Parasayu – teaser 1

Sudah setengah jam Parasayu termenung di sini. Di sebuah coffe shop bergaya vintage di tengah kota. Dengan wangi kopi , coklat, dan aneka penganan manis bergula yang bercampur menjadi satu. Parasayu duduk di sudut. Di sebuah sofa empuk warna coklat tua, yang sandarannya menempel pada dinding pembatas antara area pengunjung dengan pantry. Melalui jendela kaca dari tempatnya kini, Ayu bisa melihat lalu lalang pejalan kaki. Awalnya mereka berjalan dengan tenang. Dengan langkah teratur tapi tak berirama. Lalu langkah – langkah kecil tersebut semakin melebar. Berubah menjadi sepasang kaki yang berlarian sembari menutup kepala mereka dengan salah satu tangan.
Ayu mendongakkan wajah. Ia baru menyadari bahwa awan kelabu telah berubah menjadi rintik hujan. Jemarinya terangkat. Ujungnya menyusuri jendela kaca. Dengan sekali hembusan napas, noda bak embun tak beraturan pun muncul.
” Yu, sori lama.”
Parasayu memutar kepala. Didan telah duduk tepat di depannya. Lelaki muda itu melepaskan jaketnya yang tampak sedikit basah. Ia mengibaskan rambut. Percikan airnya mengenai Parasayu. Membuat gadis itu tertawa riang.

Tangan Parasayu terulur. Menyeka wajah Didan dengan beberapa lembar tissue yang dilipat jadi satu, ” Nikah yuk, Dan.”
” Ayuk, ” Didan tersenyum simpul. Tangannya terangkat. Meraih lengan Parasayu yang masih sibuk menyeka wajahnya. Lalu Didan menggenggamnya erat, ” Tapi tidak sekarang.”
” Kenapa?” Parasayu merasa kerongkongannya mengering,” Umurku hampir kepala tiga. Orangtuaku pun sudah mendesakku agar segera menikah.”
Parasayu mendengar lelaki di hadapannya kini menghela napas, ” Aku masih belum siap secara finansial.”
” Tapi, kita kan sudah sama – sama bekerja,” Parasayu mencoba menawar. Dan ia sadar,konsekuensinya adalah ia bisa saja dicap sebagai wanita kelewat tak laku yang memaksa seorang laki – laki untuk segera menikahinya. Meskipun Didan adalah kekasih yang sudah menemaninya selama dua tahun ini,” … kita bisa sama – sama berusaha. Aku akan membantumu.”

” Tidak mau! Aku laki – laki. Dimana harus kuletakkan harga diriku jika aku dibiayai seorang wanita? Apa aku harus menyembunyikannya?Β  Menguncinya rapat – rapat dan berpura – pura lupa pada kenyataan bahwa kodrat lelaki adalah sebagai pemimpin wanita?”

” Aku tidak sedang mencoba untuk memimpinmu, ” suara Parasayu tersendat, ” kita bisa memulai semuanya dari awal. Bersama – sama.”

Parasayu merasakan genggaman tangan Didan mengendur. Semakin tak bertenaga. Lalu terlepas sama sekali. Menyisakan segurat kekecewaan di mata Didan yang nyata – nyata ditunjukkannya kepada Parasayu.

” Kalau kau ingin menikah. Silakan saja. …, ” suara Didan bergetar di antara nada ketegasan seorang lelaki muda, ” … tapi tidak denganku.”

Parasayu merasakan kesunyian yang mendadak mencengkeram. Ia seolah tak bisa mendengar apapun. Pandangannya mengabur. Menyisakan Didan sebagai fokus utamanya. Aroma kopi yang mulanya mendominasi, segera saja tergantikan oleh aroma Didan. Aroma yang. .. tidak dapat dijabarkan Parasayu dalam wujud kata – kata. Menggelitik hidung. Lalu menghunjam tepat di jantung. Bercokol kuat di sana. Seperti rindu yang tak berujung.

” Kau. .. ” Parasayu berusaha meraih kesadarannya kembali. Ia tak percaya harus mengucapkan kalimat tabu,” … mencampakkanku?”

Didan membuang muka. Menerawang jauh ke jalanan dimana air hujan masih terus mengepung manusia – manusia di luar sana, ” Jangan cengeng. Aku tidak suka kalau kau merajuk.”

