KPR , Antara Dicinta dan Dibenci (?)

Salaam…

Masih inget postingan saya yang nyeritain tentang gimana proses kami menemukan jodoh ? Naah kali ini saya akan menceritakan tentang proses pengajuan KPR nya. FYI, disini kami mengajukan KPR via developer, jadi bukan pengajuan KPR secara mandiri. Dan , apa yang saya sampaikan di sini dilihat dari kacamata saya selaku pihak pemohon kredit πŸ™‚

Setelah membayar booking fee – dengan catatan bahwa booking fee tidak termasuk harga jual dan hanya berlaku maksimal 3 ( tiga ) hari, dan tidak dapat dikembalikan dengan alasan apapun – maka kami pun mulai mengatur strategi keuangan untuk segera membayar cicilan pertama down payment.

Sedikit info, kebijakan tentang booking fee berkaitan dengan tenggat waktu berlakunya, tergantung dari masing – masing developer. Umumnya sih sekitar 3 hari sampai dengan 1 minggu.

Ketika akad pembayaran DP I, saya selaku pemohon menandatangani beberapa berkas soal detail pembelian rumah. Kalau saya sih, saya baca poin per poin baru membubuhkan tanda tangan di tiap poin nya. Lalu ada sesi sharing singkat mengenai total penghasilan suami istri , dan total pengeluaran per bulan. Apakah sedang ada cicilan tetap saat ini. Misalnya : cicilan kendaran bermotor, cicilan rumah lain, ataukah pernah punya tunggakan kredit macet sehingga berpotensi nama kita masuk ke dalam daftar black list Bank Indonesia. Semua itu nantinya bisa mempengaruhi penilaian bank terhadap kestabilan kondisi keuangan kita. Bank akan menganalisanya, lalu berujung pada keputusan apakah pengajuan kita disetujui atau tidak, disetujui disertai dengan TUM ( Tambahan Uang Muka ), ataukah disetujui full tanpa tambahan persyaratan apapun.

Setelahnya, kami diharuskan melengkapi berkas – berkas untuk pengajuan KPR. Umumnya berisi data diri pemohon dan pasangan pemohon ( jika sudah menikah ), slip gaji, surat keterangan bekerja disertai stempel dari perusahaan , print out buku tabungan minimal 3 bulan terakhir, copy KTP, copy KK, dan pasfoto berwarna terbaru.

Setelah berkas kami lengkap dan diserahkan ke pihak developer untuk dicek kembali, besoknya kami berdua ditawari untuk langsung wawancara di bank. Okesip, semakin cepat semakin baik.

Kami janjian dengan staff dari developer yang mengurusi KPR ini untuk langsung ketemuan di bank. Dan kami pun diberi β€˜kursus singkat’, tips and trick tentang pertanyaan dan jawaban saat wawancara nanti πŸ˜€

Wawancaranya berlangsung singkat. Seputar apa yang ada di berkas kami. Soal penghasilan, pengeluaran, apakah sudah punya anak atau belum, tempat tinggal sekarang, dan tentunya apakah ada cicilan lain.

Setelah itu…siap siap aja…pihak bank akan melakukan cek dan ricek ke tempat kerja. Kalau saya sih, 2 hari setelah wawancara pihak bank telpon ke kantor dan tanya tanya seputar gaji, lama kerja, posisi saat ini, dan seputaran itu lah. Untungnya pihak bank cuma nelpon sekali aja. ada lho….yang survey sampai disambangi ke kantornya. untungnya saya enggak digituin πŸ˜›

Dan voilaaa….kami wawancara hari Senin, dan hari Jumat – nya sudah langsung dapat kabar kalau pengajuan KPR kami disetujui oleh pihak bank secara full, tanpa tambahan uang muka. kami juga sudah dapet bukti ACC dari bank.

