#HouseTalk : Sudut Baca

 

Edisi kali ini mau ngomongin soal sudut baca ya. Beuugh…rumah seciprit aja gegayaan mau bikin sudut baca. Wkwkw indak apo apo. Meski rumah cuman sekotak dusta dan masih ngutang, tapi tetep kudu dijadiin sarang yang nyaman donk. Setujes?

Enyunouwat, saya cuma punya satu ruang tengah di rumah yang multifungsi syekali. Jadi ruang tamu oke, ruang keluarga iye, ruang makan pun hayuk. Maklum, derita rumah kecil, dari pintu depan koprol-koprol aja udah nyampe pintu belakang :))) Sejak jaman Flinstone dulu, saya pingin suatu saat nanti punya semacam perpustakaan mini atau minimal sudut baca di dalam rumah. Entahlah, pingin aja menumbuhkan budaya membaca di dalam keluarga.*apeeeuuu*

Bayangkan saja, kamu berdiri di tengah-tengah ruangan dengan rak kayu menjulang tinggi hingga ke langit-langit, yang mendekap erat berkubik-kubik buku. Aroma pelitur dan kertas usang menguar menyesaki pernapasan. *apalagi ditemani sama babang* Duh, romantis gak sih rasanya πŸ˜›

cat-718936_960_720

mau baca buku ditemenin abang, dek ?

Sebelumnya, sempet terngiler-ngiler dengan ratjun-ratjun di pinterest. Jadi, mari kita bikin semacam moodboard pemantik ide.

See.. ruangan kecil aja bisa jadi sudut baca yang kece kan ?

sumber : pinterest

 

Kalo diliat-liat, benang merah berbagai sudut baca di atas ada pada tempat yang nyaman dengan pencahayaan yang bagus. Mari kita ciptakan sudut baca di rumah dengan budget sederhana. Ga usah berbudget mahal, ga usah bela-belain beli furniture baru yang kece demi scene instagramable,Β  cukup manfaatkan furniture yang sudah ada saja. Meski kalo saya punya duit lebih juga bakal pingin borong sofa lucuk ke informa sih. *saya mah anaknya gitu, ngomongnya begini kelakuannya begono* :)))

sudut baca

 

Laluuuu…mari kita lihat apa yang saya punya di rumah.
1. Coffe table.
Ini meja hasil ngerampok dari rumah kakek. Dulu warnanya udah pudar. Biar keliatan kece lagi, Mr. M melapisinya dengan cat warna coklat tua. *sayang, saya ga punya foto meja sebelum di make over*

2. Kotak kardus bekas sepatu.

3. Gelas kaca yang udah tidak terpakai.
Ini sebenernya gelas kesukaan saya, cuma karena waktu nyuci kebentur dinding, jadinya kacanya retak dan gak mungkin donk dipakai lagi. Akhirnya saya tulis-tulisin deh tu kacanya biar keliatan beda dan menyamarkan letak retaknya.

4. Kotak kardus bekas gelas.

5. Kertas kado.
Optional, tergantung seleres yey.

Jadi, coffee table saya letakkan di sudut ruangan. Sebelumnya si meja ini diletakkan di tengah ruangan dan sudut sebelumnya berupa sudut mati. Alias tidak dipergunakan untuk apa pun. Maka saya letakkan saja mejanya di sana. Semata-mata memanfaatkan sudut dan agar ruangan terlihat lebih lega.

Nah, di bagian bawah meja ini ada semacam rak yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan buku. Buku yang sedang saya baca, saya masukkan ke dalam kardus bekas sepatu. Seharusnya, boleh kok kotaknya dilapis kertas kado. Tapi karena warna hitamnya terlihat ‘oke’ di mata saya, dan juga karena menyesuaikan tone warna meja kayu, maka saya biarkan saja si kotak ini apa adanya.

Atur di atas coffe table.

Daaan voilaa….ada sudut baca di #TheMuhandokosNest

Karena ruangan ini juga difungsikan sebagai ruang tamu, maka sisakan sedikit space di atas coffe table sebagai tempat menyajikan minuman dan camilan ringan untuk para tamu yang berkunjung. Lagian, kami jarang menerima tamu. Rumah kecil mah udah kodratnya berbagi fungsi ruang :p

Gimana dengan kalian, punya sudut baca di rumah gak?