” Aku tidak merajuk, ” bela Parasayu, ” Apakah menyampaikan gagasan tentang pernikahan adalah sebuah rajukan?”

” Ya.Β  Setidaknya bagiku.”

” Kita sudah bersama selama dua tahun. Usiaku sudah lebih dari cukup, ” Parasayu mencoba menguasai diri,” Orangtuaku ingin agar aku segera menikah.”

” Mungkin aku yang salah. Telah memilih seorang wanita yang usianya jauh di atasku.”

Parasayu mengangkat wajahnya. Ototnya menegang. Ia mencengkeram ujung bajunya yang terjuntai di atas celana. Cengkeraman tangannya semakin mengetat. Membentuk lekukan tulang jari – jemari dengan sempurna. Ia menatap Didan dengan seksama. Dan ketika tatapan mereka bertemu, Parasayu berusaha mencari – cari kebenaran di balik ucapan Didan. Sampai akhirnya ia merasa lelah.
Parasayu bangkit dari duduknya. Menatap hot chocolatte miliknya di dalam sebuah cangkir warna coklat polos tanpa ornamen. Hot chocolatte itu telah menemaninya menunggu Didan sore ini. Uapnya telah menghilang. Aromanya tak lagi menguar.
Tanpa mengucapkan selamat tinggal, Parasayu berlalu dari hadapan Didan. Sepatunya beradu dengan lantai parkit kayu saat melangkah. Ia sejenak menghentikan kaki saat menyentuh pegangan pintu kaca. Ia ingin agar Didan mengejarnya. Namun, lelaki itu tetap mematung.
Parasayu mendesah. Sudah saatnya mengakhiri semua. Ia mendorong pintu dengan sekuat tenaga. Dengan sisa – sisa harga diri seorang wanita yang masih melekat. Hawa dingin segera mencucuk persendiannya. Bau tanah basah menggelitik penciumannya. Parasayu tidak peduli. Ia meletakkan satu telapak tangan yang tertangkup tepat di atas kepala. Lalu berlari menembus perisai air hujan.

Setidaknya di bawah hujan, ia lega bisa menyembunyikan air matanya yang mendesak turun.

” postingan dalam rangka mencoba keluar dari zona nyaman menulis ala ala slengek’an πŸ˜› “

KPR , Antara Dicinta dan Dibenci (?)

Salaam…

Masih inget postingan saya yang nyeritain tentang gimana proses kami menemukan jodoh ? Naah kali ini saya akan menceritakan tentang proses pengajuan KPR nya. FYI, disini kami mengajukan KPR via developer, jadi bukan pengajuan KPR secara mandiri. Dan , apa yang saya sampaikan di sini dilihat dari kacamata saya selaku pihak pemohon kredit πŸ™‚

Setelah membayar booking fee – dengan catatan bahwa booking fee tidak termasuk harga jual dan hanya berlaku maksimal 3 ( tiga ) hari, dan tidak dapat dikembalikan dengan alasan apapun – maka kami pun mulai mengatur strategi keuangan untuk segera membayar cicilan pertama down payment.

Sedikit info, kebijakan tentang booking fee berkaitan dengan tenggat waktu berlakunya, tergantung dari masing – masing developer. Umumnya sih sekitar 3 hari sampai dengan 1 minggu.

Ketika akad pembayaran DP I, saya selaku pemohon menandatangani beberapa berkas soal detail pembelian rumah. Kalau saya sih, saya baca poin per poin baru membubuhkan tanda tangan di tiap poin nya. Lalu ada sesi sharing singkat mengenai total penghasilan suami istri , dan total pengeluaran per bulan. Apakah sedang ada cicilan tetap saat ini. Misalnya : cicilan kendaran bermotor, cicilan rumah lain, ataukah pernah punya tunggakan kredit macet sehingga berpotensi nama kita masuk ke dalam daftar black list Bank Indonesia. Semua itu nantinya bisa mempengaruhi penilaian bank terhadap kestabilan kondisi keuangan kita. Bank akan menganalisanya, lalu berujung pada keputusan apakah pengajuan kita disetujui atau tidak, disetujui disertai dengan TUM ( Tambahan Uang Muka ), ataukah disetujui full tanpa tambahan persyaratan apapun.

