Interlude Windry Ramadhina

interlude

Judul buku : Interlude
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Halaman : 372

Hanna, listen.
Don’t cry, don’t cry.
The world is envy.
You’re too perfect and she hates it.
Aku tahu kau menyembunyikan luka di senyummu yang retak.
Kemarilah, aku akan menjagamu, asalkan kau mau mengulurkan tanganmu.

“Waktu tidak akan berputar ulang. Apa yang sudah hilang, tidak akan kembali. Dan, aku sudah hilang.”
Aku ingat kata-katamu itu, masih terpatri di benakku.

Aku tidak selamanya berengsek. Bisakah kau memercayaiku, sekali lagi?

Kilat rasa tak percaya dalam matamu, membuatku tiba-tiba meragukan diriku sendiri.
Tapi, sungguh, aku mencintaimu, merindukan manis bibirmu.

Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya?
Kenapa masih saja senyum retakmu yang kudapati?

Hanna, kau dengarkah suara itu?
Hatiku baru saja patah…

Huaa..setelah selesai menutup lembar terakhir dari Interlude, perasaan sesak yang menghimpit mendadak menguap. Lega. Haru.
Kai – pemuda yang meminjam nama laut – tidak memiliki tujuan hidup. Keluarganya berantakan. Kuliahnya terancam drop out. Meski ia suka musik, tapi tidak punya tujuan khusus berkarir di musik. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang gadis bernama Hanna.
Hanna punya ‘luka’ masa lalu. Membuat ia takut menatap masa depan. Juga sangat takut ketika berdekatan dengan lelaki.
Kai yang suka ‘menyentuh’ wanita, dipertemukan dengan Hanna yang tidak bisa ‘disentuh’ laki-laki.
Hanna, si Gadis dari Ipanema. Ketika Kai mempersembahkan lagu untuk gadis sempurna di meja nomor sembilan, hahahah kenapa jadi saya yang tersipu malu ya 😛
Saya suka. Suukaa sekali sama Interlude. Ini adalah novel kedua dari mbak Windry Ramadhina yang saya baca setelah Walking After You. Dan, jujur, saya lebih suka sama Interlude. Padahal, Interlude masuk ke dalam daftar buku yang males saya beli pada awalnya. Yaa begitulah, batas antara benci dan cinta itu tipis sekali :p

Untuk tokohnya sendiri, saya lebih suka sama Jun. Jun dan Gitta adalah rekan band jazz dari Kai.

Halaman 45 :
Jun, pemuda itu, berdiri di samping mereka berdua, mengenakan setelan rapi dan menenteng tas kerja. Tubuh pemuda itu tinggi. Rambutnya cepak, tetapi tidak sependek rambut tentara. Matanya agak sipit, mengintip dari balik lensa minus yang tidak berbingkai. Dagunya kecil. Bibirnya tipis.
” Ah, akhirnya akuntan dengan karir menjanjikan ini datang.”

Hal 154 :
Jun tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan pemuda Second Day Charm yang satu lagi. Hanya saja, Jun tidak memanfaatkan daya tariknya untuk mengecoh perempuan. Padahal, dia punya semua yang bisa diharapkan dari seorang lelaki ideal. Pekerjaan dengan gaji tinggi, mobil, apartemen di pusat kota, sikap, bakat, tampang. Dia punya mata yang teduh serta senyum yang hangat. Dan, dia punya bibir paling sedap yang pernah dicicipi oleh Gitta.

Yaaa… Gitta, Kai, dan Jun punya semacam kisah cinta segitiga. Gitta dan Kai pernah bersama. Tapi, itu hanya kisah-cinta-sepintas-lalu. Kai, tidak pernah serius dengan wanita, sebelum akhirnya bertemu Hanna. Hal ini membuat Gitta merasa harus melindungi Hanna. Ya, mereka adalah tetangga satu apartemen. Gitta mengetahui masa lalu Hanna yang kelam.
Jun mencintai Gitta, tapi demi alasan klasik – keutuhan band – Gitta memilih berkencan
dengan pria lain. Ian. Pria yang yaahh… menurut saya tidak layak disebut sebagai pria. Karena dia suka memukul wanita.
Pesen nih ya, jangan pernah mau menjalin hubungan dengan laki-laki yang suka mengkasari wanita baik secara fisik maupun psikis. Orang kayak gitu suruh pake rok aja.