#HouseTalk : Talenan Kayu

Halo…setelah tagar #PillowTalk yang ngobrolin hal absurd di malam hari, mulai minggu ini saya bakal punya satu postingan bertema untuk hari Jumat ya. Kenapa hari Jumat? Ato mungkin tagarnya diganti aja jadi #JumatKeramat ? :)))

Please say Allow to #HouseTalk.Β  Jadi, kita bakal ngobrolin segala sesuatu yang punya benang merah tentang rumah. Bukan cuma tentang #TheMuhandokosNest doank kok, tapi bakal ngobrolin hal-hal lain seputaran rumah. *yeiyelah…rumah saya masih ngutang mah not instagrammable, horah layak dipamerin* *maaf,bukan orang riya*

Kali ini saya mau ngobrolin soal talenan kayu. Beberapa teman yang sudah mengenal saya, tau donk kalo saya sedang gandrung dengan talenan kayu

*purapuraterkenal*
*apaa? Ada yang mau ngadoin saya talenannya Kemala? Mau mau mau pake banget*
*laludisambittalenanbeneransamapembaca*

 

381011392bee7b50da0234248c1dd782

Picture Taken From IG @kemalahomeliving

 

Normalnya, talenan kayu berfungsi sebagai chop chop food in the dapur. Namun bagi orang tidak normal seperti saya, talenan kayu tidak melulu buat memasak yaa… *buat nabokin kucing tetangga juga bisa* Saya lebih suka mengalihfungsikan talenan kayu ke hal-hal lain. Misalnya sebagai properti foto, alas makanan, alas foto sebagai pengganti pigura,Β  nomor rumah, atau juga buat digambarin.

 

f2fffec2142586d3b128c1baaf6625f5

Picture Taken From Pintereset

 

1f0a794aaa677ad061c0fa0de7724f41

picture taken from Pinterest

Apakah harus beli talenan mahal yang kecenya pake bingits itu?

Ah, kalo saya sih masih mengikuti selera dompet ajah :))) Talenan yang biasa saya pake harganya under 10k kok :p Ntar gimana cara kita bikin dia bisa jadi VIP aja.. *doohh bahasamuu*

Jadi, mari kita lihat kegunaan talenan kayu versi saya :

Sebagai alas makanan.
Ah, lumanyun kan selain dipake buat alas juga bisa dipake buat pepotoan. Lupakan rasa, fotoin dulu :p

 

 

Sebagai alas foto pengganti pigura.Β  Sebagai alas gambar, sebagai hiasan rumah.

 

 

Jadi, gimana, ada yang lagi gandrung talenan kayu sama seperti saya gak?

Kangen Rumah

Duuhh, beneran deh saya lagi kangen rumah. Padahal sejak post ini dipublish, saya baru ninggalin rumah sekitar 2,5 jam yang lalu. Hahaha… call me lebay πŸ˜›

Semalam, karena Mr. M agak lama di kantor, kami pulangnya telat. Baru sampai rumah sekitar jam setengah sembilan malam. Abis gitu nyemil bareng sambil liat TV entah acaranya apa, main game, trus tidur deh. Dan bangun-bangun udah pagi lagi πŸ™‚

Beberapa hari ini juga ga bisa nikmatin suasana rumah. Eh, gak beberapa hari dink, hampir setiap hari malah. Wkwkwk :)) Kalo hari libur, saya adaaa aja acaranya keluar rumah. Dalam sebulan, paling cuma 1 hari doank saya bisa stay full di rumah seharian.

Aselik, lagi kangen rumah parah. Besok Minggu pingin di rumah aja ah seharian. Orang sok sibuk mau leyeh leyeh dulu πŸ™‚

 

 

KPR , Antara Dicinta dan Dibenci (?)