Setelahnya, kami diharuskan melengkapi berkas – berkas untuk pengajuan KPR. Umumnya berisi data diri pemohon dan pasangan pemohon ( jika sudah menikah ), slip gaji, surat keterangan bekerja disertai stempel dari perusahaan , print out buku tabungan minimal 3 bulan terakhir, copy KTP, copy KK, dan pasfoto berwarna terbaru.

Setelah berkas kami lengkap dan diserahkan ke pihak developer untuk dicek kembali, besoknya kami berdua ditawari untuk langsung wawancara di bank. Okesip, semakin cepat semakin baik.

Kami janjian dengan staff dari developer yang mengurusi KPR ini untuk langsung ketemuan di bank. Dan kami pun diberi β€˜kursus singkat’, tips and trick tentang pertanyaan dan jawaban saat wawancara nanti πŸ˜€

Wawancaranya berlangsung singkat. Seputar apa yang ada di berkas kami. Soal penghasilan, pengeluaran, apakah sudah punya anak atau belum, tempat tinggal sekarang, dan tentunya apakah ada cicilan lain.

Setelah itu…siap siap aja…pihak bank akan melakukan cek dan ricek ke tempat kerja. Kalau saya sih, 2 hari setelah wawancara pihak bank telpon ke kantor dan tanya tanya seputar gaji, lama kerja, posisi saat ini, dan seputaran itu lah. Untungnya pihak bank cuma nelpon sekali aja. ada lho….yang survey sampai disambangi ke kantornya. untungnya saya enggak digituin πŸ˜›

Dan voilaaa….kami wawancara hari Senin, dan hari Jumat – nya sudah langsung dapat kabar kalau pengajuan KPR kami disetujui oleh pihak bank secara full, tanpa tambahan uang muka. kami juga sudah dapet bukti ACC dari bank.

Alhamdulillah yaa….rejeki anak sholeh πŸ™‚

 

Done ? Beluuummm….

ternyata eh ternyata sodarah sodarah…. ketika kami akan melakukan realisasi, kami dapet kabar bahwa bank melakukan penilaian ulang, sehingga kami disetujui dengan dikenakan tambahan uang muka. gak tanggung tanggung booookk.. besarnya 2 kali lipat dari jumlah uang muka kesepakatan di awal *nangis kejer guling guling*

cobaaa pemirsaaahh …apa gak shock saya ? terluka …teraniaya …tersakiti …. πŸ˜›

apakah saya mungkin belum jadi anak sholeh sehingga ‘nikmat’ nya KPR full tidak jadi menghampiri? apa salaah sayaa ? *efek kebanyakan nonton sinetron* πŸ˜›

well.. katanya sih karena ini terhitung pembelian rumah kedua dari salah satu pihak. tapi saya selaku pemohon kan baru pembelian pertama. setelah googling googling, ternyata suami – istri dianggap sebagai satu nama debitur. sehingga tetep aja saya kena TUM.

saya pribadi sedikit kecewa sih. lebih ke … ” wah elo PHP gue nih.. katanya acc full, sekarang pake tambahan lagi ..”

setelah ngobrol ngobrol sama orang developer dan pihak bank, mereka bilang bahwa memang sudah seperti itu ketentuannya. ada peraturan khusus untuk pembelian rumah kedua. seperti kita kalau beli kendaraan bermotor lebih dari satu, maka akan terkena yang namanya pajak progresif kan ?

well.. oke lah kalau begitu . rencana keuangan jadi kacau balau. mulai deh muter otak gimana caranya nyari “tambalan” buat DP . mungkin mau jual salah satu asset :p *preeeettt* seriuss…ini beneran bikin puyeng. karena keputusannya H-2 sebelum kami melakukan realisasi. dan rencana pindahan ke rumah baru akhir november ini pun dengan sangat terpaksa diundur hingga semua kendala administrasi terselesaikan *nangis kejer*

eniwei, karena saya udah terlanjur bete, saya niat mau cerewetin itu bangunan. udah ada yang saya incer bagian mana aja yang mau saya cerewetin, dan minta diganti. saya kan beli rumah baru, gak mau donk kalo ada yg rusak dikit. karena saya kan belum memakai sama sekali. sekalian bawa disto, buat ngukur ketepatan ukuran bangunan.Β  *gini ini, kalo ada pasangan teknik sipil beli rumah πŸ˜› * sekalian gantian doonk…biasanya di kantor saya yang dicerewetin sama klien – klien. sekarang saatnya saya jadi klien cerewet.. wkwkkkk…. WASPADALAH WASPADALAAAHH !!!