Untuk jalan ceritanya sendiri, mbak Windry pinter deh meracuni pembaca dengan membawa ‘atmosfer’ konfliknya. Saya bisa merasakan rapuhnya Hanna, seperti memegang porselen yang jika salah nyenggol dikit aja bisa langsung pecah berkeping-keping. Pipi bisa ikut memerah ketika Kai menggoda Hanna :’)

Saya bisa tersenyum saat Kai lagi kumat bengalnya. Pun bisa ikutan nyesek ketika dia memperjuangkan keutuhan pernikahan kedua orang tuanya.

Dan, heei Gitta… selama ini ada pria lembut yang mencintaimu diam-diam. Ooohh… kenapa justru saya yang terpesona sama Jun. Mengingatkan saya akan tokoh yang dimainkan Yong Hwa pada film Heartstring :’)

Saya irii sekali ketika mengetahui bagaimana keempat orang ini saling menjaga sahabatnya satu sama lain.

Dear mbak Windry,saya suka suka sukaaa sekalii sama Interlude. Ada harapan, cinta, keluarga, dan persahabatan di dalamnya. Pokoknya kece deh. Saya menemukan hal baru dalam setiap lembar halamannya. Tidak dijejali dengan percakapan klise dan pengulangan narasi yang membosankan. Daaann… tidak afdol rasanya ketika membaca novel tapi tidak mengubek – ubek blog si penulis. Hehehe… di sini mbak Windry bikin sketsa tentang Kai, Hanna, Gitta, dan Jun. Hahahaha saya ini galau yaaa…orang ini fokus ceritanya ke Kai.. saya malah naksir Jun 😛

gambarnya diambil dari blognya mbak Windry

Four stars and happy reading :-*

Psstt .. seandainya saja yaa lagu ‘Hanna’ bisa jadi lagu beneran. Hihihihi

Walking After You – Windry Ramadhina

Walking After You

2014-12-29 09.14.44
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : Pertama, 2014
Jumlah halaman : 318

‘ Kau tak perlu melupakan masa lalu.
Kau hanya perlu menerimanya.’

Pada kisah ini, kau akan bertemu An. Perempuan dengan tawa renyah itu sudah lama tak bisa keluar dari masa lalu. Ia menyimpan rindu, yang membuatnya semakin kehilangan tawa setiap waktu. Membuatnya menyalahkan doa-doa yang terbang ke langit. Doa-doa yang lupa kembali padanya.

An tahu, seharusnya ia tinggalkan kisah sedih itu sejak berhari-hari lalu. Namun, ia masih saja di tempat yang sama. Bersama impian yang ternyata tak mampu ia jalani sendiri, tetapi tak bisa pula ia lepaskan.

Pernahkah kau merasa seperti itu?
Tak bisa menyalahkan siapa-siapa, kecuali hatimu yang tak lagi bahagia.Pernahkah kau seperti itu? Saat cinta menyapa, kau memilih berpaling karena terlalu takut bertemu luka?

Mungkin, kisah An seperti kisahmu. Diam-diam, doa yang sama masih kau tunggu.