Alhamdulillah yaa….rejeki anak sholeh πŸ™‚

 

Done ? Beluuummm….

ternyata eh ternyata sodarah sodarah…. ketika kami akan melakukan realisasi, kami dapet kabar bahwa bank melakukan penilaian ulang, sehingga kami disetujui dengan dikenakan tambahan uang muka. gak tanggung tanggung booookk.. besarnya 2 kali lipat dari jumlah uang muka kesepakatan di awal *nangis kejer guling guling*

cobaaa pemirsaaahh …apa gak shock saya ? terluka …teraniaya …tersakiti …. πŸ˜›

apakah saya mungkin belum jadi anak sholeh sehingga ‘nikmat’ nya KPR full tidak jadi menghampiri? apa salaah sayaa ? *efek kebanyakan nonton sinetron* πŸ˜›

well.. katanya sih karena ini terhitung pembelian rumah kedua dari salah satu pihak. tapi saya selaku pemohon kan baru pembelian pertama. setelah googling googling, ternyata suami – istri dianggap sebagai satu nama debitur. sehingga tetep aja saya kena TUM.

saya pribadi sedikit kecewa sih. lebih ke … ” wah elo PHP gue nih.. katanya acc full, sekarang pake tambahan lagi ..”

setelah ngobrol ngobrol sama orang developer dan pihak bank, mereka bilang bahwa memang sudah seperti itu ketentuannya. ada peraturan khusus untuk pembelian rumah kedua. seperti kita kalau beli kendaraan bermotor lebih dari satu, maka akan terkena yang namanya pajak progresif kan ?

well.. oke lah kalau begitu . rencana keuangan jadi kacau balau. mulai deh muter otak gimana caranya nyari “tambalan” buat DP . mungkin mau jual salah satu asset :p *preeeettt* seriuss…ini beneran bikin puyeng. karena keputusannya H-2 sebelum kami melakukan realisasi. dan rencana pindahan ke rumah baru akhir november ini pun dengan sangat terpaksa diundur hingga semua kendala administrasi terselesaikan *nangis kejer*

eniwei, karena saya udah terlanjur bete, saya niat mau cerewetin itu bangunan. udah ada yang saya incer bagian mana aja yang mau saya cerewetin, dan minta diganti. saya kan beli rumah baru, gak mau donk kalo ada yg rusak dikit. karena saya kan belum memakai sama sekali. sekalian bawa disto, buat ngukur ketepatan ukuran bangunan.Β  *gini ini, kalo ada pasangan teknik sipil beli rumah πŸ˜› * sekalian gantian doonk…biasanya di kantor saya yang dicerewetin sama klien – klien. sekarang saatnya saya jadi klien cerewet.. wkwkkkk…. WASPADALAH WASPADALAAAHH !!!

daaaannn tanggal 6 kemarin ( lagi – lagi berhubungan sama angka 6, yaa πŸ˜› ) kami melakukan realisasi di bank, di depan notaris. alhamdulillah.. akhirnya kami resmi punya rumah , dan semoga cicilan lancar tak ada kendala sampai lunas nanti. aamiin πŸ˜€

Rumah Pertama Mr. and Mrs. Muhandoko

Finally, akhirnya setelah penantian panjang sepanjang cintamu padaku , akhirnya rumah pertama Mr.and Mrs. Muhandoko bisa digenggam juga. Hehehe. Rasanya seneeeeng tiada terkira. Kali ini saya mau cerita mengenai proses gimana kami bisa menemukan jodoh . dibaca : rumah impian. Kaaaan kata orang, nyari rumah sama kayak nyari jodoh. Harus yang pas, tepat, klik di hati dan di kantong. Hihihihihi. *kenapa dikasi judul rumah pertama ? karena siapa tahu suatu saat nanti kami bisa membeli rumah kedua, ketiga, keempat, dan seterusnyaaa… aamiin …heheheh πŸ™‚ *

Berawal dari sms mertua yang berisi : β€œ Mbak, ada pameran rumah di sini. Besok terakhir.”

Akhirnya saya sama Mr. Muhandoko besok malemnya dateng ke pameran yang dimaksud. Di Jatim Expo Surabaya. Ada banyak stand yang menawarkan berbagai tipe dan lokasi rumah. Mulai dari Surabaya, Malang, Mojokerto, Banyuwangi, hingga Lumajang pun ada. Dengan beragam harga dan cicilan πŸ˜€

Seperti biasa, kami berdua muter muter stand satu per satu. Mintain brosur, dan sedikit tanya – tanya mengenai lokasi rumah yang sedang ditawarkan. Hal seperti ini selalu kami lakukan kalau pas ada pameran rumah. Jadinya kami punya banyak brosur numpuk.