daaaannn tanggal 6 kemarin ( lagi – lagi berhubungan sama angka 6, yaa πŸ˜› ) kami melakukan realisasi di bank, di depan notaris. alhamdulillah.. akhirnya kami resmi punya rumah , dan semoga cicilan lancar tak ada kendala sampai lunas nanti. aamiin πŸ˜€

Rumah Pertama Mr. and Mrs. Muhandoko

Finally, akhirnya setelah penantian panjang sepanjang cintamu padaku , akhirnya rumah pertama Mr.and Mrs. Muhandoko bisa digenggam juga. Hehehe. Rasanya seneeeeng tiada terkira. Kali ini saya mau cerita mengenai proses gimana kami bisa menemukan jodoh . dibaca : rumah impian. Kaaaan kata orang, nyari rumah sama kayak nyari jodoh. Harus yang pas, tepat, klik di hati dan di kantong. Hihihihihi. *kenapa dikasi judul rumah pertama ? karena siapa tahu suatu saat nanti kami bisa membeli rumah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnyaaa… aamiin …heheheh πŸ™‚ *

Berawal dari sms mertua yang berisi : β€œ Mbak, ada pameran rumah di sini. Besok terakhir.”

Akhirnya saya sama Mr. Muhandoko besok malemnya dateng ke pameran yang dimaksud. Di Jatim Expo Surabaya. Ada banyak stand yang menawarkan berbagai tipe dan lokasi rumah. Mulai dari Surabaya, Malang, Mojokerto, Banyuwangi, hingga Lumajang pun ada. Dengan beragam harga dan cicilan πŸ˜€

Seperti biasa, kami berdua muter muter stand satu per satu. Mintain brosur, dan sedikit tanya – tanya mengenai lokasi rumah yang sedang ditawarkan. Hal seperti ini selalu kami lakukan kalau pas ada pameran rumah. Jadinya kami punya banyak brosur numpuk.

Naahh… tiba pada suatu stand. Ternyata stand ini menawarkan rumah yang lokasinya deket banget sama rumah mertua. Dan terjangkau juga jika saya mau mudik ke tanah leluhur *tsaahh bahasamuu*

Akhirnya saya pun nanya – nanya sama marketing yang lagi jaga.

Kami nanya soal uang muka, soal cicilan, soal lama waktu cicilan, soal kondisi lingkungan dan keamanan, tentang fasilitas umum yang ada, dapet gratis ini itu apa enggak, daaaan yang paling pentiingg…dapet diskon gak ? *maklum, the sense of emak emak*

Lhahh judulnya aja Pameran Perumahan Rakyat. Ya saya harus nyari rumah seharga kocek rakyat jelatah sepertih sayah inih donkh πŸ˜›

Dikeluarin lah site plan yang dia punya. Saya ditawarin enam buah rumah yang katanya lagi diskon. Ternyata sih, sebagian besar rumah di situ udah laku dan udah ditempatin. Sisa rumah dengan harga diskon adalah di belakang sono noohh.. ada 2 opsi. Pilih yang hadep sawah atau yang hadep tetangga. Tentunya dengan beda harga juga.

Sama marketingnya, saya disaranin milih rumah yang ini. Karena saya masih belum puas atas penjelasan si marketing, kami pun janjian lagi dateng ke standnya lusa.

Lusa, kami dijelasin lagi lebih detil. Gambaran tentang cicilan dan lain lain. Mr. Muhandoko sampai heran, karena tidak biasanya saya seantusias ini nanya nanya soal rumah yang sedang ditawarkan. Berhubung saat itu adalah Sabtu malem, kami memutuskan untuk mudik ke rumah mertua. Dan besoknya niat sekalian survey lokasi. Dengan semangat 45 dan ngajak Mamih mertua, kami pun survey.