Salaam…

Masih inget postingan saya yang nyeritain tentang gimana proses kami menemukan jodoh ? Naah kali ini saya akan menceritakan tentang proses pengajuan KPR nya. FYI, disini kami mengajukan KPR via developer, jadi bukan pengajuan KPR secara mandiri. Dan , apa yang saya sampaikan di sini dilihat dari kacamata saya selaku pihak pemohon kredit πŸ™‚

Setelah membayar booking fee – dengan catatan bahwa booking fee tidak termasuk harga jual dan hanya berlaku maksimal 3 ( tiga ) hari, dan tidak dapat dikembalikan dengan alasan apapun – maka kami pun mulai mengatur strategi keuangan untuk segera membayar cicilan pertama down payment.

Sedikit info, kebijakan tentang booking fee berkaitan dengan tenggat waktu berlakunya, tergantung dari masing – masing developer. Umumnya sih sekitar 3 hari sampai dengan 1 minggu.

Ketika akad pembayaran DP I, saya selaku pemohon menandatangani beberapa berkas soal detail pembelian rumah. Kalau saya sih, saya baca poin per poin baru membubuhkan tanda tangan di tiap poin nya. Lalu ada sesi sharing singkat mengenai total penghasilan suami istri , dan total pengeluaran per bulan. Apakah sedang ada cicilan tetap saat ini. Misalnya : cicilan kendaran bermotor, cicilan rumah lain, ataukah pernah punya tunggakan kredit macet sehingga berpotensi nama kita masuk ke dalam daftar black list Bank Indonesia. Semua itu nantinya bisa mempengaruhi penilaian bank terhadap kestabilan kondisi keuangan kita. Bank akan menganalisanya, lalu berujung pada keputusan apakah pengajuan kita disetujui atau tidak, disetujui disertai dengan TUM ( Tambahan Uang Muka ), ataukah disetujui full tanpa tambahan persyaratan apapun.

Setelahnya, kami diharuskan melengkapi berkas – berkas untuk pengajuan KPR. Umumnya berisi data diri pemohon dan pasangan pemohon ( jika sudah menikah ), slip gaji, surat keterangan bekerja disertai stempel dari perusahaan , print out buku tabungan minimal 3 bulan terakhir, copy KTP, copy KK, dan pasfoto berwarna terbaru.

Setelah berkas kami lengkap dan diserahkan ke pihak developer untuk dicek kembali, besoknya kami berdua ditawari untuk langsung wawancara di bank. Okesip, semakin cepat semakin baik.

Kami janjian dengan staff dari developer yang mengurusi KPR ini untuk langsung ketemuan di bank. Dan kami pun diberi β€˜kursus singkat’, tips and trick tentang pertanyaan dan jawaban saat wawancara nanti πŸ˜€

Wawancaranya berlangsung singkat. Seputar apa yang ada di berkas kami. Soal penghasilan, pengeluaran, apakah sudah punya anak atau belum, tempat tinggal sekarang, dan tentunya apakah ada cicilan lain.

Setelah itu…siap siap aja…pihak bank akan melakukan cek dan ricek ke tempat kerja. Kalau saya sih, 2 hari setelah wawancara pihak bank telpon ke kantor dan tanya tanya seputar gaji, lama kerja, posisi saat ini, dan seputaran itu lah. Untungnya pihak bank cuma nelpon sekali aja. ada lho….yang survey sampai disambangi ke kantornya. untungnya saya enggak digituin πŸ˜›

Dan voilaaa….kami wawancara hari Senin, dan hari Jumat – nya sudah langsung dapat kabar kalau pengajuan KPR kami disetujui oleh pihak bank secara full, tanpa tambahan uang muka. kami juga sudah dapet bukti ACC dari bank.