Naahh… tiba pada suatu stand. Ternyata stand ini menawarkan rumah yang lokasinya deket banget sama rumah mertua. Dan terjangkau juga jika saya mau mudik ke tanah leluhur *tsaahh bahasamuu*

Akhirnya saya pun nanya – nanya sama marketing yang lagi jaga.

Kami nanya soal uang muka, soal cicilan, soal lama waktu cicilan, soal kondisi lingkungan dan keamanan, tentang fasilitas umum yang ada, dapet gratis ini itu apa enggak, daaaan yang paling pentiingg…dapet diskon gak ? *maklum, the sense of emak emak*

Lhahh judulnya aja Pameran Perumahan Rakyat. Ya saya harus nyari rumah seharga kocek rakyat jelatah sepertih sayah inih donkh πŸ˜›

Dikeluarin lah site plan yang dia punya. Saya ditawarin enam buah rumah yang katanya lagi diskon. Ternyata sih, sebagian besar rumah di situ udah laku dan udah ditempatin. Sisa rumah dengan harga diskon adalah di belakang sono noohh.. ada 2 opsi. Pilih yang hadep sawah atau yang hadep tetangga. Tentunya dengan beda harga juga.

Sama marketingnya, saya disaranin milih rumah yang ini. Karena saya masih belum puas atas penjelasan si marketing, kami pun janjian lagi dateng ke standnya lusa.

Lusa, kami dijelasin lagi lebih detil. Gambaran tentang cicilan dan lain lain. Mr. Muhandoko sampai heran, karena tidak biasanya saya seantusias ini nanya nanya soal rumah yang sedang ditawarkan. Berhubung saat itu adalah Sabtu malem, kami memutuskan untuk mudik ke rumah mertua. Dan besoknya niat sekalian survey lokasi. Dengan semangat 45 dan ngajak Mamih mertua, kami pun survey.

Kesan pertama saat masuk di gate depan cluster, saya udah mulai naksir sama situasi keseluruhan komplek perumahan ini. Berbekal petunjuk arah dari satpam yang lagi jaga di pos depan, kami pun menemukan calon jodoh kami. Berhenti tepat di depan rumah, hihihi saya berhenti pas banget di depannya. Kesan pertama ? I love this house !

Dengan pedenya, saya buka pintu depan. Eh gak terkunci. Lalu Mamih ngikutin saya masuk juga. Mamih bilang : β€œ Assalamualaikum ….boleh masuk, Mbak ? ”

Saya jawabnya asik aja : β€œ Walaikumsalam….boleeh doonk ..”

Hihihihi firasat kali yaaa πŸ˜›

Rumahnya mungil. Tapi saya suka πŸ™‚

Dalam pikiran saya, saya udah rencanain bakal saya dekor seperti apa rumah ini πŸ™‚

Btw, karena saya suka warna pink, saya pingin dinding eksterior depan rumah di cat warna pink. Tapi Mr. Muhandoko dengan sigap langsung menolak. Wkwwkwk dasar priaaahh πŸ˜€

Oke, saya naksir rumah ini. Dan siangnya kami pun mudik lagi ke rumah leluhur saya. Ketemu sama tante. FYI : karena Ibu saya sudah almarhumah, maka tante saya jadi our 2nd Mum.

Kami konsultasi sama tante tentang rumah dan sebagainya. Oke, tante pun acc πŸ™‚

Lah kok si marketing sms lagi. Nanyain gimana udah survey belum ? Bla bla bla. Dengan sedikit saran : kalau udah suka booking aja mbak. Mumpung lagi diskon dan harga belum naik. ( dan memang, dalam waktu sekitar 1 bulan setelahnya, harga rumah di situ udah naik sekitar 20 jutaan).