Huaaa…. setelah selesai menutup lembar terakhir dari Walking After You, saya menyatakan diri resmi menjadi fansnya mbak Windry Ramadhina. Membaca buku ini, serasa ada sensasi nonton kompetisi masak ala ala master Chef. *abaikanopiningawurini*
An dan Arlet adalah saudara kembar. An penyuka masakan Italia, sedangkan Arlet penikmat kue Prancis.Hebatnya mbak Windry, dia menghubungkan kesukaan An dan Arlet menjadi ciri khas mereka masing-masing.
Arlet penyuka kue manis. Jadi, pembawaannya juga manis, lembut, dan cute. Dia punya motto :
satu sendok krim bisa menyelamatkan harimu. Dia suka segala sesuatu seperti shabby chic, vintage. *eh bener gak ya? karena saya sempet ngintip inspirasi tentang Arlet di pinterest-blog nya mbak Windry, jadi saya menyimpulkan seperti itu* Arlet, you’re so sweet :’)
An, seperti masakan Italia. Menyala bak rempah-rempah. Bayangkan kalian lagi makan pasta, maka seperti itulah ‘taste of An’.
Mereka hidup bahagia sebagai sepasang saudara kembar. Sama-sama punya passion menjadi koki. Dan suatu saat, ingin mendirikan trattoria mereka sendiri. Such a lovely life, isn’t?
Sampai suatu ketika, mereka jatuh hati pada pria yang sama. Jinendra.
*sini-sini, Jinendra sama saya aja biar kalian gak rebutan gitu. #eehh *
ketika itulah urusan jatuh cinta yang harusnya manis dan berbunga-bunga berubah menjadi mimpi buruk.

Susah buat gak spoiler di sini 😥

An, harus melepas masa lalu. Ia melanjutkan hidup dengan bekerja di Afternoon Tea. Tempat dimana kau bisa menikmat souffle terenak buatan Julian. Koki kue ganteng di Afternoon Tea yang terlalu-kelewat-amat-serius. Apa yang selanjutnya terjadi? Dapatkah An berdamai dengan masa lalunya?
Hayook… segera miliki novelnya di toko buku terdekat. Dan segera baca ditemani segelas coffee dan rinai hujan *ala ala promo album* .

Novel ini terlalu ‘manis’ untuk bisa saya ceritakan. Kalian harus ‘mencicipinya’ sendiri.

Di sini, mbak Windry memasukkan salah satu unsur novel London di Afternoon Tea. Dialah Ayu! Si Pembawa Hujan.
Psst… saya belum membaca London, dan setelah mengetahui betapa ‘kelabu’ nya si Ayu, saya jadi pingin baca London. *ada yg mau endorse? ahak ahak*
Overall, diksi yang disajikan mbak Windry mampu membuat saya ‘meleleh’.
Serasa bisa bayangin nikmatnya pasta buatan An dan souffle ala Julian. Saya gemes banget sama tingkahnya Julian. Aw.. dia manis sekali 🙂
Namun, ketika membaca part Jinendra, mendadak atmosfernya berubah ‘dewasa’. Hehehehe.

Good job, mbak Windry. Four stars.
Happy reading.