Kesan pertama saat masuk di gate depan cluster, saya udah mulai naksir sama situasi keseluruhan komplek perumahan ini. Berbekal petunjuk arah dari satpam yang lagi jaga di pos depan, kami pun menemukan calon jodoh kami. Berhenti tepat di depan rumah, hihihi saya berhenti pas banget di depannya. Kesan pertama ? I love this house !

Dengan pedenya, saya buka pintu depan. Eh gak terkunci. Lalu Mamih ngikutin saya masuk juga. Mamih bilang : β€œ Assalamualaikum ….boleh masuk, Mbak ? ”

Saya jawabnya asik aja : β€œ Walaikumsalam….boleeh doonk ..”

Hihihihi firasat kali yaaa πŸ˜›

Rumahnya mungil. Tapi saya suka πŸ™‚

Dalam pikiran saya, saya udah rencanain bakal saya dekor seperti apa rumah ini πŸ™‚

Btw, karena saya suka warna pink, saya pingin dinding eksterior depan rumah di cat warna pink. Tapi Mr. Muhandoko dengan sigap langsung menolak. Wkwwkwk dasar priaaahh πŸ˜€

Oke, saya naksir rumah ini. Dan siangnya kami pun mudik lagi ke rumah leluhur saya. Ketemu sama tante. FYI : karena Ibu saya sudah almarhumah, maka tante saya jadi our 2nd Mum.

Kami konsultasi sama tante tentang rumah dan sebagainya. Oke, tante pun acc πŸ™‚

Lah kok si marketing sms lagi. Nanyain gimana udah survey belum ? Bla bla bla. Dengan sedikit saran : kalau udah suka booking aja mbak. Mumpung lagi diskon dan harga belum naik. ( dan memang, dalam waktu sekitar 1 bulan setelahnya, harga rumah di situ udah naik sekitar 20 jutaan).

Oke, akhirnya saya sama Mr. Muhandoko pun nekat memutuskan untuk membeli rumah ini πŸ˜€

Lalu lalu lalu lalu ? Nanti yaa… saya akan ceritain proses dari awal kami mengajukan KPR, persetujuan KPR dari bank, hingga realisasinya.

Psssttt dibikin bersambung ya… biar kayak sinetron gitu.. hihihi…

Ada Cerita Di Balik Angka 6 6 6

Ada apa dengan angka 6 ?

Apakah saya anggota pemuja 666 ? Tidak tidak, tentu saja tidak donk ah πŸ˜›

Entah kenapa, saya suka dengan angka 6. My lucky number ? Maybe.

Ceritanya beginiii….

Waktu akan nikah sama Mr. Muhandoko, kan ada acara yang namanya Rapak tuh yaa.. istilahnya gladi bersih menjelang nikah deh… pak penghulu sama petugas yang dateng ke rumah untuk data pencatatan pernikahan, nanya ke saya dan ke Mr. Muhandoko.

— β€œ Mas, mas kawin nya apa nih ?”

saya sih mintanya emas batangan seberat 6 kilogram sama Lamborghini 6 biji sama kebon kelapa sawit 6 hektar , tapi ditolak ama Mr. Muhandoko. Ini mau minta mahar apa mau ngerampok.

++ β€œ Ehm… uang tunai dengan nominal sekian sekian sekian .” karena saya sempat minta dikasi mahar sesuai tanggal , bulan, dan tahun lahir sih.

Nah, ketika petugasnya mau nyatet, langsung deh saya sela :

**” Mending jangan deh. Ntar nyari uang pecahan segitu pasti ribet. Udah gak ada waktu lagi. β€œ

— β€œ Trus gimana mbak ?”

Pak penghulunya turun tangan, urun rembug. Sayangnya gak sekalian urun duit buat biaya nikah.

&& β€œ Nikahnya tanggal berapa sih ? Tanggal 10 – 11 – 12 ya ? Gimana kalau maharnya Rp. 101,112? Atau Rp. 1 juta sekian ?”

** β€œ Ehm…gak deh paakk…rempong cyin. Gini aja, aku minta mahar sesuai tanggal ultahku aja. Berarti dimulai dengan angka 6.”

OKE FIX !