Oke, akhirnya saya sama Mr. Muhandoko pun nekat memutuskan untuk membeli rumah ini πŸ˜€

Lalu lalu lalu lalu ? Nanti yaa… saya akan ceritain proses dari awal kami mengajukan KPR, persetujuan KPR dari bank, hingga realisasinya.

Psssttt dibikin bersambung ya… biar kayak sinetron gitu.. hihihi…

Ada Cerita Di Balik Angka 6 6 6

Ada apa dengan angka 6 ?

Apakah saya anggota pemuja 666 ? Tidak tidak, tentu saja tidak donk ah πŸ˜›

Entah kenapa, saya suka dengan angka 6. My lucky number ? Maybe.

Ceritanya beginiii….

Waktu akan nikah sama Mr. Muhandoko, kan ada acara yang namanya Rapak tuh yaa.. istilahnya gladi bersih menjelang nikah deh… pak penghulu sama petugas yang dateng ke rumah untuk data pencatatan pernikahan, nanya ke saya dan ke Mr. Muhandoko.

— β€œ Mas, mas kawin nya apa nih ?”

saya sih mintanya emas batangan seberat 6 kilogram sama Lamborghini 6 biji sama kebon kelapa sawit 6 hektar , tapi ditolak ama Mr. Muhandoko. Ini mau minta mahar apa mau ngerampok.

++ β€œ Ehm… uang tunai dengan nominal sekian sekian sekian .” karena saya sempat minta dikasi mahar sesuai tanggal , bulan, dan tahun lahir sih.

Nah, ketika petugasnya mau nyatet, langsung deh saya sela :

**” Mending jangan deh. Ntar nyari uang pecahan segitu pasti ribet. Udah gak ada waktu lagi. β€œ

— β€œ Trus gimana mbak ?”

Pak penghulunya turun tangan, urun rembug. Sayangnya gak sekalian urun duit buat biaya nikah.

&& β€œ Nikahnya tanggal berapa sih ? Tanggal 10 – 11 – 12 ya ? Gimana kalau maharnya Rp. 101,112? Atau Rp. 1 juta sekian ?”

** β€œ Ehm…gak deh paakk…rempong cyin. Gini aja, aku minta mahar sesuai tanggal ultahku aja. Berarti dimulai dengan angka 6.”

OKE FIX !

Setelah nikaahh…ternyata kehidupan kami tidak terlepas begitu saja dari angka 6 πŸ˜€

Biaya sewa tempat tinggal Rp. 600,000.- per bulan

Hihihi…ketika akan menikah kami sudah hunting untuk tempat tinggal. Karena saya emang dasarnya cerewet tapi anggun , kami muter muter engga nemu tempat yang cocok. Yang ini lembab lah, yang mahal lah, yang sosialnya gak oke lah.. dan yang yang yang lainnya. Akhirul kata, setelah penantian dan pencarian panjang, kami nemu tempat yang oke. Bangunannya baru, Kamar Mandi dalam, dapur dalam, dan ada teras depan yang privat halah. Maksudnya kita engga nyampur ama tetangga gitu loh.. one way gate pula. .. dan kamarnya Cuma ada 4. Dan para tetangga penghuni kamar ini orang kerja semua. Jadi gak ada yang namanya rumpi cantik ala emak emak. Saya sama Mr. Muhandoko udah sreg banget. Kita memutuskan untuk tinggal di sini sementara. Daann…biaya sewanya Rp. 600,000 per bulan πŸ˜€

Kasur pertama kami seharga Rp. 600,000.-

Naahhh ini jugaaa….pas beli kasur, kami sih pinginnya spring bed ya πŸ˜› tapi duitnya gak cukup. Heheeh *aselik melas banget* akhirnya beli kasur yang lagi lagi kok ya bisa kebetulan seharga Rp. 600,000.-

Calon kontrakan kami seharga Rp. 6,000,000.-

Kami pernah memutuskan untuk mengontrak rumah yang agak luas. Dengan pertimbangan kalo pas ada sodara jadi gak ruwet karena gak ada tempat. Harganya ? lagi lagi kok ya bisa kebetulan kita dapet yang harganya Rp. 6,000,000.- Cuma karena saya kurang sreg, dan pas itu lagi eman sama duitnya, akhirnya kita cancel aja sewa kontrakan ini.