Bramastha – teaser 2

Bramastha membolak – balik lembaran kertas putih berisi sketsa hasil karyanya. Coretan tangan hotel Majapahit. Sebagai seorang arsitek, Bram begitu memuja bangunan kuno dengan desain klasik. Terlebih yang mempunyai benang merah dengan kisah sejarah. Bram tahu betul, hotel Majapahit yang dulunya bernama hotel Oranye adalah saksi bisu perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah. Meski mengalami restorasi secara menyeluruh pada tahun 1996, tapi gaya art deco klasik tetap dipertahankan hingga kini.
Sore ini, setelah puas memandangi detail eksterior dari Hotel Majapahit, Bram sengaja melewatkan senja yang kelabu di sebuah coffe shop bergaya vintage di tengah kota. Sembari menganalisa coretan sketsa tangan dan hasil foto kamera digital miliknya, Bram menikmati secangkir latte hangat. Perpaduan ‘kencan’ yang sempurna.
Bramastha senang menyendiri. Ia mencintai pekerjaannya. Ketika menikmati hidangan makan siang ataupun malam, maka ia akan sibuk menganalisa restoran tempatnya berada. Mulai dari gaya dekorasi, pemilihan furniture, hingga pemilihan warna. Bram suka menjelajah gedung-gedung tua di kota tempat ia kebetulan singgah. Ia akan mengambil gambar sepuasnya, membuat sketsa dari tangan dinginnya yang seringkali disebut ‘tangan Midas’ oleh para kliennya. Ia akan berangkat tidur membawa pikiran tentang pekerjaannya. Lalu bangun keesokan paginya dengan ide-ide baru yang segar entah darimana asalnya. Benar-benar segar. Sesegar ikan laut yang ditangkap para nelayan langsung dari habitatnya.
Selain tersita oleh pekerjaan, nampaknya pikirannya sore ini mulai bercabang. Ia rikuh saat melihat seorang gadis yang duduk di depannya berkali-kali menatap hujan melalui jendela kaca. Bram merasa gadis itu rapuh. Pandangan matanya yang mulanya kosong, berubah berbinar ketika seorang lelaki muda datang menghampiri. Bram mencuri pandang. Gadis itu menyeka wajah si lelaki muda dengan penuh cinta.
Cinta?
Bram merutuk diri sendiri. Beraninya ia menyebut kata cinta. Padahal sesungguhnya ia begitu membenci cinta. Ia hanya berani mencintai pekerjaannya. Bukan yang lain. Titik.
Bram menghela napas. Ia mulai berkonsentrasi pada lembar – lembar sketsa di hadapannya.
” Yu, sori lama.”
Ah, si lelaki memanggil si gadis dengan sebutan Yu. Mata Bram melebar. Ia tidak menyangka telinganya bisa selancang ini mencuri dengar keintiman orang lain. Bram merasa wajahnya memanas. Malu.
Ia semakin berkonsentrasi pada kertas-kertasnya. Menajamkan penglihatan. Menulikan pendengaran. Ini adalah salah satu jurus andalannya ketika bekerja.  Dan sejauh ini selalu berhasil.
Bram meraih pensil karbon yang ujungnya baru saja diserut. Ia menorehkan garis-garis baru. Menindas garis lama. Membentuk sketsa baru yang tak kalah memukau dari sketsa lama.
Ia merasa desiran angin mencolek lembut tengkuknya tepat ketika si gadis bernama Yu melewatinya. Bram mengangkat kepala. Lehernya berputar mengikuti arah langkah si gadis. Yang berhenti sejenak di depan pintu. Tangannya mencengkeram erat pegangan pintu yang berdesain ukiran berwarna emas. Dalam sekali lihat, Bram berhasil mengenali pegangan pintu tersebut adalah buatan luar negeri.
Bram tak tahu,apa yang tengah dipikirkan si gadis. Yang jelas, pandangan mata Bram nyata-nyata menangkap air mata yang jatuh dari sudut matanya. Bram tersentak. Gadis itu mendorong pintu dengan susah payah. Lalu segera berlari menembus hujan.
Bram menarik napas. Ia meletakkan pensil karbon yang sedari tadi digenggamnya. Lalu menempelkan lengannya yang tertekuk di atas meja. Ekor matanya melirik payung warna hitam yang terlipat rapi tepat di sampingnya. Dan ia tertegun. Merasa kilatan tentang memori masa lalu mendadak menampar sudut hatinya.

Gramedia Writing Project : Lost In You

Ah, hasrat mengeblog dan menulis saya lagi hot hot nya nih. Heheheh. Apaa yaa…ada banyak hal yang ingin saya tulis di blog. Etapi setelah dipikir – pikir nanti jatuhnya jadi terlalu narsis. Dan gak semua orang pengen tau kenarsissan saya kan ?

Emang siapa elu, Na ?

Wkwkwk… naah…akhirnya menyalurkan hobi yang satunya lagi. Saya baru saja bergabung dengan Gramedia Writing Project. Sebuah komunitas menulis online dari Gramedia. Masih newbie sih. Dan baru mensubmit satu judul : Lost In You.

