dan gelap. Tapi ya gak gelap gelap amat sih. Mungkin itu sebabnya dia ingin agar pembaca tidak tercampur aduk intrepetasinya ketika membaca karyanya yang lebih dewasa. Karena imejnya Sophie Kinsella kan ringan dan chicklit banget. Kali ini, saya kasi rating bintang tiga dari lima boleh, kan ? karena apa , ya ….. saya kurang puas sama endingnya L ada keluarga yang menurut saya eksekusi dari problemnya dia belum dituntasin. Tapi…. saya tetep mau hunting dan mau baca another Kinsella’s book 😀

The Particular Sadness of Lemon Cake

image

Lagi suka baca novel berbahasa inggris. Entah karena saya lagi mengalami pergeseran selera baca, ataukah ebook yang kebetulan bisa didapat dari e-library salah satu teman di klub buku surabaya semuanya berbahasa inggris 😀

Buku yang berhasil saya baca kali ini berjudul The Particular Sadness of Lemon Cake karya penulis Aimee Bender. Berkisah tentang gadis kecil bernama Rose. Rose punya kemampuan bisa merasakan “rasa sesungguhnya” dari sebuah makanan. Ia bisa merasakan kehampaan, kesepian, bahkan keputusasaan dari sepotong kue yang ia makan. “Rasa ajaib” yang timbul adalah perasaan sesungguhnya dari diri si pembuat makanan. Di sinilah Rosie bisa tahu apa yang sesungguhnya dirasakan oleh Ibunya, Lane.

Lane terlihat selalu ceria, tapi ternyata ada perasaan terdalam yang selalu ditutupi. Ayah Rose, tipe pria yang selalu berpikir dan bersikap : everything is okay. Dan Joseph, kakaknya yang terlihat asyik dengan dunianya sendiri. Sekilas, keluaga Rose terlihat normal tetapi aneh. Nah, lho.

Rose merasa bahwa ia mengalami semacam delusi. Merasakan “hati” dari si pembuat kue terkadang tidak selalu menyenangkan. Ketika ia merasakan ada kehampaan dalam sepotong kue yang digigitnya, maka ia seolah bisa merasakan kehampaan tersebut merasuk ke dalam jiwanya. *halah* :-p

Bagi kalian penyuka novel dengan penggambaran detail, maka siap – siap dimanjakan oleh narasi dalam novel ini. Saya jadi ikut membayangkan bagaimana the real taste of cake saat si Rose mengecap sepotong kue ke dalam mulutnya, menyentuh langit – langit di rongga mulutnya, lalu menyapunya dengan ujung lidah. Uhuuuy.

Ketika membaca novel ini di awal – awal, terasa agak membingungkan karena tidak adanya tanda baca petik alias “…”
Jadi, kadang merasa bingung. Mana yang narasi mana yang percakapan. Tapi lama kelamaan mulai terbiasa kok.
Empat bintang untuk novel ini, good job 🙂

Happy reading 🙂

I’ve Got Your Number – Sophie Kinsela

Judul : I’ve Got Your Number
Penulis : Sophie Kinsela

Finally ! Ini adalah novel pertama berbahasa inggris yang berhasil saya baca dari awal sampai tuntas. Membutuhkan waktu sekitar satu minggu lebih. Wkwkwkw. Duuhheeii, rasanya emejing bow’ !
Lidah ini sampai keriting saat proses membacanya. Bahkan sampai kebawa dalam percakapan sehari hari. Sok keminggris gitu. Hahahaha. Sebelumnya, saya tidak pernah berhasil menyelesaikan satu pun novel yang berbahasa inggris. Misal : saat membaca Fifty Shades of Grey, Mockingjay, atau pun The Casual Vacancy, saya menyerah pada beberapa halaman pertama. Lalu lompat ke tengah. Dan akhirnya benar – benar menyerah.

Balik lagi ke fokus cerita awal.
Poppy Wyatt lost her emerald ring! Cincin warisan keluarga Tavishes yang digunakan oleh Magnus Tavishes untuk melamarnya. Di tengah kebingungan yang melanda, Poppy juga kehilangan ponselnya karena dicopet. Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah ponsel di dalam keranjang sampah.
Bagi Poppy, sesuatu yang telah berada di keranjang sampah, adalah barang yang telah dibuang oleh pemiliknya. Dan siapapun yang menemukannya berhak memilikinya. Masalahnya itu adalah ponsel Sam Roxton. Dan itu ponsel perusahaan tempat Sam bekerja. Poppy menolak mengembalikannya. Karena ia terlanjur memberikan nomor ponsel itu kepada pihak hotel dan teman temannya. Ia membutuhkan ponsel itu agar siapapun yang menemukan cincinnya bisa menghubunginya kembali.
Hidup Poppy yang sudah ruwet, semakin ditambah ruwet lagi karena ia harus mengurusi setiap email dan pesan yang masuk ke ponsel Sam.
Sam membutuhkan ponsel itu untuk urusan pekerjaan. Semakin lama Poppy semakin terseret masuk ke dalam kehidupan Sam. Tidak hanya itu saja, menjelang hari pernikahannya yang semakin dekat, Poppy juga dipusingkan dengan keluarga tunangannya yang sepertinya tidak menyukainya. Keluarga intelek yang merasa superior karena keintelekan mereka.