Dan Mr. Muhandoko pun sempat bilang :” udah, gak usah pindah dulu. kita ntar pindahannya langsung ke rumah sendiri aja.”

ehem…waktu itu sih yaa…masih belum kepikiran mau beli di mana. wong duit aja masih nabuuungg… kan janji di awal pernikahan dulu, kami mulai dari nol, dan sama sama berjuang berdua… ciieehh

Rumah baru kami cicilan pertamanya Rp. 6,000,000.-

Alhamdulillah….taraaaaaa …..

akhirnya kami bisa beli rumah pakai duit sendiri ! hehehe *nari remo* *joget* harganya pemirsaaahhh ?? Booking Fee 1 juta, dan cicilan pertama untuk DP nya 5 juta. Totalnya 6 juta. Lagi lagi ketemu sama angka cantik secantik saya 6. Hhihihihi…..kalo inget inget kejadian ini siihh…saya sama Mr. Muhandoko suka cekikikan bareng. Kok bisa ya… kalo alibinya Mr. Muhandoko sih, bisa jadi mahar menunjukkan nilai minimum jumlah nafkah seorang suami kepada istri πŸ˜€

ada lagii….berhubung rumah kami ini agak jauh dari tempat kerja, sekitar 1 jam perjalanan, jadi kayaknya ntar bakal berangkat jam 6 pagi deh tiap hari.. see .. ?? 6 is my number πŸ™‚

Pssttt… barusan dikabarin sama marketingnya, kalau pengajuan KPR kami sudah di acc sama bank. gak nyangka juga sih sebegitu cepetnya. karena kami baru wawancara senin tanggal 13 kemarin, eh tau nya siang ini udah langsung di acc.

Alhamdulillahh…. rejeki anak sholeh πŸ™‚

Ntar yaa…saya bakal ngepost lagi soal proses kami menemukan rumah ini. dibikin serial. hihihihi kami bersyukur banget soalnya πŸ™‚

Menahan Amarah, Menjaga Amanah

Pernah dengar kata kata bijak :

Ketika kita mengarahkan jari telunjuk kita ke orang lain dan menghakimi kesalahannya, kita lupa bahwa tiga jari kita menekuk ke dalam. Mengarah kepada diri kita sendiri.

Abaikan kalau kalimatnya bikin bingung yang baca.

Pernah gak sih kita dengan pedenya nunjuk nunjuk kesalahan orang lain, berusaha menghakimi dan berperan bak dewa tak bercela ? apalagi, ketika semakin banyak orang yang β€˜setuju’ dengan kita, dan mungkin turut pula β€˜berpartisipasi’ menyalahkan orang tersebut, rasanya semangat kita semakin berkobar – kobar untuk semakin menenggelamkan orang tersebut ke dalam status β€˜bersalah.’ Opini publik pun terbentuk. β€œ OH ini toh orangnya yang bikin salah. Oh ini toh kamfretnya ” Semakin banyak yang berpihak pada kita, semakin β€˜puas’ lah kita.

Apakah itu akan segera menyelesaikan masalah ? Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Ada orang yang memang bisa dengan ksatria mengakui kesalahannya.

Namun, ada juga orang yang β€˜udah dari sono’ nya keukeuh merasa dia tidak bersalah. Istilah Jawanya mungkin dengkal. Bisa – bisa, keputusan kita untuk nyalah nyalahin meski dengan dalih agar dia mengakui kesalahannya dan mau berubah ternyata berujung kepada β€˜semakin terjerumusnya dia ke jurang yang lebih dalam lagi.’

So ? Jadi ?

Saya sih pernah ada dalam situasi seperti ini. Merasa mangkeeeelll banget dengan seseorang. Apa yang spontan saya lakukan ? Marah ? pastinya lah. Jengkel, nangis, kecewa, dendam, dan sumpah serapah satu per satu pun terucap. Hasilnya ? yang bersangkutan tidak juga berubah. Malah menjadi semakin parah.