Sebenarnya saya ada rencana lain tentang tulisan ini, dan aslinya bukan itu judulnya. Melainkan Lost In…. ( rahasia 😛 )

Tapi tapi tapi tapiii….. yaa sudahlah cobain aja seru seruan di gramedia writing project ini. Saya justru menantikan ada yang mau mengkritik, membantai, menguliti hidup hidup apa yang sudah saya tulis. Ngasi garem, gula, cabai, merica, dll. Karena saya masih pemula. Harus banyak banyak menelan kritikan, agar nanti bisa semakin dewasa dalam berkarya. Aaishh… apaan toh ya 😛

Yuuk…main main ke ‘lapak’ saya yuuk…. saya pakai nickname C’est Annette. Terdengar aneh ? C’est dalam bahasa Prancis (mungkin) artinya It’s. Waktu madamme Wea ( ma professeur ) nerangin bab ini, kayaknya saya enggak masuk deh. Wkwkwk *ngeles*

Annette ? terdengar cantik aja sih nama itu di telinga 😛 Jadi jatuhnya : Ini Annette.

Atau perlu diganti lagi ya ? C’est Moi. C’est = it’s ; Moi = me. C’est Moi = It’s Me. Bahasa jawanya : iki lhoo akuuu 😛 *aahh…mungkin terdengar terlalu narsis*

Saya lagi galau nih. Enake pake nama apa. Pssttt… atau ada yang mau nyumbang ide buat nickname saya ? nama pena ? ayoo donk… kasi lemparan ide 😛

Naah naah… mampir yuuk… atau kalau ada yang mau gabung di sana, boleh kok. Tinggal submit cerita doank. Psstt… sapa tau tulisan kita dilirik sama kakak kakak editor Gramedia yang kece kece dan ciamik *ngerayu* dan berkesempatan buat nembus penerbit Gramedia.

