Menahan Amarah, Menjaga Amanah

Pernah dengar kata kata bijak :

Ketika kita mengarahkan jari telunjuk kita ke orang lain dan menghakimi kesalahannya, kita lupa bahwa tiga jari kita menekuk ke dalam. Mengarah kepada diri kita sendiri.

Abaikan kalau kalimatnya bikin bingung yang baca.

Pernah gak sih kita dengan pedenya nunjuk nunjuk kesalahan orang lain, berusaha menghakimi dan berperan bak dewa tak bercela ? apalagi, ketika semakin banyak orang yang ‘setuju’ dengan kita, dan mungkin turut pula ‘berpartisipasi’ menyalahkan orang tersebut, rasanya semangat kita semakin berkobar – kobar untuk semakin menenggelamkan orang tersebut ke dalam status ‘bersalah.’ Opini publik pun terbentuk. “ OH ini toh orangnya yang bikin salah. Oh ini toh kamfretnya ” Semakin banyak yang berpihak pada kita, semakin ‘puas’ lah kita.

Apakah itu akan segera menyelesaikan masalah ? Mungkin iya, mungkin juga tidak.

Ada orang yang memang bisa dengan ksatria mengakui kesalahannya.

Namun, ada juga orang yang ‘udah dari sono’ nya keukeuh merasa dia tidak bersalah. Istilah Jawanya mungkin dengkal. Bisa – bisa, keputusan kita untuk nyalah nyalahin meski dengan dalih agar dia mengakui kesalahannya dan mau berubah ternyata berujung kepada ‘semakin terjerumusnya dia ke jurang yang lebih dalam lagi.’

So ? Jadi ?

Saya sih pernah ada dalam situasi seperti ini. Merasa mangkeeeelll banget dengan seseorang. Apa yang spontan saya lakukan ? Marah ? pastinya lah. Jengkel, nangis, kecewa, dendam, dan sumpah serapah satu per satu pun terucap. Hasilnya ? yang bersangkutan tidak juga berubah. Malah menjadi semakin parah.

Dan ketika peristiwa serupa kembali terjadi … kecewa saya jelas semakin menjadi bertambah. ibarat kata, luka lama masih lah belum sembuh dan mengering, sudah ditambahi dengan luka yang baru. cieeehhh….

Ketika kita berbaik hati kepada orang, memberinya amanah dan kesempatan, eh ternyata orang tersebut berkhianat.

Dikasi hati minta jantung.

Dikasi gopek minta gocap. #eehh

We give an inch, they asked a mile.

Lalu solusinya ? apakah saya kembali meluapkan emosi saya ?

Untuk kali ini, tidak. Untuk kali ini, saya belajar mengendalikan emosi. Saya belajar menahan amarah. Saya belajar menganalisa apa yang terjadi, apa yang melatarbelakangi dia melakukan tindakan tersebut.

Dan, akhirnya terkuak lah rahasia kelam masa lalu dari dalam dirinya. Tsaahh….

tidak akan saya ceritakan di sini tentang apa masalahnya. well, you know laah… tidak baik mengumbar privacy orang.

apa yang saya lakukan selanjutnya ? saya berusaha mendekati dan menyelesaikannya dengan jalan kelembutan, menyentuh hatinya. menularkan kebiasaan yang baik kepadanya. selalu mendoakan.

bukankah kewajiban sesama muslim salah satunya adalah mengajak saudaranya dalam kebaikan, dan senantiasa mendoakannya ?

dan alhamdulilah Mr. Muhandoko pun mendukung dan bahkan ikut berpartisipasi ambil bagian dalam “misi damai” kali ini.

batu yang keras sekali pun suatu saat akan berlubang jika ditetesi air terus menerus

Bismillahirrohmanirrahim…. doakan saya ya. semoga misi saya kali ini berhasil. diijabah sama Gusti Allah. dan yang bersangkutan semoga dibukakan pintu hatinya, semoga dilembutkan perasaannya. dan segera dijauhkan dari hal hal tidak baik.

Aamiin 🙂

Bersyukur

Salaam,
Kali ini mau nulis postingan yang “sedikit menyentuh hati”, boleh ya? Sedikit saja kok, gak banyak banyak.
Atau kalau hati para pembaca sekalian tersentuh “banyak”, anggap saja itu bonus dari saya 🙂

Nama, tempat, dan waktu kejadian dirahasiakan ya. Hanya saya, dia, dan Dia yang tahu 🙂

Kejadian ini sudah berlalu sekitar 2 minggu sejak saya posting tulisan ini. Mulai dari short story tentang saya yang picky eater aja dulu.