Dan ketika peristiwa serupa kembali terjadi … kecewa saya jelas semakin menjadi bertambah. ibarat kata, luka lama masih lah belum sembuh dan mengering, sudah ditambahi dengan luka yang baru. cieeehhh….

Ketika kita berbaik hati kepada orang, memberinya amanah dan kesempatan, eh ternyata orang tersebut berkhianat.

Dikasi hati minta jantung.

Dikasi gopek minta gocap. #eehh

We give an inch, they asked a mile.

Lalu solusinya ? apakah saya kembali meluapkan emosi saya ?

Untuk kali ini, tidak. Untuk kali ini, saya belajar mengendalikan emosi. Saya belajar menahan amarah. Saya belajar menganalisa apa yang terjadi, apa yang melatarbelakangi dia melakukan tindakan tersebut.

Dan, akhirnya terkuak lah rahasia kelam masa lalu dari dalam dirinya. Tsaahh….

tidak akan saya ceritakan di sini tentang apa masalahnya. well, you know laah… tidak baik mengumbar privacy orang.

apa yang saya lakukan selanjutnya ? saya berusaha mendekati dan menyelesaikannya dengan jalan kelembutan, menyentuh hatinya. menularkan kebiasaan yang baik kepadanya. selalu mendoakan.

bukankah kewajiban sesama muslim salah satunya adalah mengajak saudaranya dalam kebaikan, dan senantiasa mendoakannya ?

dan alhamdulilah Mr. Muhandoko pun mendukung dan bahkan ikut berpartisipasi ambil bagian dalam “misi damai” kali ini.

batu yang keras sekali pun suatu saat akan berlubang jika ditetesi air terus menerus

Bismillahirrohmanirrahim…. doakan saya ya. semoga misi saya kali ini berhasil. diijabah sama Gusti Allah. dan yang bersangkutan semoga dibukakan pintu hatinya, semoga dilembutkan perasaannya. dan segera dijauhkan dari hal hal tidak baik.

Aamiin πŸ™‚

Bagaimanakah Caramu Berpakaian ?

Sebenernya ini postingan agak gak penting. Cuman lagi pengen curhat cantik aja πŸ˜€

Akhir – akhir ini saya lagi suka pake rok. Eh, bukan akhir – akhir ini sih. Udah agak lamaan. Kalo kemana – mana sukanya pake rok. Lengkap sama kaos kaki dan kerudung panjangnya :p

Skinny jeans kebanggaan saya – yang saya suka banget make skinny karena badan jadi berasa keliatan lebih tinggi dan memberi efek kaki jenjang, halah – udah lama banget gak saya pake. Saya bahkan lupa kapan terakhir kali pake skinny.

Awalnya emang ribet, tapi ternyata kalo dandannya ada yg kurang gitu, rasanya kok ngerasa belum lengkap aja ya. Hag hag hag.

Dan oke oke ajaaa siih…. akhir – akhir ini nemu rok yang enak banget dipake kerja. Lebaaarr … jadi insyaAllah aman kalo dipake naik motor. Saya pernah pake rok yang gak gitu lebar bawahnya. Pas turun dari motor, kecantol deh. Akhirnya saya jatuh njelungupΒ­ . pas lagi suasana rame pula.

Balik lagi ke soal rok buat kerja. Naah…kalo sebelumnya saya kerja masih suka pake celana kain – yang lebar – sekarang ini lagi coba ngebiasain pake rok. Lengkap dengan kerudung panjang dan kaos kaki. Saya yang biasanya ke kantor pake baju sesuai mood dan seenaknya aja, sekarang jadi keliatan agak rapi dikit. Hehehe. Mungkin bos saya agak heran juga, ini anak ngapain pake baju rapi amit, mau ngelamar kerja lagi kah di tempat lain ? wkwkwk πŸ˜€

ini baju OOTD ke kantor

ini baju OOTD ke kantor

Dan..seperti biasa, ada efeknya juga. Awalnya saya belum siap dengan berbagai komentar yang muncul. Oke, dengan memakai pakaian yang seperti ini, ada komentar yang :