Alhamdulillah yaa….rejeki anak sholeh πŸ™‚

 

Done ? Beluuummm….

ternyata eh ternyata sodarah sodarah…. ketika kami akan melakukan realisasi, kami dapet kabar bahwa bank melakukan penilaian ulang, sehingga kami disetujui dengan dikenakan tambahan uang muka. gak tanggung tanggung booookk.. besarnya 2 kali lipat dari jumlah uang muka kesepakatan di awal *nangis kejer guling guling*

cobaaa pemirsaaahh …apa gak shock saya ? terluka …teraniaya …tersakiti …. πŸ˜›

apakah saya mungkin belum jadi anak sholeh sehingga ‘nikmat’ nya KPR full tidak jadi menghampiri? apa salaah sayaa ? *efek kebanyakan nonton sinetron* πŸ˜›

well.. katanya sih karena ini terhitung pembelian rumah kedua dari salah satu pihak. tapi saya selaku pemohon kan baru pembelian pertama. setelah googling googling, ternyata suami – istri dianggap sebagai satu nama debitur. sehingga tetep aja saya kena TUM.

saya pribadi sedikit kecewa sih. lebih ke … ” wah elo PHP gue nih.. katanya acc full, sekarang pake tambahan lagi ..”

setelah ngobrol ngobrol sama orang developer dan pihak bank, mereka bilang bahwa memang sudah seperti itu ketentuannya. ada peraturan khusus untuk pembelian rumah kedua. seperti kita kalau beli kendaraan bermotor lebih dari satu, maka akan terkena yang namanya pajak progresif kan ?

well.. oke lah kalau begitu . rencana keuangan jadi kacau balau. mulai deh muter otak gimana caranya nyari “tambalan” buat DP . mungkin mau jual salah satu asset :p *preeeettt* seriuss…ini beneran bikin puyeng. karena keputusannya H-2 sebelum kami melakukan realisasi. dan rencana pindahan ke rumah baru akhir november ini pun dengan sangat terpaksa diundur hingga semua kendala administrasi terselesaikan *nangis kejer*

eniwei, karena saya udah terlanjur bete, saya niat mau cerewetin itu bangunan. udah ada yang saya incer bagian mana aja yang mau saya cerewetin, dan minta diganti. saya kan beli rumah baru, gak mau donk kalo ada yg rusak dikit. karena saya kan belum memakai sama sekali. sekalian bawa disto, buat ngukur ketepatan ukuran bangunan.Β  *gini ini, kalo ada pasangan teknik sipil beli rumah πŸ˜› * sekalian gantian doonk…biasanya di kantor saya yang dicerewetin sama klien – klien. sekarang saatnya saya jadi klien cerewet.. wkwkkkk…. WASPADALAH WASPADALAAAHH !!!

daaaannn tanggal 6 kemarin ( lagi – lagi berhubungan sama angka 6, yaa πŸ˜› ) kami melakukan realisasi di bank, di depan notaris. alhamdulillah.. akhirnya kami resmi punya rumah , dan semoga cicilan lancar tak ada kendala sampai lunas nanti. aamiin πŸ˜€

Rumah Pertama Mr. and Mrs. Muhandoko

Finally, akhirnya setelah penantian panjang sepanjang cintamu padaku , akhirnya rumah pertama Mr.and Mrs. Muhandoko bisa digenggam juga. Hehehe. Rasanya seneeeeng tiada terkira. Kali ini saya mau cerita mengenai proses gimana kami bisa menemukan jodoh . dibaca : rumah impian. Kaaaan kata orang, nyari rumah sama kayak nyari jodoh. Harus yang pas, tepat, klik di hati dan di kantong. Hihihihihi. *kenapa dikasi judul rumah pertama ? karena siapa tahu suatu saat nanti kami bisa membeli rumah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnyaaa… aamiin …heheheh πŸ™‚ *

Berawal dari sms mertua yang berisi : β€œ Mbak, ada pameran rumah di sini. Besok terakhir.”

Akhirnya saya sama Mr. Muhandoko besok malemnya dateng ke pameran yang dimaksud. Di Jatim Expo Surabaya. Ada banyak stand yang menawarkan berbagai tipe dan lokasi rumah. Mulai dari Surabaya, Malang, Mojokerto, Banyuwangi, hingga Lumajang pun ada. Dengan beragam harga dan cicilan πŸ˜€

Seperti biasa, kami berdua muter muter stand satu per satu. Mintain brosur, dan sedikit tanya – tanya mengenai lokasi rumah yang sedang ditawarkan. Hal seperti ini selalu kami lakukan kalau pas ada pameran rumah. Jadinya kami punya banyak brosur numpuk.