Setelah nikaahh…ternyata kehidupan kami tidak terlepas begitu saja dari angka 6 πŸ˜€

Biaya sewa tempat tinggal Rp. 600,000.- per bulan

Hihihi…ketika akan menikah kami sudah hunting untuk tempat tinggal. Karena saya emang dasarnya cerewet tapi anggun , kami muter muter engga nemu tempat yang cocok. Yang ini lembab lah, yang mahal lah, yang sosialnya gak oke lah.. dan yang yang yang lainnya. Akhirul kata, setelah penantian dan pencarian panjang, kami nemu tempat yang oke. Bangunannya baru, Kamar Mandi dalam, dapur dalam, dan ada teras depan yang privat halah. Maksudnya kita engga nyampur ama tetangga gitu loh.. one way gate pula. .. dan kamarnya Cuma ada 4. Dan para tetangga penghuni kamar ini orang kerja semua. Jadi gak ada yang namanya rumpi cantik ala emak emak. Saya sama Mr. Muhandoko udah sreg banget. Kita memutuskan untuk tinggal di sini sementara. Daann…biaya sewanya Rp. 600,000 per bulan πŸ˜€

Kasur pertama kami seharga Rp. 600,000.-

Naahhh ini jugaaa….pas beli kasur, kami sih pinginnya spring bed ya πŸ˜› tapi duitnya gak cukup. Heheeh *aselik melas banget* akhirnya beli kasur yang lagi lagi kok ya bisa kebetulan seharga Rp. 600,000.-

Calon kontrakan kami seharga Rp. 6,000,000.-

Kami pernah memutuskan untuk mengontrak rumah yang agak luas. Dengan pertimbangan kalo pas ada sodara jadi gak ruwet karena gak ada tempat. Harganya ? lagi lagi kok ya bisa kebetulan kita dapet yang harganya Rp. 6,000,000.- Cuma karena saya kurang sreg, dan pas itu lagi eman sama duitnya, akhirnya kita cancel aja sewa kontrakan ini.

Dan Mr. Muhandoko pun sempat bilang :” udah, gak usah pindah dulu. kita ntar pindahannya langsung ke rumah sendiri aja.”

ehem…waktu itu sih yaa…masih belum kepikiran mau beli di mana. wong duit aja masih nabuuungg… kan janji di awal pernikahan dulu, kami mulai dari nol, dan sama sama berjuang berdua… ciieehh

Rumah baru kami cicilan pertamanya Rp. 6,000,000.-

Alhamdulillah….taraaaaaa …..

akhirnya kami bisa beli rumah pakai duit sendiri ! hehehe *nari remo* *joget* harganya pemirsaaahhh ?? Booking Fee 1 juta, dan cicilan pertama untuk DP nya 5 juta. Totalnya 6 juta. Lagi lagi ketemu sama angka cantik secantik saya 6. Hhihihihi…..kalo inget inget kejadian ini siihh…saya sama Mr. Muhandoko suka cekikikan bareng. Kok bisa ya… kalo alibinya Mr. Muhandoko sih, bisa jadi mahar menunjukkan nilai minimum jumlah nafkah seorang suami kepada istri πŸ˜€

ada lagii….berhubung rumah kami ini agak jauh dari tempat kerja, sekitar 1 jam perjalanan, jadi kayaknya ntar bakal berangkat jam 6 pagi deh tiap hari.. see .. ?? 6 is my number πŸ™‚

Pssttt… barusan dikabarin sama marketingnya, kalau pengajuan KPR kami sudah di acc sama bank. gak nyangka juga sih sebegitu cepetnya. karena kami baru wawancara senin tanggal 13 kemarin, eh tau nya siang ini udah langsung di acc.

Alhamdulillahh…. rejeki anak sholeh πŸ™‚

Ntar yaa…saya bakal ngepost lagi soal proses kami menemukan rumah ini. dibikin serial. hihihihi kami bersyukur banget soalnya πŸ™‚

My Passions

Salaam,
Happy Saturday πŸ™‚

Saya mah meski Saturday juga tetep fullday working searching sekeping berlian bling bling. Kalo ada yang nanya, ngapain sabtu sabtu masuk? Doohh, saya bisa gak gajian donk kalo tiap sabtu bolos πŸ˜€

Talking talking about passion, apa sih passion kalian ? Apakah passion masa kecil kalian sudah tergenggam saat ini? Apakah sekarang sudah menjalani hidup sesuai passion ? Apakah sedang berjalan atau berlari menuju passion tersebut ?
Ataukah justru mundur menjauh dari passion ?