β€œ wah kayak orang tua aja pake baju gituan,

wah penampilanmu kayak guru ngaji aja ( aamiin aja kalo komen yang ini mah ) ,

wah kamu aliran apa itu sekarang ( alhamdulillah saya muslim, alirannya Cuma satu aja kok ),

wah kamu sekarang kok jadi serem gitu ( helloowwh…cantik gini dibilang syerem. Peliss dehh ) ,

wah ribet amat, dan wah wah yang lainnya…. β€œ

padahal yo bajuku gak lebar amat, gak longgar amat, dan jilbabku juga gak panjang amat. Well, persepsi tiap orang beda beda toh ya ?

dan pernah juga ada beberapa orang yang manggil saya dengan sebutan β€œBUK” …helooohh gak liat apa saya masih muda belia imut unyu unyu gini…… kamfret *nangis di pojokan*

pada awalnya semua komen itu saya masukin ati. Padahal saya ini orangnya super cuek, mau elo ngomong apa juga saya sebodo amat. Tapii…. setelah dipikir dan ditelaah lagi *cieeh*… kita ini hidup di atas kebiasaan masyarakat. Apa yang lazim terjadi di masyarakat, maka itu pula lah gamabran kehidupan yang sedang kita jalani. Sedari kecil saya memang tidak memakai hijab, dan hidup di lingkungan yang tidak berhijab. Ketika memutuskan untuk berhijab, akhirnya muncul animo dan tanda tanya publik :” ini anak kesambet apa sampe mau pake jilbab gini.”

Sempat merasa tidak pede. But, show must go on. Saya pernah juga terjebak dalam fenomena jilbab pendek, turban. Semuanya butuh proses. Saya pengen berjilbab yang lebih panjang dan lebih lebar. Dan benar – benar menutup aurat ketika bertemu dengan yang bukan mahramnya *kalo ini beneran ribet deh, kalo di rumah kudu pake jilbab * Masih proses cyiinn… wong saya juga masih suka pakai celana panjang kok. Masih suka pake baju gaholl…

20140917_195820~2

Ada seorang teman yang putrinya masuk sekolah. Putrinya masih kecil. Tapiii…sudah diajari berpakaian yang baik dan benar. Jilbabnya panjaaangg… keren deh pokoknya. Saya salut. Dan saya iri.

Dan ketika si ortu dikomen sama temennya kenapa putrinya yg sekecil itu sudah dipakaikan jilbab panjang, si ortu enjoy enjoy aja jawabnya. Gak bete dan gak grogi pula. Malah minta doa agar putrinya bisa cepet ketularan hapal Al Quran seperti para ustadzahnya. *aamiin*

Kalo saya dikomen seperti itu, kayaknya bakal langsung minder deh… wkwkkwkw…

So… inti dari curhat ini apa ? Hihihihi….keep moving, show must go on. Lanjutttt…… dress for The Creator, not for His Creation.

Dulu saya memang menganut paham, yang penting jilbabin hati dulu. Naah…sekarang pahamnya berubah, sama sama jilbabin luar dalem, jilbabin hati dan juga fisik. Rela aja, ikhlas aja. Berpakaian untuk apa dan siapa. Saya juga masih belajar kok. komen negatif jangan dimasukin hati. Karena apaahh ?? … Karena kesempurnaan hanya milikNya, dan ketidaksempurnaan adalah milik manusia

*syalala syalala syalala*

Jadi, bagaimanakah caramu berpakaian ?

jangan lupa auratnya ditutup, jilbabnya dipanjangin menutup dada, dan jangan lupa kaos kakinya ya. biar nyaman dan aman πŸ™‚

Bersyukur

Salaam,
Kali ini mau nulis postingan yang “sedikit menyentuh hati”, boleh ya? Sedikit saja kok, gak banyak banyak.
Atau kalau hati para pembaca sekalian tersentuh “banyak”, anggap saja itu bonus dari saya πŸ™‚

Nama, tempat, dan waktu kejadian dirahasiakan ya. Hanya saya, dia, dan Dia yang tahu πŸ™‚

Kejadian ini sudah berlalu sekitar 2 minggu sejak saya posting tulisan ini. Mulai dari short story tentang saya yang picky eater aja dulu.