Naahh… tiba pada suatu stand. Ternyata stand ini menawarkan rumah yang lokasinya deket banget sama rumah mertua. Dan terjangkau juga jika saya mau mudik ke tanah leluhur *tsaahh bahasamuu*

Akhirnya saya pun nanya – nanya sama marketing yang lagi jaga.

Kami nanya soal uang muka, soal cicilan, soal lama waktu cicilan, soal kondisi lingkungan dan keamanan, tentang fasilitas umum yang ada, dapet gratis ini itu apa enggak, daaaan yang paling pentiingg…dapet diskon gak ? *maklum, the sense of emak emak*

Lhahh judulnya aja Pameran Perumahan Rakyat. Ya saya harus nyari rumah seharga kocek rakyat jelatah sepertih sayah inih donkh πŸ˜›

Dikeluarin lah site plan yang dia punya. Saya ditawarin enam buah rumah yang katanya lagi diskon. Ternyata sih, sebagian besar rumah di situ udah laku dan udah ditempatin. Sisa rumah dengan harga diskon adalah di belakang sono noohh.. ada 2 opsi. Pilih yang hadep sawah atau yang hadep tetangga. Tentunya dengan beda harga juga.

Sama marketingnya, saya disaranin milih rumah yang ini. Karena saya masih belum puas atas penjelasan si marketing, kami pun janjian lagi dateng ke standnya lusa.

Lusa, kami dijelasin lagi lebih detil. Gambaran tentang cicilan dan lain lain. Mr. Muhandoko sampai heran, karena tidak biasanya saya seantusias ini nanya nanya soal rumah yang sedang ditawarkan. Berhubung saat itu adalah Sabtu malem, kami memutuskan untuk mudik ke rumah mertua. Dan besoknya niat sekalian survey lokasi. Dengan semangat 45 dan ngajak Mamih mertua, kami pun survey.

Kesan pertama saat masuk di gate depan cluster, saya udah mulai naksir sama situasi keseluruhan komplek perumahan ini. Berbekal petunjuk arah dari satpam yang lagi jaga di pos depan, kami pun menemukan calon jodoh kami. Berhenti tepat di depan rumah, hihihi saya berhenti pas banget di depannya. Kesan pertama ? I love this house !

Dengan pedenya, saya buka pintu depan. Eh gak terkunci. Lalu Mamih ngikutin saya masuk juga. Mamih bilang : β€œ Assalamualaikum ….boleh masuk, Mbak ? ”

Saya jawabnya asik aja : β€œ Walaikumsalam….boleeh doonk ..”

Hihihihi firasat kali yaaa πŸ˜›

Rumahnya mungil. Tapi saya suka πŸ™‚

Dalam pikiran saya, saya udah rencanain bakal saya dekor seperti apa rumah ini πŸ™‚

Btw, karena saya suka warna pink, saya pingin dinding eksterior depan rumah di cat warna pink. Tapi Mr. Muhandoko dengan sigap langsung menolak. Wkwwkwk dasar priaaahh πŸ˜€

Oke, saya naksir rumah ini. Dan siangnya kami pun mudik lagi ke rumah leluhur saya. Ketemu sama tante. FYI : karena Ibu saya sudah almarhumah, maka tante saya jadi our 2nd Mum.

Kami konsultasi sama tante tentang rumah dan sebagainya. Oke, tante pun acc πŸ™‚

Lah kok si marketing sms lagi. Nanyain gimana udah survey belum ? Bla bla bla. Dengan sedikit saran : kalau udah suka booking aja mbak. Mumpung lagi diskon dan harga belum naik. ( dan memang, dalam waktu sekitar 1 bulan setelahnya, harga rumah di situ udah naik sekitar 20 jutaan).

Oke, akhirnya saya sama Mr. Muhandoko pun nekat memutuskan untuk membeli rumah ini πŸ˜€

Lalu lalu lalu lalu ? Nanti yaa… saya akan ceritain proses dari awal kami mengajukan KPR, persetujuan KPR dari bank, hingga realisasinya.

Psssttt dibikin bersambung ya… biar kayak sinetron gitu.. hihihi…