http://gwp.co.id/lost-in-you/

REVIEW TENNIS PARTY MADELEINE WICKHAM

Penulis                         : Madeleine Wickham / Sophie Kinsella Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama Tebal                           : 352halaman ISBN                            : 978-979-229-216-9 Sabtu musim panas yang menyenangkan. Empat pasangan berkumpul untuk bertanding tenis. Perkenalkan tuan rumahnya: Patrick si OKB dan istrinya, Caroline, yang norak dan blak-blakan. Mereka mengundang sahabat-sahabat lama, sekaligus ingin memamerkan rumah baru mereka di pedesaan. Perkenalkan para tamunya: Stephen dan Annie, mantan tetangga mereka yang hidup pas-pasan; Charles si pendaki jenjang sosial dan Cressida, istrinya yang berdarah bangsawan; Don dan Valerie, ayah-anak yang sangat kompetitif. Ketika bola pertama dipukul melewati net, dimulailah akhir pekan yang penuh minuman, godaan, penipuan, serta pengungkapan yang mengguncang. Jelaslah bahwa pesta ini bukan sekadar soal pertandingan tenis. Review : Patrick dan Caroline Chance adalah OKB. Mereka menjadi ‘kaya’ karena pekerjaan Patrick sebagai penjual investasi. Keluarga Chance pindah dari Seymour Road ke pedesaan di Bindon. Mereka tinggal bersama anak tunggal mereka, Georgina. Saat musim panas tiba, mereka mengundang para sahabat untuk sekadar bermain tenis sekaligus memamerkan rumah baru keluarga Chance. Kalo membaca deskripsi penulis sih, saya bayanginnya rumah keluarga Chance ini luas dan megah. Ala ala rumah keluarga bangsawan Inggris deh. Dengan padang rumput tempat Georgina bisa menunggang kuda poni, kamar kamar yang luas dan mewah dengan sprei satin mengkilat. Serta taman bunga luas tempat terjadinya salah satu ‘tragedi’ di pertengahan cerita novel ini. *awas spoiler*. Sebenarnya sih, Caroline ini cinta banget sama Patrick. Saling mencintai. Taaapii….Caroline adalah tipe ‘ibu ibu sosialita masa kini’. Dia gengsi banget buat nunjukin kalau dia itu sebenarnya cinta sama Patrick. Dan si Caroline ini pintar menyembunyikan perasaan. Dia juga setia kawan. Kalau Patrick sih, wooohh mungkin bisa dibilang dia ini ‘biang keladi’. Gara – gara Patrick yang kekeuh ngejar bonus dari penjualan asuransi, dia nekat dan merasa sah – sah aja mengelabui sahabatnya agar mau membeli produk investasinya. Bahkan, bisa dibilang pesta tenis ini diadakan Patrick demi modus tersebut. Pasangan Stephen dan Annie Fairweather adalah keluarga yang biasa – biasa saja. Bahkan, Stephen tidak punya pekerjaan karena ia sedang mengejar gelar Doktornya. Mereka juga mempunyai anak perempuan yang berkebutuhan khusus, sehingga memerlukan perhatian dan dana lebih. Keluarga ini menurut saya keluarga yang awalnya oke. Stephen dan Annie sayang dan kompak dalam mengasuh kedua anaknya. Annie bahkan oke oke saja dan nriman meski suaminya tidak bekerja. Awalnya Stephen juga oke, tapi ketika bertemu dengan teman temannya yang pada sukses semua, mulai deh timbul rasa tidak percaya diri, rasa iri. Dan ini memicu Stephen untuk melakukan tindakan yang di luar logika. Don dan Valerie Roper adalah ayah – anak tetangga dari keluarga Chance. Mereka ayah – anak yang sangat kompetitif. Terlebih lagi si Don. Dia tipe orang yang gak mau kalah sama orang lain. Lalu yang terakhir adalah Charles dan Cressida Mobyn . Mereka adalah pasangan yang terlihat paling kaya di antara semuanya. Charles rela meninggalkan mantan pacarnya, Ella, demi bisa  menikah dengan Cressida yang kaya dan keturunan bangsawan. Cressida ini tipikal wanita anggun. Wajah dan ekspresinya datar datar aja. Dan, dia berusaha sebisa mungkin tidak terlalu dekat dengan orang lain. Tapi dia ini begonya ampun deh 😛 Charles yang awalanya okay saja menurut saya, dia digambarkan tipe pria penyayang keluarga. Suka gendong anak kembarnya ke sana ke mari. Easy going dan ramah. Tapi, akhirnya ketauan juga ntar belangnya. Awalnya pesta tenis berjalan oke oke dan smooth. Lalu, si Patrick mulai melancarkan misinya. Ada yang lolos dari jeratan, tapi ada pula yang bego terjerat. Laluu…hawa – hawa persaingan antar wanita pun menyeruak. Mulai dari saingan gaun, perhiasan, serta riasan. Daann…di tengah acara muncullah seseorang yang –menurut saya – dia akan menjadi trigger terkuaknya semua permasalahan dalam masing – masing keluarga yang sedang memakai topeng kesempurnaan ini. Entah kenapa, akhir – akhir ini saya lagi demen baca karyanya Sophie Kinsella. Khusus untuk buku ini dan beberapa karya lainnya, ia menggunakan nama aslinya. Awalnya saya gak ngeh juga, kenapa dia pakai nama beda ? setelah dibandingkan, auranya emang beda. Dalam karya Sophie Kinsella – ex: Shopaholic Series, I’ve Got Your Number – ceritanya ringan dan pop sekali. Tokoh utama wanitanya ceria, rada oon tapi cerdas. Nah lho bingung kan ? Sedangkan saat dia pakai Madeleine Wickham, karyanya lebih dewasa dan gelap. Tapi ya gak gelap gelap amat sih. Mungkin itu sebabnya dia ingin agar pembaca tidak tercampur aduk intrepetasinya ketika membaca karyanya yang lebih dewasa. Karena imejnya Sophie Kinsella kan ringan dan chicklit banget. Kali ini, saya kasi rating bintang tiga dari lima boleh, kan ? karena apa , ya ….. saya kurang puas sama endingnya L ada keluarga yang menurut saya eksekusi dari problemnya dia belum dituntasin. Tapi…. saya tetep mau hunting dan mau baca another Kinsella’s book 😀