*saya narsis, itu sebabnya semua hal harus saya yang jadi fokus utamanya*
*wink*

Oke, saya picky eater. Saya suka pilih pilih makanan. Saya alergi sayur. It’s a big no no. Saya suka bosenan ama lauk makanan yang itu itu aja. Terdengar sombong ya? Dulu sih saya anggap enggak. Wong lidah lidah saya sendiri, duit juga duit saya sendiri. Terserah donk saya mau makan apa. Reward juga setelah sumpek ama kerjaan. Pelampiasannya ya pengen makan enak. Daaaaan satu lagi. Entah kenapa, kebiasaan atau bukan, setiap kali makan saya selalu sisain makanan 1-2 sendok.
Berlaku untuk makanan porsi kecil maupun besar. Saya sendiri juga heran. Dipaksa masuk pun juga kerasa eneg. Perut kerasa penuh.

Daaaannn….. suatu hari ada seseorang yang datang berkunjung. Dia dateng sambil bawa bungkusan kertas dan plastik kecil.
Dengan riang gembira dia bilang :” aku tadi sangu, ayok maem bareng bertiga. Sama mas Iwan juga.”
*spoiler : Iwan nama suami tercintah eikeh*
*oke, abaikan *

Dia ambil piring di dapur. Bungkusannya dibuka. Isinya nasi putih dan beberapa potong tempe goreng yang udah dingin gak ada rasanya.
“Ayok maem, apa aku nunggu mas Iwan aja ya? Maem bareng.”
Saya nolak dengan halus. Gak tega. Saya biarin dia makan sepuasnya.
Di saat yang sama pula, saya makan nasgor. I’ve told you before, saya punya kebiasaan aneh. Lidah saya sombong banget. Saya hanya makan beberapa sendok nasgor, lalu berkata,” Gak habis. Gak enak.”

Dia, dengan cekatan berkata ,” Eman kalau dibuang. Sini kumakan. Tapi aku nunggu mas Iwan ya. Biar nasgornya kumakan berdua sama mas Iwan.”

Saya miris. Nangis dalam hati. Duh, Gusti !
Di saat saya begitu rese’ nya jadi seorang picky eater, di saat yang sama pula ada orang lain yang jadi everything eater.
Di saat saya dengan anehnya punya bad habit sisain makanan di piring, di saat yang sama pula ada orang lain yang rela menghabis tandaskan makanan yang ada di hadapan mereka. Karena mereka tahu gimana susahnya mencari makan.
,
Saya dosa gak sih ? Sepertinya sih iya.
Di saat saya suka pilih pilih makanan, di saat yang sama pula ada orang lain yang bahkan tidak bisa memilih makanan. Karena memang tidak ada yang bisa dimakan.

Lanjut ya ceritanya. Ketika saya dan suami mengajaknya makan “agak enakan”, wuuuihhh dia keliatan seeeneeengg banget.
Soalnya gak pernah makan gituan.
Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk berbagi rejeki dan kebahagiaan dengan orang lain.

In sha Allah mulai sekarang saya pelan – pelan menanggalkan gelar picky eater. Mensyukuri rejeki yang telah diterima.
Karena di saat kita kenyang, masih ada saudara – saudara kita yang lain yang bahkan lupa bagaimana rasanya kenyang.
Jangan buang – buang makanan.
Jangan pilih – pilih makanan.
*tapi tentu saja, kewajiban untuk memilih makanan halal dan dari sumber yang halal tetap harus dijalankan*
Bersyukurlah, kita masih diberi cukup rejeki.
Bersyukurlah, jika kita diberi kelonggaran nikmat dan dapat berbagi dengan yang lain.
Bersyukurlah, jika hari ini kita masih dapat mengecap nikmatnya nasi beserta lauknya.
Bersyukurlah, maka Dia akan menambah nikmatmu.

*teruntuk seseorang yang ada dalam tulisan ini, tidak setiap saat saya bisa selalu membantumu.
Tapi untaian doa dan lantunan penggalan ayat suci yang selalu terkirim untukmu, semoga bisa menjadi penolongmu dari jauh 🙂