Kalau saya sih….uuhhm…. well.. yeah…hiks….aukh ah gelap apakah jalan hidup yang sedang saya titi saat ini sudah sesuai passion.
Passion pas masa kecil dulu sih ada 3. Iyess ada 3.
1. Jadi penulis
2. Jadi pianis
3. Jadi …. (oh pliss, jangan mentang mentang nomer 1 dan 2 berakhiran -is, untuk yang nomor 3 kalian nebaknya saya pingin jadi penge*is ). Yang ketiga saya pingin jadi arsitekis *hahaha maksa*

1. Jadi penulis.
Entah kenapa profesi penulis itu “seksi”, ketjeh. Bagi saya, penulis itu seolah menggenggam kehidupan. Dia bisa menciptakan karakter yang dia inginkan. Dia bisa menentukan nasib dari tokoh yang dia ciptakan. Dia bisa membuat badai, tsunami, kota masa depan, kerajaan megah dll dalam setiap detail setting yang dia susun. Dia bisa memutar waktu, melempar pembaca ke masa lalu, melesatkan pembaca ke ribuan tahun yang akan datang. Atau justru membekukan waktu.
Writer almighty, rite πŸ™‚
Saya belum jadi penulis. Tapi someday, mungkin (?)
Poin ini beneran kudu dimasukin ke dalam Dream List πŸ™‚
Penulis favorit ?
Uuhhm…saya tidak terlalu spesifik mengidolakan tulisan seseorang. Selama ini saya menikmati novelnya Ilana Tan. Penulis favorit saya, mungkin. Saya terpukau dengan caranya melukis kalimat. Nanti ya, selanjutnya saya akan posting satu satu tentang buku buku yang saya sukai.
*udah sok berasa jadi pro reviwer. Ihihihihihi*

2. Jadi pianis.
I have no idea kenapa dulu sekali pernah pengen jadi pianis.
Pianis itu anggun, berkelas.

3. Jadi arsitekis *hah*
Dulu, saya suka sekali melihat desain rumah. Eh yang ini bagus. Yang itu cantik. Suka main balok – balok kecil yang bisa disusun jadi berbagai macam bentuk. Bermain sama imajinasi.
Percaya atau tidak, ketika punya cita – cita masa kecil, dan kita selalu mendengungkannya dalam hati, kemungkinan suatu saat jalan hidup kita mengarah ke sana. Tinggal lihat aja, berapa persen simpang errornya. Pas ataukah ada sedikit meleset.
Jadi…….pas jaman masih pakai seragam putih abu abu dulu, sempat terpikir saya masuk farmasi aja deh. Etapi ada pendaftaran poltek. Jadilah saya iseng iseng daftar ke teknik sipil. Dan voila, diterima.
Faktanya, saya sekarang kerja bukan murni di bidang sipil πŸ˜€
Masih berhubungan, tapi tidak terlalu erat. *halah* πŸ˜€

Eiya, nambahin satu lagi yaa….suka berkhayal jadi princess…hahaha…. waktu kecil, suka dibacain buku dongeng Cinderella, Sleeping Beauty, sama Beauty and The Beast.
Dan itu mungkin tertanam ke alam bawah sadar kali ya?
Kalau punya anak ntar, maunya kudongengin terus tiap malam ah. Atau diajakin menghafal ayat suci.
Ingin menanamkan memory yang positif πŸ™‚
Katanya sihh…anak kecil yang suka dibacain buku akan lebih kaya kosa katanya jika dibandingkan dengan anak yang tidak diakrabkan dengan buku sedari kecil. Katanyaaa…..

Udah 3 ya sharing passion nya?
Yang mungkin masih dan akan selalu jadi passion saya adalah passion nomor 1. Semoga πŸ™‚

Masih ada passion lain dalam benak saya. Mungkin masuk ke dalam kategori dream list ya? Kapan hari di sebuah grup dibahas tentang daftar mimpi. Saya jadi kepengin mencoba bikin dream list juga.

Apa passion mu?
Tulis mimpimu dan wujudkan ! πŸ˜€