Sherlock Begins : A Study In Scarlet

Judul Buku : Sherlock Begins : A Study In Scarlet
Penulis         : Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit     : Bukune
Cetakan     : Pertama, September 2012
ISBN             : 602 – 220 – 078 – 4
Dimensi Buku : 212 halaman ; 14 x 20 cm

“ Menelusuri benang merah. Bagaimana kalau kita pakai istilah seni ? Ada benang merah pembunuhan yang menyelip di kekusutan kehidupan yang tak berwarna, dan tugas kita adalah mengurai, memisahkan, dan mengungkap setiap jengkal benang merah itu.”  – Halaman 67 –

A Study in Scarlet mengisahkan tentang pertemuan pertama antara Sherlock Holmes dan Dokter Watson. Yang sekaligus merupakan kasus perdana yang mereka hadapi, sebagai seorang partner tak resmi.
Dokter Watson kembali ke London setelah terluka di sebuah medan perang. Ia dikenalkan oleh seorang rekan kepada Sherlock Holmes. Dan mereka sepakat untuk berbagi apartemen demi menghemat uang sewa. Mulanya, Dokter Watson bertanya – tanya apa pekerjaan yang sedang ditekuni oleh Holmes. Rekannya ini begitu misterius sehingga memancing rasa penasaran Dokter Watson. Hingga suatu ketika, Holmes mendapat permintaan penyelidikan suatu kasus kematian misterius. Telah ditemukan sosok mayat yang meninggal tak wajar, tanpa ada barang bukti pembunuhan. Dari Baker Street, petualangan pertama mereka pun dimulai.
Pembaca akan dibawa berpetualang menyusuri jejak pembunuhan tersebut. Detail demi detail disajikan oleh Holmes melalui analisa deduksinya. Hingga akhirnya kita akan menemui ujung benang merah dari kasus pembunuhan ini.

Komentar saya :
Cover berwarna putih dengan siluet wajah tampak samping bertinta merah yang (mungkin) menggambarkan sosok Sherlock Holmes secara visual. Sejujurnya, saya mengenal karakter Sherlock Holmes dan Sir Arthur Conan Doyle justru dari komik serial detektif Conan yang tokoh utamanya begitu mengidolakan Mr. Holmes. Ditambah lagi, saya menonton versi filmnya terlebih dulu baru membaca bukunya. Hal ini menyebabkan ketika saya membaca novel ini, saya selalu membayangkan sosok Mr. Holmes terwakili dengan baik oleh Robert Downey, Jr.  Pun, ketika Mr. Holmes sedang mengamati sesuatu dengan serius, yang terbayang pertama kali adalah Robert Downey lengkap dengan variasi ekspresinya.
Ketika kali pertama menyusuri lembar demi lembar pembuka A Study In Scarlet,  saya perlu berkonsentrasi lebih. Penggunaan kata ganti ‘saya’, yang menceritakan tentang Mr. Holmes melalui kacamata Dokter Watson, terasa agak mengganggu dan kaku. Namun, ketika semakin terjun ke dalam cerita, saya mulai menikmati jalannya petualangan dua sekawan ini, dan justru tertarik menyimak deduksi – deduksi yang dikemukakan oleh Holmes. Betapa sebuah hal kecil sederhana ternyata bisa mewakili bahkan mengungkap hal besar jika kita berpikir secara terstruktur dan analitis.
Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, seperti yang sudah saya kemukakan di awal, berisi tentang petualangan Holmes dan Dokter Watson melalui ‘kacamata’ Dokter Watson. Bagian kedua, sorry tidak akan saya bongkar di sini. Susunlah kepingan puzzle – mu sendiri 🙂
Overall, bintang tiga dari lima untuk A Study in Scarlet. Tak ada yang mustahil untuk diungkap oleh seorang Sherlock Holmes.
Selamat membaca 🙂