So, apakah Poppy menemukan cincinnya kembali ?
Saya tidak akan spoiler di sini. Hihihihi. Pun, tidak akan membocorkan tentang karakter dua pria dalam hidup Poppy, yaitu Sam dan Magnus. Kalau saya bocorin, pasti penilaian kalian tentang mereka akan menjadi bias.
Twist nya keren sekali. Dan endingnya, seperti yang saya harapkan. Cuman sih, namanya juga fiksi ya? Ending seperti apapun bisa dibikin. Coba kalau di kehidupan nyata , apalagi di Indonesia , Poppy mengambil keputusan seperti itu. Wooo…dia bakal habis dicaci maki.

Pergi kau! Durhaka! Bikin malu keluarga!
Jreng jren ..adegan mata melotot. Hidung kembang kempis. Tangan menunjuk nunjuk. Zoom in. Zoom out.
Jreeng jreeengg
*abaikan, adegan ini cuma ada dalam sinetron Indonesia*

 

” All I can say is… she’s the one I think about. All the time , she’s the voice I want to hear.  She’s the face I hope to see.”

 

Jadiii…….karena saya penggemar romance, dan mulai menyukai  novel novelnya Sophie Kinsela, maka saya beri empat bintang dari lima.
Happy reading 🙂

Sherlock Begins : A Study In Scarlet

Judul Buku : Sherlock Begins : A Study In Scarlet
Penulis         : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit     : Bukune
Cetakan     : Pertama, September 2012
ISBN             : 602 – 220 – 078 – 4
Dimensi Buku : 212 halaman ; 14 x 20 cm

“ Menelusuri benang merah. Bagaimana kalau kita pakai istilah seni ? Ada benang merah pembunuhan yang menyelip di kekusutan kehidupan yang tak berwarna, dan tugas kita adalah mengurai, memisahkan, dan mengungkap setiap jengkal benang merah itu.”  – Halaman 67 –

A Study in Scarlet mengisahkan tentang pertemuan pertama antara Sherlock Holmes dan Dokter Watson. Yang sekaligus merupakan kasus perdana yang mereka hadapi, sebagai seorang partner tak resmi.
Dokter Watson kembali ke London setelah terluka di sebuah medan perang. Ia dikenalkan oleh seorang rekan kepada Sherlock Holmes. Dan mereka sepakat untuk berbagi apartemen demi menghemat uang sewa. Mulanya, Dokter Watson bertanya – tanya apa pekerjaan yang sedang ditekuni oleh Holmes. Rekannya ini begitu misterius sehingga memancing rasa penasaran Dokter Watson. Hingga suatu ketika, Holmes mendapat permintaan penyelidikan suatu kasus kematian misterius. Telah ditemukan sosok mayat yang meninggal tak wajar, tanpa ada barang bukti pembunuhan. Dari Baker Street, petualangan pertama mereka pun dimulai.
Pembaca akan dibawa berpetualang menyusuri jejak pembunuhan tersebut. Detail demi detail disajikan oleh Holmes melalui analisa deduksinya. Hingga akhirnya kita akan menemui ujung benang merah dari kasus pembunuhan ini.

Komentar saya :
Cover berwarna putih dengan siluet wajah tampak samping bertinta merah yang (mungkin) menggambarkan sosok Sherlock Holmes secara visual. Sejujurnya, saya mengenal karakter Sherlock Holmes dan Sir Arthur Conan Doyle justru dari komik serial detektif Conan yang tokoh utamanya begitu mengidolakan Mr. Holmes. Ditambah lagi, saya menonton versi filmnya terlebih dulu baru membaca bukunya. Hal ini menyebabkan ketika saya membaca novel ini, saya selalu membayangkan sosok Mr. Holmes terwakili dengan baik oleh Robert Downey, Jr.  Pun, ketika Mr. Holmes sedang mengamati sesuatu dengan serius, yang terbayang pertama kali adalah Robert Downey lengkap dengan variasi ekspresinya.
Ketika kali pertama menyusuri lembar demi lembar pembuka A Study In Scarlet,  saya perlu berkonsentrasi lebih. Penggunaan kata ganti ‘saya’, yang menceritakan tentang Mr. Holmes melalui kacamata Dokter Watson, terasa agak mengganggu dan kaku. Namun, ketika semakin terjun ke dalam cerita, saya mulai menikmati jalannya petualangan dua sekawan ini, dan justru tertarik menyimak deduksi – deduksi yang dikemukakan oleh Holmes. Betapa sebuah hal kecil sederhana ternyata bisa mewakili bahkan mengungkap hal besar jika kita berpikir secara terstruktur dan analitis.
Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, seperti yang sudah saya kemukakan di awal, berisi tentang petualangan Holmes dan Dokter Watson melalui ‘kacamata’ Dokter Watson. Bagian kedua, sorry tidak akan saya bongkar di sini. Susunlah kepingan puzzle – mu sendiri 🙂
Overall, bintang tiga dari lima untuk A Study in Scarlet. Tak ada yang mustahil untuk diungkap oleh seorang Sherlock Holmes.
Selamat membaca 🙂