*saya narsis, itu sebabnya semua hal harus saya yang jadi fokus utamanya*
*wink*

Oke, saya picky eater. Saya suka pilih pilih makanan. Saya alergi sayur. It’s a big no no. Saya suka bosenan ama lauk makanan yang itu itu aja. Terdengar sombong ya? Dulu sih saya anggap enggak. Wong lidah lidah saya sendiri, duit juga duit saya sendiri. Terserah donk saya mau makan apa. Reward juga setelah sumpek ama kerjaan. Pelampiasannya ya pengen makan enak. Daaaaan satu lagi. Entah kenapa, kebiasaan atau bukan, setiap kali makan saya selalu sisain makanan 1-2 sendok.
Berlaku untuk makanan porsi kecil maupun besar. Saya sendiri juga heran. Dipaksa masuk pun juga kerasa eneg. Perut kerasa penuh.

Daaaannn….. suatu hari ada seseorang yang datang berkunjung. Dia dateng sambil bawa bungkusan kertas dan plastik kecil.
Dengan riang gembira dia bilang :” aku tadi sangu, ayok maem bareng bertiga. Sama mas Iwan juga.”
*spoiler : Iwan nama suami tercintah eikeh*
*oke, abaikan *

Dia ambil piring di dapur. Bungkusannya dibuka. Isinya nasi putih dan beberapa potong tempe goreng yang udah dingin gak ada rasanya.
“Ayok maem, apa aku nunggu mas Iwan aja ya? Maem bareng.”
Saya nolak dengan halus. Gak tega. Saya biarin dia makan sepuasnya.
Di saat yang sama pula, saya makan nasgor. I’ve told you before, saya punya kebiasaan aneh. Lidah saya sombong banget. Saya hanya makan beberapa sendok nasgor, lalu berkata,” Gak habis. Gak enak.”

Dia, dengan cekatan berkata ,” Eman kalau dibuang. Sini kumakan. Tapi aku nunggu mas Iwan ya. Biar nasgornya kumakan berdua sama mas Iwan.”

Saya miris. Nangis dalam hati. Duh, Gusti !
Di saat saya begitu rese’ nya jadi seorang picky eater, di saat yang sama pula ada orang lain yang jadi everything eater.
Di saat saya dengan anehnya punya bad habit sisain makanan di piring, di saat yang sama pula ada orang lain yang rela menghabis tandaskan makanan yang ada di hadapan mereka. Karena mereka tahu gimana susahnya mencari makan.
,
Saya dosa gak sih ? Sepertinya sih iya.
Di saat saya suka pilih pilih makanan, di saat yang sama pula ada orang lain yang bahkan tidak bisa memilih makanan. Karena memang tidak ada yang bisa dimakan.

Lanjut ya ceritanya. Ketika saya dan suami mengajaknya makan “agak enakan”, wuuuihhh dia keliatan seeeneeengg banget.
Soalnya gak pernah makan gituan.
Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk berbagi rejeki dan kebahagiaan dengan orang lain.

In sha Allah mulai sekarang saya pelan – pelan menanggalkan gelar picky eater. Mensyukuri rejeki yang telah diterima.
Karena di saat kita kenyang, masih ada saudara – saudara kita yang lain yang bahkan lupa bagaimana rasanya kenyang.
Jangan buang – buang makanan.
Jangan pilih – pilih makanan.
*tapi tentu saja, kewajiban untuk memilih makanan halal dan dari sumber yang halal tetap harus dijalankan*
Bersyukurlah, kita masih diberi cukup rejeki.
Bersyukurlah, jika kita diberi kelonggaran nikmat dan dapat berbagi dengan yang lain.
Bersyukurlah, jika hari ini kita masih dapat mengecap nikmatnya nasi beserta lauknya.
Bersyukurlah, maka Dia akan menambah nikmatmu.

*teruntuk seseorang yang ada dalam tulisan ini, tidak setiap saat saya bisa selalu membantumu.
Tapi untaian doa dan lantunan penggalan ayat suci yang selalu terkirim untukmu, semoga bisa menjadi penolongmu dari jauh πŸ™‚